Cerita Sex Part 8: Kejutan Dari Kak Siescha.

Cerita Sex Part 8: Kejutan Dari Kak Siescha.by on.Cerita Sex Part 8: Kejutan Dari Kak Siescha.Lust Of My Nurse – Part 6 Part 8: Kejutan Dari Kak Siescha. Rintik hujan masih menetes dengan sangat deras nya diluar, menimbulkan udara dingin yang terasa sangat menusuk tulang. Kilatan halilintar dan suara petir yang memekakan telinga saling sahut menyahut, menyaingi gemuruh angin yang menerpa pepohonan. Hari itu badai sedang mengamuk, menimbulkan kecekaman setiap […]

Lust Of My Nurse – Part 6

Part 8: Kejutan Dari Kak Siescha.

Rintik hujan masih menetes dengan sangat deras nya diluar, menimbulkan udara dingin yang terasa sangat menusuk tulang. Kilatan halilintar dan suara petir yang memekakan telinga saling sahut menyahut, menyaingi gemuruh angin yang menerpa pepohonan. Hari itu badai sedang mengamuk, menimbulkan kecekaman setiap orang.

Aku yang siang itu masih berbaring di tempat tidur, semakin betah saja berkutat dengan selimut. Ku belit tubuhku dengan beberapa lapis selimut, mencari kehangatan yang bisa ku dapat disana. Ntahlah, hari itu aku senang sekali bermalasan di tempat tidur.

Seluruh tubuhku masih sangat capek dan lemas, karena kejadian tadi malam. Aku yang sudah bercinta dengan kak Siescha sedari siang, masih harus melayani Wulan dan Dessy sampai pagi menjelang. Jadilah aku sangat lelah hari itu. Malas untuk beraktifitas, bahkan untuk sekedar mandi saja.

Mengantuk, aku pun lantas memjamkan kembali kedua mataku. Namun gemuruh badai tak mengijinkanku untuk terlelap siang itu. Suara petir yang memekakan telinga, membuatku tetap terjaga siang itu. Namun aku tak hilang akal, segera ku ambil iPod lalu menyalakan lagu kesukaanku disana.

“Do you think it’s wrong of me to long for you despite how you taste?
I’m not the one to give up on you now.
I’ll never leave the ground without having to let go, yeah!
Every time I try I’m further from the sky.
I wish that I could let go, I’m lost in your beautiful trance.”
Suara musik yang menghentak di headset ku, segera mengiringku menuju ke alam mimpi. Mataku terpejam, dan kesadaranku pun mulai hilang. Aku sudah tak perduli lagi dengan badai yang masih mengamuk diluar sana. Aku sudah terlalu lelah untuk memikirkan itu semua.

————————Lust Of My Nurse————————

Sebuah dering telfon membangunkan ku dari tidur lelapku siang itu. Aku yang masih sangat mengantuk, segera menyapukan tanganku mencari benda yang tengah berdering itu malas. Tanpa membuka mata ataupun melihat layar hand phone ku, segera ku angkat telfon itu.

“Halloo?” ucapku malas.

“Halloo hubby.” ucap suara lembut di sebrang telfon.

“Kamu masih tidur yaa sayang? Lemes gitu ih.” lanjutnya.

“Mmmmm,, iyaa…”

“Hmmm, yaudah deh yang kalo gitu. Kamu tidur aja lagi gih yang. Tapi jangan lupa makan juga yaa.”

“Heemmm…”

“Oiya, ntar malem kamu main ke kostan yaa hubby. Ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu, penting!” ucap kak Siescha manja.

“Yaudah, byee hubby. I love you. Muach.” lanjutnya.

“Love you too.” jawabku sambil menutup telfon nya.

Aku yang masih sangat mengantuk, segera tenggelam kembali kedalam mimpi. Mungkin karna lelah, aku tertidur sangat lelap hari itu. Aku baru terbangun pukul 7 malam, dan itupun dibangunkan oleh ibuku yang mengetik pintu kamarku keras.

Aku akhirnya terbangun, dan menggeliat kan tubuhku malas. Kuperjapkan mataku yang masih mengabur, dan mencoba mengumpulkan seluruh kesadaranku. Mata dan seluruh badanku terasa sangat lengket. Maka akupun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum akhirnya makan malam bersama keluargaku.

Malam itu acara makan malam kelurgaku sedikit berbeda. Ternyata ayahku pulang hari itu, dia meliburkan kantor selama beberapa hari ke depan. Ayahku mengajak kami untuk berlibur ke pantai selama libur itu. Yang segera di sambut dengan antusias oleh ibu dan adik-adik ku.

Setelah makan, akupun melangkahkan kakiku menuju ruang keluarga. Tak lupa ku ambil sekaleng bir di lemari es. Setiap lemari es di rumah ku memang sengaja di isi oleh beberapa kaleng kesukaan ku dah ayahku. Sehingga kemana pun aku pergi, takan pernah kesulitan untuk mendapatkan bir di rumah itu.

“Gimana kabar kamu kak? Gimana kuliah nya?” ucap ayahku sambil duduk di sampingku.

“Baik kok yah. Kuliah nya ya gitu-gitu aja. Masih berkutat dengan psikologis dasar.” jawabku sambil menegak bir dingin di tanganku.

“Oh, yaudah kalo gitu. Pokoknya kamu harus serius kuliah nya, jangan sampe gagal. Soalnya mapel itu yang kamu minta kan, padahal ayah pengen nya kamu ngambil mapel management. Jadi kamu bisa menerus kan perusahaan ayah nanti nya.” ucap ayahku kembali menceramahiku dengan masalah yang sama.

Aku hanya mengangguk saja. Bosan, mendengar topik pembicaraan yang selalu sama setiap kali kami berbincang. Ku alih kan perhatianku pada hand phone ku, dan ternyata disana ada beberapa pesan yang masuk. Aku pun pamit ke kamar pada ayahku, menghindari obrolan yang membosankan darinya. Segera kulangkahkan kaki ku menuju kamarku, dan mulai kubuka satu per satu pesan itu.

Claude
Bes, dimana? Party yuk!
Wulan
Malem bes, lagi ngapain?
Dessy
Thanks buat semalem yaak bes. Gue sama Wulan puas banget.
Can’t wait to do that again. Hihihi…
Adnin
Bes, besok lu harus masuk kuliah. Bu Dina nanyain lu. Lu dah gak masuk kelasnya 2 kali loh.
Aldy
Bes, dimana? Si Claude ngajakin party! Lu dateng gak?
Tak kuhiraukan semua pesan BM itu. Aku hanya membaca semua nya saja, aku terlalu malas untuk mengetik balasan. Segera ku ubah status ku dengan ‘Busy’, dan menulis PM ‘On duty! Just leave message.’ di akun BM ku itu.

Kututup layar BM ku itu, dan segera membuka pesan SMS yang masuk. Ada beberapa unread messages disana. Salah satu pesan SMS itu tertera nama ‘My Lovely Nurse’, segera kubuka pesan itu dan mulai membalasnya.

My Lovely Nurse
Kamu dimana yang? Jadi dateng ke kostan kan malem ini?
Aku yang baru teringat dengan ucapan kak Siescha segera mengganti bajuku seadanya dan berlari ke garasi. Vibrator yang tempo hari ku beli, segera ku masukan kedalam kantong jaketku. Tak lupa aku meminta ijin sekaligus uang pada ayahku. Akhirnya kupacu motorku menuju kostan kak Siescha dengan sangat laju.

20 menit kemudian, akhirnya aku tiba di kostan kak Siescha. Aku segera memarkirkan motorku, lalu mengirim pesan pada kak Siescha dan tante Moniq guna mengecek situasi kostan. Bisa sangat berabe jika suami Tante Moniq ada disana.

Abes
Tante, di kostan aman gak sekarang? Aku mau kesitu.
Kirimku pada Tante Moniq.

Abes
Yang, aku udah di depan kostan nih.
Kirimku pada kak Siescha.

Kunyalakan sebatang rokok, sambil menunggu balasan SMS dari mereka. Karna bosan, akhirnya aku melajukan motorku menuju supermarket di dekat situ. Aku terlalu terburu-buru memacu motorku tadi, sampai kelupaan untuk membeli makanan untuk kak Siescha tadi.

Aku membeli beberapa kaleng soft drink dan camilan disana. Tak lupa sebungkus rokok dan sebotol bir dingin. Ketika sedang mengantri di kasir, handphone ku berdering lantang. Ternyata ada sebuah SMS masuk ke hand phone ku, kulihat tertera nama ‘my lovely nurse’ disana. Lantas ku buka SMS itu, dan mulai membacanya.

My Lovely Nurse
Kamu di depan mana yang? Aku ini udah di depan kostan. Kamu dimana? Maaf baru balas, tadi hand phone nya lagi di charge.
Abes
Iyaa gpp yang. Bentar, aku lagi di supermarket ini. Tadi lupa belom beli rokok. Oiya, keadaan kostan aman gak yang?
My Lovely Nurse
Aman kok yang, cepetan ke kostan. Aku tungguin di kamar yaa hubby.
Abes
Okee.. Telanjang yaa sayang. Hehe…
My Lovely Nurse
Ih Kamu! Fikiran nya memek terus. Cepetan aja ke sini, ada yang mau aku omongin sama kamu. Penting.
Abes
Hehe… Okee.
Aku pun membayar semua belanjaanku, lalu segera memacu motorku menuju ke kostan kak Siescha dengan cepat. Kuparkir motorku di halaman Warnet 24 jam di samping kostan itu, lalu melangkahkan kakiku memasuki kostan itu.

Aku sempat berpapasan dengan para penghuni kost itu. Mereka sedang berdiam di ruang TV sambil mengenakan piyama yang berbahan tipis, sehingga lekuk tubuh mereka menerawang dengan jelas di balik pakaian itu. Aku hanya bisa meneguk ludah melihat itu semua, lalu beranjak memasuki kamar kak Siescha.

Ternyata pintu kamar kak Siescha terkunci dari dalam, aku pun harus mengetuknya. Kudengar orang di dalam sana segera berjalan menuju pintu dengan tergesa. Kak Siescha lalu menengokan wajahnya di kaca, lalu tersenyum ketika melihat ku. Dia segera membuka pintu itu, dan mempersilahkan ku masuk.

Aku sempat terkejut ketika melihat keadaan kak Siescha yang sedang telanjang itu. Tubuhnya hanya di balut scarf kecil dan sangat transparan. Membuat penisku ereksi sedikit demi sedikit. Karna tak tahan, segera ku terkam tubuh kak Siescha dan mulai menggerayanginya.

Kutarik lepas scarf yang menutupi tubuhnya itu dan kulempar begitu saja. Mulutku segera memagut mesra bibir mungil kak Siescha. Sedang kan kedua tanganku mulai bergerilya menjamah setiap lekuk tubuh kak Siescha. Memberikan rangsangan ke setiap bagian sensitif tubuhnya.

Takut ada orang yang mengganggu, aku lantas menutup dan mengunci pintu kamar kak Siescha. Aku pun mulai melucuti pakaian ku sendiri dengan tergesa, sampai tak ada satu benangpun yang menempel di tubuhku.

Segera kuambil vibrator di kantong jaketku, lalu mendekati tubuh telanjang kak Siescha yang tengah terbaring di depan ku dengan pasrah. Kak Siescha menatapku sayu, dan tersenyum nakal ketika melihat penisku yang mulai ereksi.

“Ih, kontol kamu udah ngaceng aja tuh yang. Hihi… Lucu.” ucap kak Siescha.

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan kak Siescha yang vulgar itu. Ada suatu kebanggaan tersendiri untuk ku, karna aku telah berhasil merubah wanita baik-baik seperti kak Siescha menjadi seorang wanita seperti itu. Yaa, seorang wanita yang tak pernah malu ataupun takut melontarkan kata-kata kotor dan vulgar.

Segera kudekati tubuh telanjang kak Siescha di ranjang, dan mulai memagut bibirnya mesra. Kedua tanganku segera bergerilya kembali di tubuh telanjang nya, merangsang setiap bagian sensitif di tubuh suster itu. Membuat kak Siescha menggeliat dibawah tubuh telanjang ku.

Ku lepas kan pagutan bibirku, dan mulai berdiri di atas tubuh kak Siescha. Penisku sudah sangat menegang di selangkangan ku, dan tanpa menunggu lama lagi, kutarik kepala kak Siescha menuju penisku. Dia yang tahu apa keinginanku, segera mengulum penisku dengan gemas.

Kak Siescha menghisapi penisku dengan sangat kuat. Lidahnya membelit dan menjilati setiap lekuk penisku, membuatku merem melek menikmati nya. Kak Siescha memaju mundurkan kepalanya di penisku, membuat penisku yang hanya bisa masuk setengah bagian saja mulai menggesek dinding mulutnya dengan mantap.

35 menit sudah kak Siescha mengoral penisku, membuatku merem melek merasakan nikmat. Akhirnya kupaksa kak Siescha untuk mendeep throat penisku, yang langsung diamini oleh suster itu.

Seluruh penisku masuk kedalam mulut kak Siescha dengan sudah payah. Memang, dia belum terbiasa dengan ukuran penisku yang besar di mulutnya itu. Namun dengan sedikit dorongan kasar, akhirnya penisku masuk seluruh nya memenuhi tenggorokan nya. Membuat kak Siescha sedikit tercekat karna tercekik oleh penisku itu.

Segera kupacu pinggulku dengan tempo sedang, membuat penisku keluar masuk tenggorokan kak Siescha dengan mantap. Kak Siescha tak bisa melakukan apapun, selain membiasakan diri menerima sodokan penisku dengan pasrah. Suster itu sudah mengerti bahwa aku akan memintanya untuk melakukan hal itu lebih sering kedepannya.

Sesekali kak Siescha tersedak oleh sodokan penisku yang terlalu dalam di tenggorokan nya. Dia mencoba untuk memuntahkan penisku di dalam mulutnya itu, namun sia-sia saja. Kulihat kedua mata kak Siescha sudah memerah, dia seperti ingin menangis. Membuatku makin bernafsu menggenjot mulutnya.

Tak lama berselang, akhirnya orgasme pertamaku menjelang. Kupegangi kepala kak Siescha dengan sangat erat, sambil memacu pinggulku makin cepat dan dalam di mulutnya. Gesekan tenggorokan nya yang sangat hangat dan berlendir itu akhirnya membuat spermaku menghambur keluar.

Kutarik kepala kak Siescha makin lekat di selangkangan ku, membuat penisku masuk makin dalam di tenggorokan nya. Seluruh spermaku langsung meluncur dengan deras di tenggorokan kak Siescha. Membuat kekasihku itu tercekik dan tersedak oleh semburan spermaku yang banyak di tenggorokan nya.

“Aaaggghh yang, enak banget mulut kamu. Ooouuggghh…” ucapku masih memegangi dan menekan kepala kak Siescha dengan erat di selangkangan ku.

Dan ketika orgasme ku sudah mereda, kutarik lepas penisku dari dalam mulut kak Siescha dengan perlahan. Kak Siescha langsung terbatuk-batuk, dan mengap-mengap mencari oksigen. Sebagian lelehan spermaku keluar dari mulutnya itu, dan langsung menetes ke lantai.

“Uhhuuk, uhuukk, sperma kamu banyak banget yang. Uhuuk… Sampe gak ketelen semua… Uhuukk.. Eheemmm…” ucap kak Siescha disela tarikan nafasnya yang dalam.

Mendengar itu, aku hanya bisa tersenyum. Ku usap kepala kak Siescha yang sekarang sedang membersihkan sisa sperma yang masih menempel di penisku. Dan ketika sudah selesai, segera ku kecup kening kekasihku itu dengan sangat mesra. Lalu kubaringkan tubuh kak Siescha dan mulai menyalakan vibrator yang tadi ku bawa.

“Sorry yaa sayang. Muacch.. Sekarang biarkan aku yang memuaskan kamu malam ini…” ucapku lembut pada orang yang kucintai itu.

Kak Siescha hanya mengangguk lemah sambil tersenyum padaku. Tatapan matanya sudah sangat sayu. Tanpa menunggu waktu lama lagi, kembali ku kecup mesra bibir kak Siescha yang merekah. Kedua tanganku kembali menggerayangi tubuh telanjang nya itu dengan gemas.

Kustel vibrator itu di tingkat yang sedang. Dan dengan perlahan ku tempelkan di puting kak Siescha yang sudah sangat mengacung tegang itu. Ku putari aerola kak Siescha dengan vibrator, sambil sesekali kutekan di puting nya. Hal itu kontan membuat kak Siescha menggeliat dan mendesah di sela pagutan bibirku.

Kulakukan hal itu selama beberapa saat. Ku mainkan vibrator itu di puting kiri dan kanan nya bergantian, membuat kak Siescha menggelinjang. Akhirnya kulepaskan pagutan bibir kami, sadar bahwa kak Siescha tak bisa mendesah dengan bebas. Kusapukan mataku menuju selangkangan kak Siescha, yang tentu saja membuatku sangat senang melihat apa yang telah terjadi disana.

Vagina kak Siescha sudah sangat membasah dibawah sana, membuat lubang itu mengkilat oleh cairan vaginanya. Sambil tersenyum, ku pindahkan vibrator itu menuju vagina kak Siescha. Dan langsung ku tempelkan benda itu tepat di clitoris kak Siescha yang sudah membengkak itu.

“Aaagggghhh yang, apa yang kamu lakuin sama memek aku? Ooouuggghh… Geli bangeetth yang… Aaaggghh…” ucap kak Siescha dengan tubuh menggelinjang.

Kedua tangan kak Siescha langsung mencengkram tanganku, seakan ingin menghentikan aktifitasku di vaginanya itu. Namun semua itu sia-sia saja. Tenaga nya sudah sangat lemah karna nikmat untuk menghentikan gerakan tanganku di vaginanya itu.

Kumainkan vibrator itu di vagina kak Siescha. Ku masuk kan benda itu kedalam vaginanya dengan dalam, lalu kutarik kabelnya perlahan, sehingga benda itu keluar kembali. Sesekali ku tempelkan vibrator itu di clitorisnya, dan ku gesek-gesekan disana. Membuat kak Siescha mendesis dan mendesah makin keras.

Karna gemas melihat tingkah dan ekspresi wajah cantik kak Siescha, akhirnya ku stel vibrator itu ke tingkat maksimal. Dan langsung kumasukan kedalam vagina kak Siescha dengan sangat dalam. Benda itu bergetar makin keras dan cepat di dalam vagina kak Siescha. Membuat suster cantik itu terlonjak kaget.

Kak Siescha hanya bisa menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karna ulahku itu. Pinggulnya bergerak ke kanan ke kiri, mencoba meredam getaran vibrator di lubang vaginanya. Sampai tak lama kemudian, gelombang orgasmenya pun menyembur dengan sangat dahsyat.

“Yang, aak, akuu kelu aaarrrggghhh… Ouuugggh yang….” Teriak kak Siescha.

Seluruh tubuh telanjang kak Siescha mengejang dan melengkung keatas selama beberapa detik. Lalu ambruk di ranjangnya yang sudah basah oleh keringat tubuhnya. Kepalanya mendongak, kedua matanya terpejam, dan mulutnya membuka lebar membentuk huruf ‘O’.

Cairan bening yang lengket menyembur dari dalam lubang vaginanya dengan deras. Cairan itu kontan membasahi tanganku yang masih memegangi vibrator di clitorisnya dengan sangat banyak. Bahkan sebagian mengenai tubuh dan pahaku yang berada tepat di depan lubang mungil itu. Rupanya kak Siescha mendapatkan squirt hari itu.

Langsung ku turun kan kepalaku menuju ke vagina kak Siescha. Cairan cintanya masih merembes dari lubang itu, dan tanpa menunggu lama lagi mulai kujilati lubang itu dengan sangat intens. Ku jilati vagina basah kak Siescha, sambil sesekali kuhisap cairan yang merembes keluar dengan sangat rakus.

Mendapat serangan seperti itu, kak Siescha kembali menggeliat dan mendesah. Kedua tangan nya langsung menjambak rambutku dengan gemas, dan menekan kepalaku menuju vaginanya lebih dekat lagi. Kini wajahku sudah menempel ketat di lubang vagina basahnya, membuat ku kesulitan untuk bernafas.

“Ooouuggghh yang, kamu nakal! Aaaggghh… Terus yang, jilati memek basah ku itu. Aaaggghh, iyaa yang. Aagghhh, hisap yang kuat yang.. Hisapin… Ooouuggghh… Enak bangeeth yang…” ceracau kak Siescha.

Kuturuti saja semua keinginannya itu, aku ingin membuatnya bahagia malam itu. Mulutku kembali menjilati setiap inchi vagina kak Siescha, sambil sesekali ku koreki lubang itu dengan lidahku. Membuat lendir vaginanya merembes makin banyak membasahi wajahku.

Desahan dan erangan kak Siescha kembali menggema memenuhi ruangan kost itu. Kami sudah tak peduli lagi apabila orang di luar kamar itu mendengar ataupun mengetahui aktifitas kami di dalam. Yang kami peduli kan hanyalah kepuasan dari pasangan kami masing-masing.

Mulut dan lidah ku masih sibuk menghisap dan menjilati vagina kak Siescha. Kedua tanganku tak kubiarkan diam saja. Kuambil kembali vibrator yang tergeletak di lantai, dan kunyalakan kembali benda itu. Dalam tingkat yang maksimal, kembali ku tempel kan benda itu di clitoris kak Siescha, dan menggesek di sana.

“Aaaggghh yang, geli… Aggghhh…. terus yang,, aku mau orgasme lagi… Aggghhh… Terus yaaaang. Ouuuggghhh… Fuck! Vibrator itu geli bangeeettth…” desah kak Siescha menggila.

Dan tak lama berselang, dia pun mengalami orgasmenya kembali. Cairan manis dan agak sepat itu menyembur dari dalam vaginanya dengan sangat deras, yang langsung kuhisap habis. Tangannya menjambak rambutku dengan sangat kuat, membuatku agak kesakitan.

Seluruh tubuh kak Siescha mengejang dan bergetar hebat menikmati orgasmenya. Kedua pahanya menjepit kepalaku kuat, membuatku kesulitan untuk bernafas. Namun setelah orgasmenya mereda, seluruh tubuh kak Siescha tergeletak tak bertenaga di ranjangnya. Nafasnya kembang Kempis satu satu, dan tubuhnya bergetar lemah dihadapanku.

“Gimana yang? Enak gak?” ucapku sambil menjilati cairan kak Siescha yang masih menempel di bibir dan tanganku.

Kak Siescha hanya mengangguk lemah. Matanya masih terpejam, menikmati orgasme nya yang kedua malam itu. Kedua pahanya mengangkang lebar, dan kedua bongkahan payudaranya naik turun seirama deru nafasnya. Vaginanya sudah sangat mengkilat karna basah. Sungguh, pemandangan yang sangat menggoda.

Karna sudah sangat bernafsu, segera ku posisi kan pinggulku di antara pahanya. Kuangkat kedua kaki kak Siescha, dan ku letakan di kedua bahuku. Dirasa sudah dalam posisi yang strategis untuk menggenjot tubuhnya, langsung kuarahkan penisku tepat di depan vagina kak Siescha. Ku bimbing kepala penisku itu menggesek lubang vaginanya nya dengan pelan, membuat cairan cinta kekasihku melumuri kepala penisku.

“Aaaggghh, bentar yang. Aku masih lemes… Ssshhh… Istirahat dulu 5 menit yaa hubby. Please…” ucap kak Siescha lemah.

“Tapi aku udah gak kuat yang…” keluhku.

“Please yang, aggghhh… Aku capek banget. Ssshhhh…” Desis kak Siescha memelas.

“Hmmm… Yaudah deh.” ucapku mengalah.

Kak Siescha tersenyum dan menarik kepalaku mendekat. Dia langsung mengecup bibirku dengan mesra. Kedua tangannya langsung mendekap tubuhku erat, seperti takut kehilangan ku. Kami akhirnya berciuman selama beberapa saat dengan sangat mesra.

“Thanks hubby. Love you.” ucap kak Siescha setelah pagutan mulut kami terlepas.

“Anything for you, dear.” jawabku sambil mengecup keningnya.

“Oiya, tadi katanya ada yang mau kamu omongin sama aku. Apa itu yang?” lanjutku sambil meremasi kedua bongkahan payudaranya lembut.

“Mmmm,, apa yaa? Emang kamu mau tau banget yaa sayang?” ucapnya manja.

“Iyaalah sayang. Ayoo, cepetan bilang.”

“Mmmm, kasih tau gak yaa? Hihihi… ”

“Hmmmm, jadi mau dipaksa nih?” ucapku sambil kembali menyalakan vibrator di tingkat maksimal.

“Iyaa, iyaa.. Aku kasih tau yang.” ucap kak Siescha kecut.

“Huuu, gak asik ah. Maenannya vibrator mulu.” lanjutnya.

“Yaa habis kamu sih, pake lama segala. Yaudah, sekarang bilang, apa yang mau kamu omongin.”

“Mmmm, apa yaa? Hihihi…” ucap kak Siescha manja.

Karna gemas, akupun menempel kan vibrator itu di clitoris kak Siescha. Ku gesekan benda itu dengan kuat di sana. Getaran vibrator yang maksimal di clitorisnya itu kontan membuat kak Siescha terjengkat kaget. Seluruh tubuhnya bergidik, dan menggelinjang. Kedua pahanya langsung menutup kuat, dan tangannya mencengkram tanganku mencoba menahan gesekan vibrator itu di clitorisnya.

“Aaaggghh yang… Ampuuuunn…. Ooouuggghh,…” desah kak Siescha sambil meronta.

“Iyaa, iyaa… Aku omongin sekarang… Aaagggghhh… Ooouuuggghhh, geli yang….” lanjutnya.

“Yaudah, omongin aja sekarang.” ucapku sambil menekan vibrator itu dengan lebih kuat di clitorisnya.

“Aaaaggghhh,, hentiin dulu yang… Agggghhhh… Geli bangeett… Ooouuuggghhh… Lepas,, lepasin dulu vibratornya. Ooouuggghh yaaaanggggg….” Jerit kak Siescha.

Ternyata kak Siescha mendapat orgasme nya kembali saat itu. Seluruh tubuhnya kembali menegang dan melonjak-lonjak menahan geli di clitorisnya. Yaa, saat itu aku tidak menghentikan gesekan vibrator di clitorisnya. Saat itu aku ingin memberikan hukuman untuk kak Siescha.

“Aaaaggghhh yang, ampuuunn… Lepas, lepas dulu vibratornya…. Ooouuggghh please yang…” keluh kak Siescha.

“Siapa suruh bikin aku kesel. Ini hukuman buat kamu yang!” ucapku sambil menggesek clitorisnya makin cepat.

“Aaaagghhh, iyaa maaf yang.. Aggghhh, please… Aaaggghh yang.,.”

“Ga ada maaf yang! Cepetan bilang!”

“Aaagghhhh…. Aak, akkuuu… Aku hamil yang…. Aggghhh….” Jerit kak Siescha kembali mendapatkan orgasme.

Mendengar hal itu, aku bagaikan ketimpa durian runtuh. Sakit, kaget, dan senang yang tak terkira menerpa hatiku secara bersamaan. Seluruh tubuhku langsung terdiam seketika. Tubuhku kehilangan kesadarannya selama beberapa saat. Aku tenggelam dalam lamunanku saat itu juga.

Menyadari bahwa aku tengah melamun, kak Siescha segera melepaskan vibrator di clitorisnya. Benda itu langsung dilemparnya jauh-jauh. Seluruh tubuhnya bergetar setelah diterpa multiple orgasme beberapa saat lalu. Dia lalu menarik tubuhku menimpa tubuhnya, dan langsung mencium bibirku mesra.

Mendapat ciuman secara tiba-tiba, akhirnya akupun tersadar dari lamunanku. Aku langsung membalas ciumannya tak kalah mesra. Kedua tanganku langsung mendekap tubuh kak Siescha dengan sangat erat. Aku ingin mengungkapkan perasaan ku saat itu pada kak Siescha dengan ciuman dan dekapan tubuhku.

“Are you serious dear?” ucapku setelah pagutan bibir kami terlepas.

“Sure. How do you feel?” ucap kak Siescha tersenyum.

“Mmmm, complicated dear.”

“Why? This is your child hubby. Our child.”

“Yeah, I know. But….”

“But what? Huh? You will be a father now!” ucap kak Siescha sambil menatap mataku tajam.

“Mmmm, I feel so great. Because I’ll be a father. But,, I’m not ready to marry you soon.” ucapku sambil mengusap pipi kak Siescha.

“If you ask me to marry you, I do dear. I do! But, I’ll marry you when I was ready. Not now.” lanjutku.

“But, why?”

Aku tak mampu menjawab pertanyaan dari kak Siescha. Aku sudah tak tahu harus berkata apa pada kekasihku itu. Raut wajah kak Siescha mulai murung, senyum yang selalu menghiasi wajah cantik nya lenyap seketika. Dan kulihat kedua matanya mulai berkaca-kaca. Sungguh, hatiku terenyuh melihat ekspresi wajah kak Siescha saat itu.

Ku kecup bibir kak Siescha mesra, dan kudekap tubuh telanjangnya dengan sangat erat. Aku ingin menyampaikan isi hatiku saat itu pada kak Siescha dengan ciumanku itu. Aku ingin dia tahu bahwa aku sangat mencintai nya, dan akan menikahinya nanti, ketika aku siap secara mental dan financial.

“Sorry dear.” ucapku menyesal padanya.

Kak Siescha tak mengatakan apapun. Dia hanya menunduk lesu, sambil mendekap kedua kakinya. Mata indahnya mulai menitikan air mata. Yaa, kak Siescha mulai terisak saat itu. Sungguh, membuat hatiku seperti tertabrak truck!

Ku berani kan diriku untuk meyakinkan kak Siescha. Ku angkat dagu mungil kak Siescha dengan lembut. Dia menatapku sambil terisak. Air matanya menetes dari mata indahnya, dan mengalir ke pipinya. Langsung saja ku gerakan tanganku untuk menyeka air mata di pipinya itu.

Kedua tanganku memegangi pipi kak Siescha, dan mengusapnya lembut dengan jempolku. Ku angkat dagunya dengan perlahan, sampai tatapan kami berdua beradu. Aku menatap matanya tajam, lalu ku kecup kembali bibirnya lembut.

“Dear, kamu tau kan kalo aku itu sayang sama kamu. Kita udah pernah berjanji untuk selalu bersama apapun alasan nya. Kamu masih ingat kan dengan janji kita itu?” ucapku lembut.

“Hal kaya gini gak bisa misahin kita yang. Hal ini hal kecil, kita bisa menghadapi hal ini bersama.” lanjutku.

“Hal kecil katamu? Are you kidding me? Hello yang, I’m pregnant now! Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku nanti yang?” ucap kak Siescha dengan nada marah.

“Terus apa yang kamu mau sekarang? Apa yang kamu harapkan dari aku sekarang yang?”

“Kamu fikir aja sendiri!” jawab kak Siescha kecut.

Sungguh, jawaban yang paling membingungkan sekaligus menyakitkan untuk ku. Kulihat kak Siescha mulai meneteskan air matanya kembali, kali ini makin deras. Dia membalikan tubuhnya membelakangiku. Rupanya dia ingin aku memikirkan jalan keluar dari masalah ini sendiri.

“Hey dear, look at me.” ucapku sambil mencoba membalikan kembali tubuhnya.

Namun kak Siescha sama sekali tak bergeming. Dia tetap kukuh membalikan tubuhnya membelakangiku. Membuatku makin serba salah. Akupun menarik nafas dalam, dan mulai mendekap kak Siescha dari belakang. Kukecup bahu nya lembut.

“Yang, aku tau kalo kamu kecewa sama aku. Tapi aku cuman pengen kamu ngerti, kalo aku bakalan nikahin kamu. Aku sayang sama kamu.” ucapku lembut di telinganya.

“Tapi hal itu gak cukup! Hal itu gak berpengaruh apapun! Mungkin kamu memandang masalah ini dengan mudah. Yaa, hal ini memang gak berpengaruh buat hidup kamu. Tapi, apa kamu pernah berfikir gimana rasanya jadi aku?” ucap kak Siescha disela tangisnya.

“Ini aib buat keluarga aku yang. Kamu kan udah tau kalo papa aku itu dari kalangan aparat. Apa yang bakalan orang bilang sama semua keluargaku nanti, bila mereka tau bahwa aku telah hamil diluar nikah? Apa yang bakal orang tua aku rasakan jika hal itu sampai terjadi yang?” lanjutnya.

“Kita jalani hal ini bersama yang. Aku janji, aku bakalan tanggung jawab.”

“Itu gak cukup!” ucap kak Siescha dengan nada yang tinggi.

Aku sudah tak tahu harus melakukan apapun saat itu. Otak ku sudah sangat beku untuk berfikir dengan jernih. Akhirnya ku tarikan nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan. Ntah mendapat fikiran dari mana, aku melontarkan kata-kata yang tak pernah terfikirkan olehku sebelum nya.

“Okee, besok kita kerumah orangtuaku. Kita bilang sama mereka tentang hal ini. Kebetulan besok semua anggota keluargaku akan pergi liburan bersama. Mungkin, moment itu tidak tepat. Mereka pasti sangat marah mendengar hal ini.” ucapku lirih.

“But, I’ll take the risk now. I’ll do anything for you. Whatever makes you happy! Cause, I love you dear.” lanjutku sambil mendekap tubuhnya erat.

Mendengar ucapan itu, kak Siescha segera membalikan kembali tubuhnya menghadap ku. Matanya mulai menatapku haru. Sebuah senyuman kembali terlukis di wajah cantik nya itu. Membuat rona kecantikan kak Siescha terpancar kembali.

“Are you serious?” ucap kak Siescha meyakinkan.

“Sure. Besok kita berangkat pagi-pagi.” ucapku sambil menatap kedua matanya.

“Thanks hubby!” ucap kak Siescha sambil memeluk tubuhku erat.

Kak Siescha sangat bahagia mendengar ucapanku itu. Dia mendekap erat tubuhku, lalu mulai memagut bibirku mesra. Dia ingin mengungkap kan rasa gembiranya saat itu padaku dengan sebuah ciuman mesra di bibirku.

Kami pun berpagutan selama beberapa saat. Namun ciuman mesra itu berubah menjadi sangat panas. Rupanya kak Siescha sudah terangsang kembali saat itu, terbukti dari deru nafasnya yang kian memburu.

“Yang, masih mau ngentot gak?” ucap kak Siescha manja di telingaku.

Mendengar itu, penisku kembali ereksi dengan perlahan. Deru nafas kak Siescha di telingaku membuat seluruh darah ku berdesir. Akupun mengangguk dengan sangat antusias, menyetujui ajakan kekasihku itu.

Segera ku tarik tubuh telanjang kak Siescha dengan cepat. Ku ciumi kembali bibir mungilnya itu, sambil mulai menggerayangi setiap lekuk tubuh kak Siescha yang telanjang. Namun kak Siescha meronta, dia mendorong kuat tubuhku. Membuatku sedikit kebingungan dengan keinginannya.

“Kenapa yang?” ucapku bingung.

“Hmmm, dasar mesum! Sabar dikit napa yang. Tiap denger ngentot, langsung berubah sifat kamu.” ucap kak Siescha ketus.

“Sekarang kamu rebahan aja yang. Biarkan aku yang memuaskan kamu malam ini.” lanjutnya sambil tersenyum manis.

“Habis kamu itu menggairahkan banget tau yang. Bawaannya pengen ngentotin terus. Hehe…” ucapku tersipu.

Aku pun langsung merebahkan badanku di ranjang kak Siescha yang sudah basah oleh keringat kami berdua. Penisku sudah sangat menegang, berdiri tegak siap untuk bertempur. Ku lipat kedua tanganku dibawah kepalaku, dan tersenyum pada kak Siescha.

Kak Siescha pun mulai berdiri diatas tubuhku. Dia mulai meliuk-liukan tubuh telanjang nya dihadapanku dengan sangat lincah. Kedua payudaranya ikut bergoyang ke kiri ke kanan seirama dengan goyangan pinggulnya. Membuatku makin tak sabar untuk segera menjamah nya.

Kak Siescha bergoyang dengan sangat lincah, sambil sesekali mengocok vaginanya sendiri tepat di atas wajahku. Suster itu sungguh sangat menggodaku dengan tarian Streapteas nya. Sungguh, pemandangan yang sangat erotis!

Melihat penisku yang sudah ereksi sempurna, kak Siescha pun mulai menaiki tubuhku. Dia mulai men service tubuhku dengan apapun yang bisa dia berikan. Mulai dari mandi kucing, deep throat, dan amazing sex tentunya.

Malam itu kami bercinta dengan sangat menggebu. Kami melakukannya dengan berbagai macam gaya. Mulai dari missionaris, doggy, wot, spoon, dan semua gaya yang pernah kami tahu.

Malam itu kami bercinta sampai pukul 4 pagi. Kami bercinta seperti orang yang kesurupan. Sudah tak terhitung lagi berapa kali kami mengalami orgasme ataupun squirting malam itu. Yang kami tahu hanya lah seluruh tubuh yang sangat lemas, dan ranjang yang sangat basah.

————————Lust Of My Nurse————————

Beberapa pasang mata yang mengintip di sela jendela akhirnya menghilang. Ntah siapa saja yang telah melihat pergumulan kami beberapa saat lalu, kami tak perduli! Yang kami tahu, mereka semua perempuan. Nampak jelas dari sorot mata mereka yang sayu dan bersoft lense.

Kelelahan, kami akhirnya terlelap sambil berpelukan. Seluruh tubuh kami dipenuhi oleh peluh, bekas cupangan, dan cairan orgasme kami masing-masing. Sebuah senyuman kepuasan terlukis jelas di wajah kami berdua. Sungguh, malam yang sangat melelahkan.

To Be Continue…

Author: 

Related Posts

Comments are closed.