Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 12

Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 12by on.Cerita Sex Pendekar Naga Mas – Part 12Pendekar Naga Mas – Part 12 Ong Bu-jin pun menyambutnya dengan mata berbinar, coba kalau di situ tak banyak orang, dia pasti sudah menubruk ke muka, memeluk pemuda itu dan menciumnya dengan hangat. Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Bwe Si-jin baru berkata sambil tersenyum, “Perlu kalian ketahui, kedua orang gembong iblis yang barusan datang […]

7oppKHu1ei 39lJKo0hlc 99wE67KJsrPendekar Naga Mas – Part 12

Ong Bu-jin pun menyambutnya dengan mata berbinar, coba kalau di situ tak banyak orang, dia pasti sudah menubruk ke muka, memeluk pemuda itu dan menciumnya dengan hangat.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Bwe Si-jin baru berkata sambil tersenyum, “Perlu kalian ketahui, kedua orang gembong iblis yang barusan datang menyatroni itu adalah dua orang Tongcu perkumpulan Jit-sengkau, yang satu adalah Tongcu dari ruang naga hijau, sedang yang lain adalah Tongcu dari ruang harimau putih.”

“Kalau dianalisa dari perkataan mereka berdua tadi, kelihatannya Su Kiau-kiau sudah memutuskan untuk muncul secara terbuka dalam dunia persilatan, itulah sebabnya mereka mengutus kedua orang itu untuk datang membujuk Ong-heng agar bersedia bergabung dengan perkumpulan mereka.”

Semua orang hanya manggut-manggut tanpa berkata.

Setelah memandang Cau-ji sekejap, kembali Bwe Si-jin berkata, “Cau-ji, ditinjau dari teriakan lawan yang bisa menyebut ilmu pukulan penghancur mayatmu, apakah sebelum kejadian hari ini, kau pernah menggunakan cara yang sama untuk menghabisi nyawa para pengejar itu?”

“Betul! Hanya saja waktu itu aku hanya ingin kabur secepatnya sehingga sama sekali tidak sengaja.”

“Hahaha, aku bukan bermaksud menyalahkan dirimu, kenyataan memang cara inilah yang paling jitu untuk menakut-nakuti mereka, cuma sekarang urusannya jadi sedikit repot, dengan kematian kedua orang ini maka setiap saat pasti ada anggota Jit-seng-kau yang bakal mencari jejak mereka hingga ke sini.”

Mendengar perkataan ini, semua orang menjadi tertegun.

Tiba-tiba Cauii berkata, “Paman, bukankah kau pandai menyaru muka, selain itu juga banyak tahu tentang rahasia mereka, bagaimana jika kita berdua menyamar menjadi kedua orang kakek itu?”

Sekali lagi semua orang tertegun.

“Jangan!” cegah Si Ciu-ing kuatir, “terlalu berbahaya!”

Sebaliknya Ong Sam-kongcu malah tertawa terbahak-bahak, serunya, “Hahaha, aku setuju sekali!”

“Tapi Jit-seng-kau bukan perkumpulan kecil, jangan dianggap mainan.”

“Hahaha, sekarang kungfu yang dimiliki Cau-ji sangat tangguh, tidak setiap orang dapat mengganggunya, apalagi ada saudara Bwe yang melindungi, aku sama sekali tak kuatir. Dulu, Yaya pernah memimpin para jago untuk membasmi Jit-seng-kau, bila hari ini Cau-ji pun dapat membasmi Jit-seng-kau sekali lagi, jelas prestasi ini merupakan prestasi yang luar biasa.”

“Enso, kau tak perlu kuatir,” janji Bwe Si-jin pula dengan suara nyaring, “setelah berhasil menyusup ke dalam markas besar Jit-seng-kau, aku dan Cau-ji hanya akan membasmi Su Kiau-kiau beserta ketiga orang Sumoaynya, aku rasa tak ada yang perlu dikuatirkan.”

Mendengar perkataan ini, meski dalam hati menyadari persoalan tak bakal begitu sederhana, namun Si Ciu-ing merasa rikuh untuk membantah, akhirnya dia hanya berpesan, “Cau-ji, kau harus menuruti perkataan paman Bwe, jangan sembrono!”

“Aku tahu, ibu!”

Melihat semua orang sudah tak ada usul lain, Bwe Si-jin segera berkata sambil tertawa tergelak, “Hahaha, silakan kalian lanjutkan mengobrol, aku harus mengambil kembali tongkat kepala ular itu, karena alat itu sangat penting bagi penyaruanku nanti.”

Habis berkata ia tertawa terbahak-bahak dan beranjak pergi.

Raja hewan pun berpesan kepada Cau-ji, “Cau-ji, mulai besok akan kuajarkan ilmu pukulan Tui-hong-ciang-hoat dari Ho Ho-wan kepadamu, dengan menguasai ilmu pukulan andalannya, penyamaranmu akan semakin sempurna.”

“Yaya, siapa sih Ho-ho-wan (gemar bermain) itu?” Ong Sam-kongcu tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, Cau-ji, dialah gembong iblis yang baru saja kau hajar hingga hancur lebur badannya, orang she Ho itu punya tangan kiri merah dan tangan kanan berwarna hitam, karenanya disebut Ho Ho-wan.”

“Ooh, rupanya dia, heran, kenapa mencari nama pun yang aneh-aneh, wah, sekarang dia benar-benar bisa bermain terus di neraka.”

“Saudara tua Ho Ho-wan mempunyai nama yang lebih menarik lagi,” lanjut si Raja hewan, “dia bernama Ho Ho-cia (gemar makan).”

“Ho Ho-cia, Ho Ho-wan! Aaah, tahu aku sekarang, waktu masih kecil dulu mereka berdua pasti kurang makan kurang permainan hingga diberi nama Ho Ho-cia dan Ho Ho-wan, bukan begitu?”

Semua orang tertawa terbahak-bahak. Waktu itu kebetulan Bwe Si-jin muncul kembali sambil membawa tongkat berkepala ular, menyaksikan semua orang tertawa geli, ia menjadi heran, tegurnya, “He, apa yang sedang kalian tertawakan?”

“Engkoh Jin,” ujar Go Hoa-ti, “selanjutnya kau adalah Ho Ho-cia sedang Cau-ji menjadi Ho Ho-wan, jangan lupa untuk makan enak dan bermain terus sampai puas.”

Mendengar itu Bwe Si-jin pun tertawa terbahak-bahak.

Tujuh hari kemudian, di saat senja menjelang tiba, di sebuah jalan raya yang terletak sepuluh li di luar kota kuno Tiang-sah, muncul dua orang kakek tua, mereka tak lain adalah Cau-ji serta Bwe si-jin yang menyamar menjadi sepasang malaikat bengis dari In-lam.

Selama dua hari berdiam di perkampungan Hay-thian-it-si, bukan saja Cau-ji telah mempelajari ilmu menyaru muka serta ilmu pukulan Tui-hong-ciang-hoat, bahkan dia pun menguasai semua seluk-beluk organisasi Jit-seng-kau selama belasan tahun terakhir termasuk semua peraturannya.

Khususnya tentang ilmu silat yang dimiliki Su Kiau-kiau beserta ketiga orang Sumoaynya, ciri khas mereka serta tabiatnya, boleh dibilang ia sudah hapal di luar kepala.

Tiba-tiba terdengar Cau-ji berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Paman, di dalam hutan di depan sana kelihatannya ada lima orang sedang menyembunyikan diri, benar tidak?”

Bwe si-jin segera pasang telinga, namun kecuali terdengar suara burung yang berkicau serta hembusan angin malam yang menggoyang ranting pohon, dia sama sekali tak mendengar suara apapun. Kontan saja pertanyaan itu membuatnya tertegun.

Benar saja, baru mereka berdua melanjutkan kembali perjalanannya sejauh beberapa li, tiba-tiba dari balik hutan melompat keluar lima sosok bayangan manusia.

Begitu muncul, serentak kelima orang itu membentak nyaring, “Setan tua, berhenti!”

Sekarang Bwe si-jin baru benar-benar merasa kagum dengan kehebatan ilmu silat yang dimiliki Cau-ji.

Dengan santai mereka berdua segera menghentikan langkahnya, kemudian ditatapnya kelima orang lelaki bertubuh kekar dan beralis tebal itu sekejap.

Terdengar lelaki yang berdiri paling tengah menghardik, “Jalan ini aku yang menggali, pepohonan di sini aku pula yang menanam, bila kalian dua orang setan tua ingin hidup selamat, cepat serahkan uang!”

“Ooh, para pendekar, aku si tua ini tidak membawa uang banyak, kalian ….” Bwe si-jin segera berlagak gugup dan ketakutan.

“Tutup mulut, tampaknya kau si setan tua sudah bosan hidup, kalau tahu diri, cepat serahkan semua perbekalan kalian, hmm! Jangan paksa Toaya turun tangan, jangan salahkan jika kucabut nyawa anjingmu.”

Cau-ji pun berlagak terkejut bercampur gugup, teriaknya pula, “Ohh, jangan, jangan dirampas uang kami. Kalian bertubuh kekar dan punya ilmu tinggi, kenapa tidak bekerja secara baik-baik saja mencari uang halal, buat apa kalian melakukan usaha dagang tanpa modal semacam ini.”

“Sialan, tutup bacotmu setan tua,” lelaki yang lain segera membentak nyaring, “kau tahu, bukan pekerjaan gampang untuk mendapatkan Ciaji (ramalan) ‘semua senang’ (semacam permainan lotre), sekarang baru saja kami berlima mendapatnya, maka untuk menutup ongkos yang tinggi ketika membeli ciaji itu, kami ingin minta sokongan dari kalian.”

Selesai berkata, dengan langkah lebar ia segera berjalan mendekat.

Tiba-tiba Bwe si-jin berteriak keras, “Benarkah begitu? Nomor berapa?

Dapatkah aku si orang tua ikut ‘menanam bunga’?”

Lelaki itu kelihatan agak tertegun, kemudian tertawa tergelak.

“Hahaha, maknya! Ternyata kau si setan tua pun ikutan main ‘semua senang’, maknya! Mana ada makan gratis di siang hari bolong, ingin tidak membayar uang lewat? Jangan mimpi.”

Habis berkata dia langsung menubruk ke depan.

Kembali Bwe si-jin memutar tongkat kepala ularnya seakan tak bertenaga, dengan napas ngos-ngosan serunya, “Ingin uang gratis? Huuh, serahkan nyawamu.”

Dengan gampang lelaki itu mengegos ke samping menghindarkan diri dari pukulan itu, kemudian sambil menghajar dada Bwe si-jin serunya dingin, “Setan tua, jangan salahkan kalau aku bertindak keji!”

Blaaaam!”, pukulan tangan kanannya segera bersarang telak di dada lawan.

Baru saja lelaki itu siap tertawa tergelak, mendadak ia saksikan sesuatu yang aneh, ternyata telapak tangannya yang menempel di dada lawan sama sekali tak sanggup ditarik balik, tangan itu seolah menempel jadi satu dengan tubuh lawan.

Dalam terkejutnya segera dia kerahkan segenap tenaganya untuk meronta.

Siapa tahu, bagaimanapun dia meronta, usahanya selalu gagal, akhirnya dia pun berteriak keras, “He, setan tua, ilmu hitam apa yang kau gunakan?”

“Hahaha, dasar homo! Masakah dengan dada kerempeng pun langsung bernapsu, benar-benar lelaki kepala babi.”

Ketika keempat orang lelaki itu menyaksikan rekannya dikendalikan orang, serentak mereka membentak gusar dan menerjang maju.

Bwe si-jin segera menggetarkan tenaga dalamnya keluar, lelaki yang berada paling depan seketika menjerit kesakitan, tubuhnya mundur sempoyongan dan langsung menerjang keempat orang rekannya hingga jatuh bergelimpangan di tanah.

Dengan sekali sodokan, Bwe si-jin segera menotok roboh kelima orang itu, kemudian katanya sambil tertawa, “Bukankah kalian senang bermain ‘semua senang’? Baiklah, biar Lohu ajarkan kepada kalian bagaimana caranya menjadi kura-kura.”

Sambil berkata tongkatnya disentakkan berulang kali, “Plak, plaak”, segera muncullah belasan kerat tulang punggung di tubuh orang-orang itu.

Tongkat Bwe si-jin sama sekali tak berhenti bergerak, diiringi jeritan ngeri kelima orang itu, belasan kerat tulang iga yang menonjol keluar itu segera mengucurkan darah segar, keadaannya sangat mengerikan.

Setelah membersihkan ujung tongkatnya di punggung seorang lelaki, kembali Bwe Si-jin berkata, “Kali ini aku ampuni kalian, tapi kalau sampai ketemu lagi di kemudian hari, akan kusuruh kalian rasakan keadaan yang lebih mengerikan.”

Selesai berkata ia langsung berlalu sambil tertawa terbahak-bahak.

Cau-ji pun sangat puas dengan kejadian itu, sambil tertawa gembira dia ikut berlalu.

Kelima orang itu tertotok jalan darahnya hingga tak mampu bergerak, biarpun punggungnya penuh dengan cucuran darah, namun mereka hanya bisa berbaring di tanah sambil merintih.

Melihat kelima orang begundal itu diberi pelajaran yang setimpal, kebanyakan penduduk yang lewat di situ merasa ikut gembira.

Tak lama kemudian sampailah Cau-ji berdua di kota Tiang-sah. Kota besar yang seharusnya ramai orang berlalu-lalang ternyata kini nampak amat sepi, sekalipun semua toko dibuka lebar-lebar, namun hanya satu dua orang yang kelihatan di jalanan.

Menyaksikan hal ini Cau-ji pun berseru keheranan.
Kelihatannya Bwe Si-jin sudah pernah menyaksikan keadaan seperti ini, ia segera menjelaskan, “Lote, dalam satu dua hari mendatang kelihatannya ‘semua senang’ akan segera dibuka, kini semua orang sedang sibuk membahas nomor yang bakal keluar, bahkan banyak yang pergi ke orang pintar untuk mencari Ciaji, mana mungkin mereka berminat makan minum?”

“Sebetulnya ‘semua senang’ itu permainan macam apa? Apa pula yang dimaksud mencari Ciaji?”

“Hahaha, ayo kita cari rumah makan dulu untuk mengisi perut, selesai bersantap akan kujelaskan kepadamu.”

Mereka pun masuk ke dalam rumah makan dengan merek Ka-siang-lau. Naik ke atas loteng, tanpa menunggu pelayanan dari sang pelayan mereka langsung mencari meja dekat jendela.

Seorang pelayan segera muncul dengan kemalas-malasan, membersihkan meja lalu bertanya mau pesan apa.

Dengan hati mendongkol Cau-ji segera menegur, “He, pelayan, kau sedang sakit?”

Pelayan itu melotot sekejap, tapi kuatir menyalahi tamunya, maka dia hanya mendengus.

“Lote, tak usah gubris orang itu,” kata Bwe Si-jin cepat, “kelihatannya dia sudah kelewat banyak membahas ramalan nomor hingga kena penyakit napas.”

“Kau ….”teriak pelayan itu jengkel.

Bwe Si-jin tertawa ewa, tiba-tiba sambil menuding kepala ular di ujung tongkatnya dia berkata, “He, pelayan, tahukah kau, dia berada di urutan ke berapa dari capji shio?”

“Huuuh, tentu saja ular menempati urutan keenam, anak kecil pun tahu!”

“Hahaha, ternyata kau memang pintar, nah, bahas saja nomornya dari situ.”

Pelayan itu berpikir sebentar, mendadak teriaknya, “Ya ampun, Losianseng, ternyata kau memang baik hati, kalau aku benar-benar menang pasangan, pasti akan kutraktir dirimu.”

Selesai bicara dia membungkukkan badan memberi hormat.

“Hahaha, pelayan,” kata Bwe Si-jin lagi sambil tertawa, “semoga kau menang banyak, nah, sekarang aku mau pesan masakan.”

Author: 

Related Posts

Comments are closed.