Cerita Ngentot Slamet Kan Aku – Part 6

Cerita Ngentot Slamet Kan Aku – Part 6by on.Cerita Ngentot Slamet Kan Aku – Part 6Slamet Kan Aku – Part 6 MANUSIA SETENGAH MATANG Siang ini aku ada janji menjemput mas Parmin. Malas banget sebenarnya, tapi berhubung jebakan Batman dari mbak Maya, mau tidak mau aku harus menjemput mas Parmin. Hari ini terasa sangat panas, matahari berada tepat diatas kepalaku. Kalau terus-terusan seperti ini bisa-bisa kulitku yang kinclong ini bisa […]

Slamet Kan Aku – Part 6

MANUSIA SETENGAH MATANG

Siang ini aku ada janji menjemput mas Parmin. Malas banget sebenarnya, tapi berhubung jebakan Batman dari mbak Maya, mau tidak mau aku harus menjemput mas Parmin. Hari ini terasa sangat panas, matahari berada tepat diatas kepalaku. Kalau terus-terusan seperti ini bisa-bisa kulitku yang kinclong ini bisa menghitam seperti batu bara. Hasil perawatan sebulan sekali di Salon “Delima” bisa sia-sia dong. Ya disana aku bisa memanjakan diriku dan juga si “cacing”.

Jam 2 siang aku geber si Dolmen, tujuanku tidak lain dan tidak bukan adalah terminal Giwangan, terminal paling besar di Jogja. Mas Parmin tiba disana jam 3. Kalau aku harus pulang dulu maka jarak tempuhnya akan semakin jauh. Rumahku di Jogja bagian utara, sedangkan Giwangan ada di Jogja bagian selatan, maka dari itu setelah bimbingan tadi aku langsung saja menuju ke Giwangan.

Aku tunggu mas Parmin diluar terminal, biar aja nanti dia yang cariin aku kalo udah nyampe. Toh dia udah dikasih tau mbak Maya kalo aku bakal menunggu dibelakang terminal. Lagian tidak ada juga yang mau culik dia.

Aku parkirkan si Dolmen di depan sebuah warung, sambil celingak- celinguk aku mencari si empunya warung.

“Permisi.”

Keluarlah seorang ibu-ibu dengan tanktop dan juga hotpant yang sangat pendek. Bedak putih tebal menghiasi wajahnya, sehingga mukanya terlihat seperti badut. Kalau saja boleh aku bawa pulang, pasti sudah aku bungkus ibu pemilik toko ini, lumayan kan bisa buat pengusir tikus dikamarku. Tanpa basa-basi aku langsung memesan Susu Coklat hangat kepada ibu itu.

“Bu Susu coklat hangat 1.”

“Susunya ada nya yang 2 mas, kalo 1 gak ada.” jawab sang ibu

“Gak usah bu, 1 aja, saya cuma sendiri kok.”

“Lha ini adanya dua e mas, masa mas e gak mau?” lanjut sang ibu penjaga warung sambil melihat ke arah payudaranya.

Mataku juga langsung mengikuti kearah matanya memandang. Ukurannya sih biasa aja, paling sekitar 34B. Kenapa aku jadi sok tau begini ya, padahal aku tidak bisa mengukur payudara dengan angka. Paling mentok aku cuma tau ukuran BH ibuku saja, itupun waktu aku terpaksa mengangkat jemuran saat hari hujan. Kebetulan disana ada BH ibuku jadi aku bisa membaca tulisan di BH itu. Sedangkan untuk wanita-wanita lain aku sama sekali tidak bisa memperkirakan ukurannya. Aku lebih suka membandingkan ukuran payudara seorang wanita dengan buah-buahan. Ya ibu ini memiliki payudara sebesar mangga “manalagi” yang 1 kg berisi 2.

“Bu, susunya yang 1 dulu aja ya.” jawabku

Begitu mendengar jawabanku sang ibu lansung menarik tanganku kedalam. Kalau saja jam 3 aku tidak ada janji dengan mas Parmin, pasti aku langsung mengiyakan tawarannya. Tapi berhubung aku sudah ada janji sama mas Parmin maka tawaran itu aku tolak secara halus.

“Maaf bu, saya mau minta susu yang kalengan aja, bukan susu yang gemandul.”

“Besok saya kesini lg deh bu, suer.” tolakku agar tidak sampai kejadian hal yang diinginkan.

Dengan raut wajah sedikit kecewa sang ibu langsung membuatkan susu coklat hangat pesananku. Dia menemaniku ngobrol sambil menunggu mas Parmin, dari obrolan kami, aku ketahui kalau namanya adalah Sari. Wuih keren juga ya nama ibu ini, dan setelah aku tanya lebih lanjut siapa nama lengkapnya dengan sedikit malu-malu dia menjawab kalau nama lengkapnya adalah Sarinem. Dia adalah Janda 2 anak, dimana anaknya yang no 1 sudah berumur 21 tahun dan anak no 2 sudah berumur 19 tahun.

Sudah jam 4 tapi kenapa mas Parmin belum juga kelihatan ya, padahal semalem udah dikasih tau sama mbak Maya kalau kami janjian dibelakang terminal. Aku langsung menelpon mbak Maya untuk meminta no mas Parmin agar aku bisa memastikan mas Parmin sudah sampai mana.

“Halo mbak, bisa kirimi no Parmin?, aku udah di terminal tapi kok orangnya belum dateng-dateng ya.” tanyaku ke mbak Maya.

“Weh, kamu udah di terminal Met?, maaf ya Met, aku lupa kasih tau, ini mas Parmin udah nyampe rumah jam 11 tadi.”

“Oh.” jawabku langsung ku matikan telpon ku

“Asu, jadi dari tadi aku nungguin orang yang udah ada dirumah.” omel ku tak jelas.

Sebenarnya salahku juga sih tidak konfirmasi ke mbak Maya dulu waktu aku tadi mau berangkat, mungkin aku terlalu semangat karena akan menjemput mas Parmin, kan lumayan bisa SSI sedikit, sapa tau bisa dicelup-celupin. Eh apaan sih, bukan-bukan, aku masih normal kok, maksudku kan lumayan bisa dibeliin bensin sama mas Parmin, karena menurut cerita temen-temenku kalo jemput mas Parmin di Terminal biasanya motor mereka diisiin bensin full Tangky sama diajak makan sate kambing di Condong Catur.

Mbak Sari yang mendengarkan obrolanku dengan mbak Maya malah tersenyum-senyum sendiri. Entah sejak kapan dia meminta untuk dipanggil mbak, biar kelihatan lebih muda katanya. Ah sudahlah bodo amat, mau mbak kek, bu kek, aku harus segera pulang. Aku segera berpamitan kepada mbak Sari. Ada kabar gembira yang harus segera aku sampaikan kepada orang tuaku.

Sesampainya di rumah, aku langsung memanggil bapak dan ibuku untuk duduk di ruang tengah. Sekarang saatnya aku yang menyidang mereka berdua.

“Apa to le, kok tiba-tiba kamu panggil bapak sama ibu kemari.” tanya ibuku

“Aku udah mau lulus bu, sebentar lagi aku udah mau lulus, judul skripsiku udah diterima sama dosenku.” jawabku.

Ibu langsung berdiri memelukku, tampat tetesan air mata bahagia tumpah dikedua matanya. Bukan tanpa alasan kenapa orang tuaku sangat bahagia saat mendengar aku akan lulus. Karena aku Slamet Arya Seta bin Widodo Arya Seta akan menjadi Sarjana pertama yang berasal dari kampungku. Biarpun baru judul aja yang diterima oleh dosenku, namun bagi mereka itu adalah suatu kemajuan yang sangat bagus. Bayangin aja butuh waktu 2 tahun untuk menemukan judul skripsiku ini, baru minggu lalu aku menemukan judul yang pas, itupun sempat ditolak oleh bu Erlita, dan entah karena alasan apa tiba-tiba beliau berubah pikiran untuk menerima judul dan konsep skripsiku itu.

Untuk merayakan keberhasilanku hari ini, aku mengajak Anas untuk berpesta di Purawisata, malam ini kami akan menonton dangdut disana. Sebelum meluncur kesana tentu saja aku ajak dia untuk mampir sebentar di Warung kang Prajak untuk membeli lapen, lapen adalah sejenis minuman oplosan kesukaanku. Harganya murah dan bisa membuat kita serasa melayang.

Sesampainya di Purawisata aku dan Anas langsung bergoyang mengikuti irama musik, kebetulan malam ini bintang tamunya adalah “Palapa”, orkes dangdut favorit yang ada disini. Semakin malam pengunjung yang datang semakin banyak, kami menjadi satu berjoget untuk menghilangkan beban hidup. Bau alkohol sudah sangat menyengat ditempat ini. Di atas panggung para penyanyi dengan pakaian seksi menghibur kami semua. Payudara berbagai rasa menggelantung diatas sana, dari jeruk sampai semangka semua juga ada. Oh senangnya hatiku jika hidupku terus seperti ini.

Malam semakin larut dan akhirnya orkes dangdut pun selesai. Anas langsung menarikku menuju parkiran.

“Met, aku nafsu.” kata Anas

“Waduh, trus gimana?, aku gak ada duit lagi Nas.” jawabku

“Udah kamu bonceng aja, ayo cepet biar aku yang di depan.” kata Anas

Akupun langsung saja mengikuti perintah Anas, ternyata dia malah mengajakku nongkrong di daerah Nol Kilometer. Disana Anas langsung menghampiri 2 orang orang cewek yang sedang duduk bersantai. Cantik dan sexy itu kesan pertama ketika aku melihat kedua orang itu. Kalau aku bawa duit pasti aku juga akan ikut menawar. Namun masalahnya yang ada didalam dompet tinggal 3 lembar uang gambar Patimura saja. Anas langsung saja pergi dengan salah 1 cewek tadi, sedangkan aku di tinggal sendiri.

Sebenarnya untuk urusan esek-esek aku sudah tidak asing lagi. Aku banyak mendapatkan pelajaran sex via VCD Porno sejak kelas 2 SD. Film pertama yang aku tonton saat itu berjudul King Paradise.Film yang tidak akan aku lupakan hingga kini.

Sekitar 20 menit aku menunggu, akhirnya Anas dan cewek tadi sudah balik lagi. Cewek itu mengantarkan si Anas kembali ke Motor.

“Besok kesini lagi ya mas, nanti aku kasih Service yang mantap wes.” kata cewek itu

“Iya mbak.” jawab Anas

Aku memandangi terus cewek yang barusan di booking Anas, dari mana anak ini punya duit buat booking cewek secantik itu. Terus menerus aku amati, lama-lama seperti ada yang aneh dengan cewek itu.

“Sebentar-sebentar, kok kaya ada yang aneh ya, tapi apa?” batinku

Aku terus berpikir, hingga akhirnya menemukan jawabannya. Oalah, akhirnya aku tau apa yang aneh dari cewek cantik itu, ya ya ya cewek itu memiliki jakun dilehernya. Jadi pantes aja kalo Anas kuat buat booking dia.

Bersambung lagi gan..Mohon kritik dan saran ya

Author: 

Related Posts

Comments are closed.