Cerita Sex Lust Of My Nurse – Part 3

Cerita Sex Lust Of My Nurse – Part 3by on.Cerita Sex Lust Of My Nurse – Part 3Lust Of My Nurse – Part 3 Part 3: Akhirnya kumasuki kost putri itu. ‘Kriiiiinggg… Kriiinnggg.. Kriiiinnnggg’ dering telfon membangunkanku pagi itu. Aku yang tadinya terlelap, segera menyapukan tanganku mencari asal suara. “Hallo?” ucapku malas. “Pagiii cintaaa…” ucap suara diujung telfon dengan sangat semangat “Pagiii…” “Iihh, kok lemes gitu sih yang? Kaya orang yang kelaperan […]

multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-11 (2) multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-11 (1) multixnxx- Maki Koizumi Maki Koizumi with big chest-10

Lust Of My Nurse – Part 3

Part 3: Akhirnya kumasuki kost putri itu.

‘Kriiiiinggg… Kriiinnggg.. Kriiiinnnggg’ dering telfon membangunkanku pagi itu. Aku yang tadinya terlelap, segera menyapukan tanganku mencari asal suara.

“Hallo?” ucapku malas.

“Pagiii cintaaa…” ucap suara diujung telfon dengan sangat semangat

“Pagiii…”

“Iihh, kok lemes gitu sih yang? Kaya orang yang kelaperan aja kamu.”

“Hmmmm…” jawabku sekenanya. Karna jujur saja, aku masih sangat mengantuk.

“Kamu masih tidur jam segini yang?”

“Heeh…” singkatku.

“Iihhh kamuuu! Cepetan bangun, ada sesuatu yang mau aku omongin tau.” ucapnya kesal.

“Hmmm…”

“Hmmm… Yaudah deh kalo gitu terserah kamu. Tadinya aku mau ketemu kamu, aku lagi horny. Tapi kalo kamu gamau, yaudah deh gpp.” jawabnya sedih.

Aku yang masih linglung antara sadar dan tidak segera beranjak bangun setelah mendengar ucapan terakhirnya. Dia horny?? Jam segini?? Senyum lebarpun mengembang di wajahku.

“Hallo yang? Kamu masih disana kan? Aku udah bangun looh!” jawabku Semangat.

“Iiihhh… Dasar nyebelin kamu. Dari tadi diajak ngobrol malah diem aja. Cuman jawab Hmmm.. Heeh.. Hmmm… Doang. Tapi langsung berubah drastis setelah denger kalo aku horny. Nyebelin bangeeettt tauuu!” protesnya

“Hehehe… Maaf yang. Aku bener-bener ngantuk. Semalem aku Insom.” jelas ku

“Kalo ngantuk ya tidur! Kenapa langsung bangun pas denger masalah selangkangan coba?” cecarnya masih tak terima.

“Iyaa, iyaa. Aku minta maaf. Maaf in aku yaa. Muuaacchhh!” rayuku.

“Hmmm.. Yaudah deh.” jawabnya luluh juga.

“Kamu cepetan kesini yang, mumpung kost lagi sepi. Kemaren-kemaren kamu bilang pengen banget ngentot di kamar kost aku kan? Makanya cepetan kamu kesini, mumpung ibu kost nya lagi keluar arisan.” Jelas kak Siescha.

“Yang bener yang?” tanyaku meyakinkan.

“Iyaa.., kamu mau engga? Kalo engga, yaudah aku dibaju lagi nih.”

“Iyaa iyaa mau, iyaa.” jawabku Semangat.

“Yaudah, makanya cepetan kesini. Vagina aku udah basah banget tau yang” desahnya manja.

“Okee honey, I comiiinngg! Keep you’re vagina still wet.” Tutupku.

Aku segera bergegas bangun. Kuganti baju tidur ku dengan pakaian seadanya. Langsung saja aku berlari ke garasi, untuk segera berangkat ke tempat kak Siescha. Kesempatan macam ini sangat jarang terjadi, maka dari itu takan kusia-sia kan ini.

“Kamu mau kemana kak? Mandi terus makan dulu.” kata Mamaku ketika kami berpapasan di ruang tengah.

“Aku mau ke Rumah Sakit maa! Si Rey nelen kecoak kemaren malem Katanya.” jawabku mencari alasan. Aku lalu bergegas ke garasi, guna menghindari pertanyaan lain dari Ibuku itu.

“Kamu pulang jam berapa kak?”

“Gatau maa, mungkin agak malaman.” teriak ku di garasi.

“Loh, kok balik lagi kak? Katanya buru-buru?” tanyanya ketika tak lama aku kembali kepadanya.

“Aku lupa sesuatu maa. Minta duit dong maa, hehe…” ucapku sambil nyengir.

“Dasar kamu ini. Tadi buru-buru, tapi kalo masalah duit gak pernah lupa. Yaudah, nih….” jawabnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu padaku.

“Oiyaa, jangan pulang lewat jam 10 malam yaa kak.” teriaknya sebelum aku berlalu dengan sepeda motorku.

“Siap maaa. Aku berangkat dulu, bye!”

Akupun segera memacu motor kesayanganku itu dengan sangat laju. Mengingat hal yang akan aku lakukan bersama kak Siescha, membuatku lupa untuk mandi ataupun sekedar sarapan pagi itu. Yang kufikirkan hanyalah liang sempit vagina kak Siescha, yang akan segera menjepit penisku.

————————Lust Of My Nurse————————

Beberapa menit kemudian, aku pun sampai di tempat kost kak Siescha. Langsung saja ku parkirkan motorku di halaman depan. Kostan itu memang sangat nyaman, karena memiliki halaman yang cukup luas, dan ditumbuhi beberapa Jenis bunga dan pepohonan.

Kostan itu merupakan suatu bangunan tunggal, dengan beberapa kamar didalamnya. Di setiap kamar terdapat toilet nya. Di dalam juga terdapat ruang makan, dan ruangan bersantai yang cukup luas. Juga sebuah gudang, terletak tidak jauh dari ruangan utama.

Aku akan sedikit mengulas ruang bersantai, karna disinilah aku akan menyetubuhi kak Siescha.

Ruangan ini cukup luas, dengan sofa yang tersusun rapih di setiap sisinya. Meja bulat besar berada ditengah, dan terdapat beberapa camilan dan pot bunga diatasnya. Di ruangan itu juga terdapat LED TV 41′ dan satu set home theater. Sangat nyaman disana.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar kak Siescha. Dan menemukan kak Siescha tengah telanjang sambil terpejam. Tangan kanannya sibuk meremasi payudaranya, sedang kan yang kiri sibuk men stimulus vaginanya. Sungguh, pemandangan yang sangat luar biasa.

Kudekati kak Siescha dengan langkah sangat perlahan. Aku sampai harus berjinjit, aku ingin mengejutkannya. Ketika tubuh telanjang nya sudah di dalam jangkauanku, segera saja ku terkam dia. Bak seekor singa lapar, yang menerkam anak rusa.

“Awwwww….” dia sempat kaget menerima itu, namun akhirnya dia tersenyum juga mengetahui aku telah tiba.

“Kamuuu! Kenapa gak ngasih tau dulu kalo kamu udah dateng. Bikin aku kaget aja tau” Ucapnya manja

“Sudah, ngobrolnya nanti saja yang. Penisku udah gak tahan pengen mengaduk vagina kamu.” ucapku tak sabar.

“Huuu,, dasar mesum. Hihihi…”

Aku langsung memelorotkan celanaku, penisku langsung meloncat bebas keluar. Kuposisikan penisku di belakang tubuhnya. Ketika kurasa sudah pas, segera ku tekan penisku dengan keras. Hingga ‘bleeesssttt’ amblaslah seluruh penisku ditelan vagina kak Siescha.

“Aaaagghhh… Yeeess.. Nikmat nya penis kamu yang….” lenguh kak Siescha ketika penisku sudah mentok di vaginanya.

Ntahlah, sekarang aku memang sering malas melakukan fore play sebelum bercinta. Aku main tusuk saja, biarpun vaginanya masih belum berlubrikasi dengan sempurna. Aku sangat menikmati ekspresi wajah kak Siescha yang sedikit kesakitan.

Aku langsung memaju-mundurkan pinggulku dengan cepat namun teratur di vaginanya. Penisku dijepit dan dimanjakan didalam sana. Vaginanya sungguh sangat legit, dan basah. Sehingga suara kecipak alat kelamin kami pun mulai terdengar jelas.

“Aaaagghhh,, yeaaahh, uggghh.. Aggghhh… Enak banget yang… Aggghhh” suara desahan kak Siescha mulai keluar.

“You like it baby? Huh?” ucapku sambil mempercepat genjotanku penisku.

“Sure. Aggghhh…. I… I was addicted with your penis. Uuggghhh,, yeeaaaahh.. Fuck me harder babe, ugghhhh yeeessss…” ceracaunya menggila.

Kupacu tubuhku semakin cepat menyetubuhinya. Gesekan vaginanya sangat membuatku menggila. Aku seperti orang yang sakau dibuatnya. Yang akan sangat kesakitan jika tak merasakan jepitan vaginanya.

“Oouugggjhh,, yessss. Harder babe, harder… I.. I want,, I cuuummm…. Aaaggghhhhh… Aggghhh.. Hmmm…” desahnya melepas orgasme.

‘Sssrrrttt, sssrrrttt, ssssrrrttt’ dia pun mendapatkan orgasme nya yang pertama oleh penisku. Dia sangat menikmati nya, jelas terlihat dalam ekspresi wajahnya saat itu. Dengan kepala yang mendongak keatas, serta mata yang terpejam, sedang kan mulut yang membuka lebar membentuk huruf O.

Aku membantunya berdiri, dan mengarahkannya untuk berjalan ke ruang bersantai tanpa melepas tautan alat kelamin kami berdua. Penisku tetap kutancapkan di dalam vaginanya, bak paku di kepala kuntilanak.

Kaki kak Siescha bergetar ketika melangkah, dan vaginanya makin membanjir saja. Dia sangat tersiksa dengan apa yang penisku berikan pada setiap syaraf dalam vaginanya. Tersiksa karena kenikmatan.

“Aaaagghhhhhh, stop dulu yanggg, uugghhhh,, aggghhhhh.” lenguhnya.

Ternyata kak Siescha mendapatkan orgasme nya yang kedua tak lama berselang. Tubuhnya bergetar dalam dekapanku. Dia pasti ambruk bila saja aku tidak memegangi pinggulnya.

“Kamu orgasme lagi yang?” tanyaku memastikan.

” iii, iyaa yaaang…” jawabnya lemas.

Namun dia langsung menjerit manakala aku menghentakan penisku ke vaginanya. Kugenjot kembali vaginanya dalam posisi seperti itu. Kak Siescha hanya bisa menjerit dan mendesah, karna tak memiliki tenaga untuk berontak.

Kupaksa dia untuk berjalan mendekati sofa, dengan tetap menggenjot vaginanya. Cape juga bercinta dalam posisi seperti ini, terlebih partner kita sudah sangat lemas.

Kak Siescha pun mendapatkannya orgasme lagi dan lagi dan lagi. Entah sudah berapa Kali vaginanya mengeluarkan cairan cinta. Bahkan dia sempat squirt! Yang pasti lelehan cairan cinta dan pipisnya telah menggenang di lantai.

Kak Siescha sudah sangat lemas, desahannya sudah terdengar lemah. Namun hal itu justru membuatku makin bernafsu saja. Kugerakan penisku keluar masuk di vaginanya makin cepat. Gesekan dari alat kelamin kami makin terasa panas.

“Aaaarrrgggghhhh, stop it. Fuck! Ooouuggghh,, aaagghhhh, stop it. Its hurt. Aaargghh…” jeritnya.

Hal itu, tidak aku dengarkan. Ritme genjotanku masih seperti tadi, cepat dan menghentak. Namun beberapa saat kemudian, akupun menurunkan ritme genjotanku. Dan menghentikannya ketika kudengar kak Siescha mulai terisak kesakitan.

“Kamu kenapa honey? Aku terlalu keras yaa? Sorry,” ucapku sambil mengecup punggungnya.

Dia hanya terdiam tak memberikan jawaban. Sungguh membuatku bingung dan khawatir dibuatnya. Diamnya adalah salah satu hal yang paling kutakuti di dunia ini selain Mamaku, dan kecoak terbang yang mengejar tentunya.

Kucabut penisku dalam vaginanya, ‘plooop’ Aku kaget ketika melihat bercak darah di penisku. Lalu kulihat ke vaginanya. Dan yaa, tak salah lagi, vagina kak Siescha lecet. Ada bercak darah yang cukup banyak disana. Membuatku merasa sangat bersalah.

“Kejamnya aku,” batinku.

Aku segera mengambil pakaian kami di kamar, takut ada orang yang melihat ketelanjangan kami. Kubiarkan kak Siescha tetap pada posisinya, menungging di bantalan kursi. Kaki, tangan, dan kepalanya terjulur ke bawah. Sudah seperti seonggok daging tanpa tulang dia.

Melihat apa yang telah kulakukan pada kak Siescha, membuat nafsuku menghilang begitu saja. Penisku mengecil dengan sendiri nya. Dan membuatku sedikit keki, namun tetap merasa sangat bersalah kepadanya.

Kukenakan kembali semua pakaian ku, lalu beranjak ke ruangan tadi. Aku membawa tissue, dan semua pakaian kak Siescha. Namun aku tak mendapati keberadaan kak Siescha di tempat nya semula. Hal itu mambuatku panik.

” Jangan-jangan ada yang nyulik kak Siescha disini.” fikirku memperburuk keadaan.

Kusapukan mataku ke semua penjuru ruangan, mencoba mencari keberadaan dari kak Siescha. Namun di ruangan itu kak Siescha sudah tidak ada. Kucari ke kamarnya, tidak ada. Kucari keluar, tidak ada. Akhirnya aku menemukannya di toilet, sedang membersihkan vaginanya dengan sangat perlahan.

“Sayaaaang, ternyata kamu disini. Aku kira kamu ada yang nyulik tadi. Oiya, sorry ya. Aku terlalu bernafsu tadi.” ucapku khawatir dan merasa bersalah.

Dia memandangku, lalu dia tersenyum. Namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Sungguh sangat awkward! Diapun melanjutkan aktifitasnya membersihkan vaginanya dari lendir dan bercak darah. Sesekali terlihat ekspresi perih di wajahnya, ketika dia melakukan hal itu.

Kulangkahkan kakiku mendekatinya, lalu ku usap rambutnya. Dia menghindari sentuhanku. Akupun menyentuh kedua pipinya, lalu mengangkat wajahnya menghadap wajahku. Kulihat tatapan benci di matanya. Segera ku cium bibirnya mesra, sambil memeluk tubuhnya erat. Namun tak ada satu pun reaksi yang kudapat dari nya.

Aku memilih memakaikannya baju, lalu menggendongnya ke sofa. Kududukan dia di sofa tersebut. Kuambilkan segelas air putih untuknya, lalu kusodorkan kepada kak Siescha. Dia pun menerima air putih itu, lalu menegaknya habis.

Setelah situasi dirasa cukup tenang, akupun meminta maaf kembali kepadanya. Kali ini aku berlutut di hadapannya, guna menunjukan rasa bersalahku. Akhirnya kak Siescha mau memaafkanku, namun dengan catatan aku tidak boleh meminta jatah kepadanya selama seminggu ke depan. “Biar vaginaku sembuh dulu dari lecet nya.” jawabnya menerangkan. Mau tak mau, harus ku sanggupi itu. Toh, itu semua memang karena ulahku juga.

Aku beranjak mendekatinya, dan duduk disebelahnya. Dia mendekap tubuhku erat, seakan takut kehilanganku. Kepalanya dia sandarkan di dadaku yang bidang, dan kak Siescha pun mulai terlelap.

————————Lust Of My Nurse————————

“Hey, lagi ngapain kalian berdua? Ini tempat kost khusus putri, laki-laki dilarang masuk kesini.” bentak seorang wanita kepadaku.

“Siescha, cepetan kamu masuk ke kamarmu. Atau kamu akan aku usir dari tempat ini.” lanjutnya.

Aku yang sedang mendekap tubuh kak Siescha sangat terkejut mendengar itu. Kak Siescha pun terbangun dibuatnya. Sempat kurasakan dadanya berdebar. Dia langsung melepaskan dekapannya dari tubuhku, lalu berlalu ke kamarnya. Terlihat dia sangat segan kepada wanita ini.

Bu Moniq, panggil saja begitu. Wanita yang telah mengganggu aktifitasku dengan kak Siescha sore itu. Belakangan kuketahui bahwa wanita itu adalah pemilik dari tempat kost ini. Pantas saja semua penghuni kost itu terlihat sangat segan kepadanya.

Ku taksir dia berusia 34 sampai 36 tahunan. Garis halus mulai menghiasi wajahnya, namun kecantikannya masih bisa terlihat dengan jelas. Dia memiliki wajah putih bersih, bibir tipis yang ranum, dan hidung yang mancung.

Siang itu Bu Moniq memakai baju U Can See, serta legging hitam yang membalut bagian bawahnya. Sebuah tas branded menggantung di tangan kanannya. Sebuah kacamata hitam, dan sebuah topi dari jerami juga ikut menghias di badannya. Lekukan badannya sangat jelas terpampang di hadapanku.

Dia memiliki tinggi 168 cm dan berat 55 kg, agak montok memang. Bulatan payudaranya sangat besar menggantung indah di dadanya. Kutaksir dia memakai cup C. Pinggang nya terlihat membesar, namun bongkahan pantatnya masih terlihat membulat. Dia sungguh sangat menggairahkan untuk ukuran seorang ibu-ibu.

“Kamu itu yaa, berani-berani nya kamu masuk ke sini. Kamu gak bisa baca? Huh? Apa tulisan di depan itu kurang jelas untukmu? Jawab!” cerocosnya tanpa henti kepadaku.

“Iyaa Tante, saya minta maaf.”

“Maaf, maaf. Anak mana kamu? Cepat panggil orangtua kamu kesini. Aku akan mengadukan kenakalanmu pada mereka. Anak seusiamu harus nya belajar yang sungguh-sungguh, bukannya pacaran. Kamu itu masa depan bangsa ini. Harus nya kamu malu.” tambahnya.

“Iyaa maaf Tante.” Kataku tertunduk.

“Pantas saja negara ini tak pernah bisa maju. Wong para penerusnya aja malu-maluin kaya gini. Pantas aja ada Cicak vs Buaya, Koruptor di jajaran orang berdasi, dan pemerkosaan kian meraja lela di negeri ini. Kamu harus nya mikir buat masa depan kamu.” lanjutnya.

“Udahlah, lu butuh berapa duit Tante? Biar gue bayar sekarang. Jangan ngomel-ngomel terus lah, pusing kepala gue!” bentak ku padanya. Jengah juga lama-lama di ceramahinya.

“Maksud kamu apa? Huh? Kamu mau nyogok saya? Kamu fikir saya butuh duit? Kurang ajar kamu yaa. Kamu fikir duit bisa menyelesaikan semua urusan kamu gitu aja? Huh? Cepat keluar sana, dan jangan pernah kembali lagi kesini.” usirnya.

Aku sungguh merasa sangat terhina oleh ucapan wanita itu. Segera ku tampar pipi Bu Moniq dengan keras, karena amarahku yang sudah memuncak.

“Aaawwwww…. Beraninya kamuuu!” Ucap wanita iti dia hendak menamparku. Namun hal itu tidak terjadi karena aku mendorong tubuhnya ke dalam gudang di tempat kost itu.

“Rasa penghinaan ini harus kubalas dengan penghinaan juga!” batinku.

Disana, aku menjegal kedua pergelangan tangan Bu Moniq keatas kepalanya. Kuambil segumpal kain lalu ku sumpalkan ke mulutnya. Secarik tali yang kutemukan di dalam gudang itu, segera ku pakai untuk mengikat kedua tangannya. Agar tak berontak, fikirku.

Segera ku robek semua baju dan legging yang menempel di tubuhnya. Dia mencoba meronta, namun sia-sia saja. Kutarik putus Bra yang dia pakai, dan ku robek CDnya. Bu Moniq pun mulai terisak, tau dengan apa yang akan segera menimpanya.

Kedua payudara Bu Moniq sangat besar dan indah, meskipun terlihat mulai mengendur. Warna puting nya sudah mulai menghitam, mengingat dia pernah menyusui anak nya dulu. Namun benda itu masih tetap bisa menggodaku.

Penisku pun mulai berontak dibawah sana, setelah sebelum nya belum sempat mengeluarkan sperma sama sekali saat bersama kak Siescha. Aku pun memelorotkan celanaku, dan loncatlah tombak kebangganku itu dihadapan Bu Moniq.

Bu Moniq tampak kaget melihat penisku yang memang cukup besar itu. Dengan panjang 21 cm, dan diameter 6 cm, serta dihiasi urat di sepanjang tubuhnya, sudah pasti setiap vagina akan muntah orgasme dibuatnya.

Akupun mendekati tubuhnya sambil tersenyum. Dia berusaha menjauh dariku, air matanya makin menderas keluar. Namun sekeras apapun dia mencoba, aku tetap akan menyetubuhi nya sore itu.

Kutarik tubuhnya secara kasar, lalu menghimpitnya di tembok. Dia tidak bisa melakukan apapun. Kedua payudaranya menempel ketat di tembok. Dalam keadaan setengah menungging, langsung saja kuposisikan penisku tepat di depan vagina Bu Moniq. Dan ‘bleeessstt’ penisku langsung menyeruak masuk ke dalam vagina nya dalam satu sentakan.

“Mmmmm…, mmmmm….” Jerit Bu Moniq terhambat.

Lubang vagina Bu Moniq sangat nikmat. Ntah karena memang masih dalam keadaan sangat kering, atau karena apa, vagina Bu Moniq sangat peret saat ditembus penisku. Walaupun sudah pernah di lalu bayi, lubang itu masih sangat legit. Terbukti dari jepitan nya di penisku.

Segera saja kupacu pinggulku dengan sangat cepat. Aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dirasakan Bu Moniq saat itu, yang penting aku merasa nikmat.

“Aaaaaagghhhh, yessss, vagina Tante sangat nikmat. Penisku terasa di pijit dan diurut di dalam sana. Aaaghhhh,, yeaaah… Aggghhh…” bisik ku di telinganya.

Kumaju mundurkan penisku dengan tempo yang cepat di vaginanya, sedang kan kedua tanganku ku gerakan ke payudaranya. Dan segera ku remas dengan kasar. Tubuh Bu Moniq terlonjak-lonjak dengan genjotanku, bahkan menghantam ke tembok setiap ku hentakan penisku dengan keras.

15 menit berselang, kurasakan vagina Bu Moniq berkontraksi. Dia orgasme! Cairan hangat merembes dari dalam lubang vaginanya, membasahi penisku dan menetes di lantai. Tubuhnya bergetar hebat, namun suara lenguhannya terhalang oleh sumpalan kain di mulutnya.

“Tante orgasme! Hahaha…” tawaku mengejeknya

“Penis gue nikmat ya? Atau vagina Tante aja yang kegatelan. Jelasin dong Tante.” lanjutku guna merusak harga dirinya.

“Mmmmmm.., mmmmmm.., mmmmmm..” jawabnya.

“Gue bakalan lepasin sumpalan di mulut Tante. Tapi awas kalo lu sampe teriak. Ini pembalasan gue! Hari ini gue bakal bikin lu jadi budak nafsu gue. Jangan berontak. Kalo Tante mau selamat! Ngerti?” ancamku padanya.

“Mmmm…” jawabnya sambil mengangguk.

Akhirnya ku lepas sumpalan di mulut Bu Moniq, sehingga dia pun bisa bernafas dengan lega.

“Gimana rasanya Tante?” tanyaku kepadanya.

Namun dia tidak memberikan jawaban apapun. Sungguh membuatku kesal dan heran.

“Jawab! Buat apa gue lepas sumpalan di mulutlu kalo lu gak mau ngomong!” bentakku.

Dia masih tidak mau menjawab. Kesal, segera ku hentakan penisku dengan sangat keras ke vaginanya. ‘Ploook’ suara pinggulku saat menghantam pantatnya. Penisku terasa sudah mentok di dalam vaginanya.

“Aaaaarrggghhh….” jeritnya,

“Gimana rasa penisku Tante? Enak?” tanyaku sekali lagi.

Dia masih tak mau menjawab. Hal itu sungguh membuatku muak. Segera ku jambak rambutnya, dan kugenjot vaginanya dengan tempo yang cepat dan brutal. Aku berniat untuk membuatnya kehilangan harga diri. Aku ingin membuat dia tak punya akal sehat lagi. Aku ingin merendahkan harga diri Bu Moniq.

aarrrggghhh,, sakiiiit. Stooopp…” jeritnya.

Namun aku sudah tidak peduli lagi dengan itu semua. Aku hanya memacu tubuhnya semakin cepat dan cepat. Gesekan antara alat kelamin kami sungguh luar biasa. Dan itu membuatku semakin bernafsu untuk menyetubuhi nya lebih kasar lagi.

“Nikmat in aja Tante, akui aja kalo Tante menikmati penisku. Gak usah pake malu segala. Aaaagghhh….” desahku di telinganya.

“Aaaagghhh.. Ugghhhh,, aaaagghhh,, hmmmm… Aggghhh….” Bu Moniq pun mendesah.

Selang beberapa menit, Bu Moniq mencapai orgasme nya yang kedua. Tubuhnya mengejang, lalu bergetar. Hal itu tidak membuatku menghentikan ataupun melambatkan tempo genjotanku, aku ingin menyiksanya lebih keras lagi. Aku ingin membuatnya mengakui kejantananku, dan bertekuk lutut dihadapanku.

“Aaaaaaagghhhh,, Hentikaaaannn! Hmm.. Aaagggghhh…. iyaaaa,,, uuggghhh,, enaaakkk,,. Aagghhh… Astagaaaa! Aaagghhhh… Ya tuhaaann,,,,” ceracaunya tak jelas.

Rentetan orgasme hinggap menghampiri Bu Moniq, membuatnya mendesah, mengerang, menjerit, bahkan menceracau tak jelas. Hal itu membuatku sangat puas. Tak lama lagi Bu Moniq akan bertekuk lutut dihadapan penisku. Yaaa, tak lama lagi dia akan menjadi budak birahiku.

“Oooogggghhh, maa. Maaaafkaan aaa,, akuuu paaaaa,,, tapi, iniii sangat nikmaaatt,, aggghhhhh…, yaaaahhhh… Hmmm… Agggghhhh,….” Jeritnya ketika dia squirting.

Cairan cinta dan urinenya menyembur dengan sangat deras dari dalam vaginanya. Seluruh otot vaginanya berkontraksi dengan sangat kuat, menjepit dan memijat penisku. Sungguh luar biasa rasanya. Aku langsung mencium bibirnya dengan sangat bernafsu, dan dia balas tak kalah panasnya. Kuhentikan genjotanku, memberikan waktu pada Bu Moniq untuk menikmati Squirtnya.

Kucabut penisku didalam vaginanya, lalu kuarahkan ke lubang anusnya. Kugesek-gesek kepala penisku di sana. Sesekali kuludahi lubang anusnya. Dan mulai kutekan penisku berusaha menembus anusnya.

Bu Moniq yang tahu apa yang akan aku lakukan segera berontak. Dia mendorong pinggulku menjauh. Dia bergidik, lalu memohon kepadaku.

“Jangan, please jangan disana. Akuu masih perawaaaaaarrrrrrrgggghhhhh…. Sakiiiiiitttttt…,” teriaknya tak bisa menyelesaikan kata-katanya.

Aku menekan penisku dengan satu sentakan yang keras ke lubang anusnya. ‘Brreeeettt’ Dan langsung masuklah seluruh penisku kedalam anusnya. Penisku serasa di cekik disana, membuatku cukup kesakitan. Namun ada juga rasa hangat dan geli disana. Pokoknya suatu sensasi yang tak bisa ku ungkapkan.

“Aaaawwwwhhh,, sakiiiittt…. Hiks, sakiiiittt… Hentikaan… Sakiitt… Hiks, hiks.” ucap Bu Moniq seraya terisak.

Hal itu sempat membuatku iba, namun tak lama. Kugenjot lubang anusnya dengan tempo yang lumayan cepat. Dan Bu Moniq kembali menjerit-jerit kesakitan. Dia mencoba menendangku, mendorong pinggulku, ataupun menyerangku. Namun sia-sia saja, hal itu tak bisa menghentikanku menggenjot anusnya.

Tak lama berselang, ada sensasi yang akan segera meledak dalam diriku. Segera saja ku pacu penisku dengan cepat mendobrak anus Bu Moniq. Dan beberapa saat kemudian ‘crooot, crooot, crooott’ muncratlah semua spermaku memenuhi lubang anusnya.

“Aaaaggghhhh, agggghhh, nikmatnya.. Aghhh, hmmmm…” desahku.

Kulihat Bu Moniq tak bereaksi. Dia langsung ambruk ketika kulepaskan cengkraman tanganku di pinggulnya. Dan benar saja, dia jatuh pingsan.

Lelehan spermaku meleleh keluar dari lubang anus Bu Moniq, bercampur dengan darah perawan anusnya. Lubang vagina dan lubang anusnya terlihat menganga cukup lebar.

Kulangkahkan kakiku mendekati tubuh Bu Moniq. Kujejalkan penisku ke dalam mulutnya, guna membersihkan sisa spermaku dan bercak darah anusnya. Kutekan penisku sampai mentok di dalam tenggorokan Bu Moniq.

Hal itu membuatku Bu Moniq terbangun. Ternyata dia tersedak karena ulahku itu. Dia masih terlihat meringis kesakitan, namun aura kepuasan jauh lebih jelas terlihat di tatapan dan ekspresi wajahnya.

“Bangun juga kamu Tante. Gimana rasanya disetubuhi oleh ku? Tante suka?” tanyaku padanya.

Dia hanya mengangguk lemah. Sebuah senyum manis mengembang di wajah cantiknya. Sebuah senyum yang penuh arti.

“Makasih yaa Tante. Vagina tante enak banget, masih legit. Apalagi lubang anus tante, sunnguh luar biasa.” ucapku mengecup keningnya.

“Oiya, jangan ceritain kejadian ini sama Siescha yaa. Dan satu lagi, mulai detik ini Tante harus patuh kepadaku. Karna aku akan memuaskan birahi Tante setiap saat.” lanjutku.

Dia hanya menatapku sayu. Sebuah tatapan yang penuh arti. Lalu sebuah senyum tampak mengembang di bibir seksinya.

Dan sore itu kami kembali bersetubuh dua Kali lagi. Kami melakukannya di kamar Bu Moniq, mengingat akan lebih mengasikan disana. Sore itu sudah tak terhitung Bu Moniq mendapatkan orgasmenya. Yang kutahu, dia mengalami Squirting sampai 4 kali hari itu. Nampak jelas terlihat di sprei yang sangat basah dan bau pesing. Sedangkan aku hanya mendapat orgasme 2 Kali lagi, satu ku keluar kan di mulut dan wajahnya, satu lagi di dalam rahim Bu Moniq. Namun itu cukup membuatku sangat puas dan lemas hari itu.

Aktifitas panas kami baru berakhir pukul 9 malam. Kami bercinta selama 4 jam sore itu. Dan keseluruhan, aku telah bercinta selama 8 jam hari itu. Sungguh sangat menguras tenagaku. Namun sangat membuatku puas.

————————Lust

Author: 

Related Posts

Comments are closed.