Kisah Sex Nikmatnya Entot Dua Kontol Sekaligus

Kisah Sex Nikmatnya Entot Dua Kontol Sekaligusby on.Kisah Sex Nikmatnya Entot Dua Kontol Sekaligus Kisah Sex Nikmatnya Entot Dua Kontol Sekaligus Sakit hati-nya Bimo mungkin lebih sakit dari sakit gigi. Terpuruk-nya Bimo mungkin lebih terpuruk dari pada nilai tukar Rupiah. Tapi Bimo masih beruntung mempunyai sahabat sekaliber Revan dan Andri. Walau kalau lagi senang Bimo selalu melupakan mereka, tapi saat Bimo sedih mereka selalu ada. Seandainya ada Award best […]

multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-5 (2)multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-5 (1)  multixnxx- Rena Arai Yuzuha Takeuchi Rena Arai Yu-5Kisah Sex Nikmatnya Entot Dua Kontol Sekaligus
Sakit hati-nya Bimo mungkin lebih sakit dari sakit gigi. Terpuruk-nya Bimo mungkin lebih terpuruk dari pada nilai tukar Rupiah. Tapi Bimo masih beruntung mempunyai sahabat sekaliber Revan dan Andri. Walau kalau lagi senang Bimo selalu melupakan mereka, tapi saat Bimo sedih mereka selalu ada.

Seandainya ada Award best friend of the years, Revan dan Andri mungkin bakal masuk nominator sahabat terdahsyat. Bagaimana tidak. Hampir sebulan ini mereka dengan telaten selalu menemani Bimo. Bahkan mereka sampai mengesampingkan kehidupan mereka sendiri, menomor duakan Wanda dan Septi yang seharus-nya lebih berhak di perhatikan.

Di sekolah Wanda dan Septi harus rela runtang-runtung berlima persis kayak power ranger. Sepulang sekolah, mereka juga harus ikhlas Revan dan Andri sibuk menemani Bimo nongkrong ngobrol main PS atau bahkan mabok anggur kolesom cap orang tua. Di dunia ini mungkin hanya ada seribu dua cewek sesabar dan seikhlas Wanda dan Septi.

Apapun akan mereka lakukan dan ikhlaskan asal Bimo tidak sedih dan merasa sendiri. Bahkan Septi juga sampai merelakan rumahnya yang selalu sepi menjadi markas dadakan Bimo cs.

“Hari ini enaknya ngapain ya?” Ujar Revan sambil duduk selonjoran di teras rumah Septi.

“Main PS aja.” Sahut Bimo sambil menyusul lesehan di samping Revan.

“Mabok aja yuk?” Sekilas Bimo dan Revan saling berpandangan. Mabok? Sepertinya seru juga. “Tapi…”

“Tapi apa?” Andri menatap Bimo dan Revan bergantian sambil membuat tanda jari fulus.

Sebentar Revan berfikir. “Bentar.” Dan kemudian beranjak masuk menghampiri Wanda dan Septi di ruang keluarga. “Nda…”

“Apa?”

“Hehehe…” Revan meringis cengengesan sambil menggaruk garuk tengkuk. “Kamu cantik deh Nda.”

“Udah deh… Nggak usah sok mesra. Apaan?”

“Hehehe… Bagi duit dong.”

Kontan Wanda mendelik merengut. “Boga bagi boga bagi… Ngasih belanja enggak, mintain iya.” Runtuknya tapi sambil mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dari kantong seragam sekolahnya.

Revan mendelik setengah ragu menerima uang itu. “Ini doang?”

“Lha terus?”

“Yang warna biru kek.”

“Emang mo beli apa sih?” Revan merenges cengengesan. “Mo mabok ya?” Dan kemudian mengangguk.

“Klo cuma segini nggak cukup Nda.”

“Hm…” Wanda melotot galak.

“Iya iyaaa… Gitu aja ngeluarin taring.” Mentok di Wanda, Revan kemudian ganti merenges ke arah Septi yang sedang asik rebahan menonton televisi di samping Wanda. “Bu Septi…” Panggilnya dengan nada di imut imutin.

“Minta tambah?” Tebak Septi tepat sasaran. Sambil merengan merenges kayak orang ayan, Revan mengangguk semangat. “Andri…!” Teriak Septi memanggil suaminya.

Glubug Glubug…

“Iya.” Secepat kilat Andri langsung berlari menghampiri Septi. “Apa sep?”

“Temenmu minta tambah tu.”

“Njier…” Sambil semremet geregetan Andri langsung menyeret Revan keluar. “Oon! Ngapain juga pakek minta tambah Septi segala. Guoblog!”

“Lha emang kenapa?” Sahut Revan sok berlagak pilon.

Kesal Revan kemudian menoyor kepala oon Revan. “Kenapa ndiasmu!” Sambil kemudian mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan dari kantong celana-nya. “Ni…”

“Dih… Segini doang. Dapat apaan ini?”

Bimo merenges melihat tingkah lucu kedua sahabat-nya itu. “Ribut aja sih… Ni.” Dan kemudian menyodorkan selembar merah seratus ribuan.

“Banyak duit dia rupanya.” Ujar Revan sambil menyambar duit itu dan langsung berlari ke arah motornya. “Empat botol kuat nggak?” Tanya-nya sambil menyetater motor.

“Kuat.” Sahut Bimo dan Andri kompak.

Bruuuuum…

Tanpa basa basi Revan langsung menggenjot motornya meluncur belanja anggur merah cap orang tua di warung jamu terdekat. “Emang kenapa sih klo minta duit ama Septi?” Tanya Bimo sambil kemudian menyalakan sebatang rokok.

“Ya goblog aja. Udah tau aku blon bisa ngasih uang belanja ke Septi, eh tu kunyuk malah nekat minta.”

“Lha terus masalah-nya dimana.”

“Dih… Ketularan pekok ni bocah.” Andri mendecak kesal. “Ya masalahnya ntar Septi jadi rame makin nuntut uang belanja. Ngerti nggak?”

“Oooo…” Bimo mengangguk polos. “Ya tinggal di kasih. Gampang to.”

“Gampang ndiasmu!” Andri menoyor kepala Bimo bolak balik. “Emang yang mau di kasih apa? Duit dari mana? Kerja aja belum.”

“Ya kerja dong.”

Baru Andri mau menjawab. “Aku juga nggak pernah di belanja tapi di mintain terus.” Tiba tiba Wanda nongol dari balik pintu menimpali.

Bimo dan Andri kompak langsung menengok ke arah Wanda. “Ya maklum apa Nda. Ntar juga kan di belanja kalau kalian dah nikah terus tu kunyuk dah kerja. Sementara pengorbanan dulu napa.” Timpal Andri sok bijak brilian.

“Lha aku? Udah nikah tapi suamiku nggak kerja kerja terus aku juga nggak pernah di kasih belanja.”

Mampus! Kalau ini namanya dapuk dan Andri hanya bisa menunduk menekuk wajah. Mau beralasan sedahsyat apapun tapi nyatanya sebagai suami dia belum bisa menafkahi istrinya. Paling banter Andri cuma ngasih jajan bakso, itu juga duit sisa uang saku bukan hasil keringatnya sendiri.

“Tapi kan nafkah batin nggak pernah telat.” Sahut Andri pelan.

“Emang cukup makan kontol doang!” Mendengar itu, Bimo dan Wanda sontak melongo kaget. Demi apa coba? Rasanya ajaib mendengar kata jorok itu keluar dari mulut Septi yang rada rada kalem.

“Tapi kan gede beib.”

oOo
Sementara itu di rumah Aditya. Sebulan pacaran Arimbi sudah semakin dekat dengan keluarga Aditya. Walau tidak setiap hari, tapi Arimbi sudah lumayan sering main ke rumah Aditya. Bu Ratna pasti langsung girang bukan kepalang setiap Arimbi datang bertandang.

Perlahan Aditya menggeser duduk-nya semakin dekat. “Rim…”

“Hm.”

Sebentar Aditya mengintip ke dalam rumah. Merasa situasi aman, perlahan Aditya mendekat dan kemudian berbisik di telinga Arimbi. “Minta cium boleh.”

Sekilas Arimbi menatap mata pacarnya itu. Walau sudah sebulan pacaran, tapi Arimbi belum pernah di apa apain. Paling banter mereka baru pegangan tangan atau Arimbi memeluk Aditya pas di bonceng motor. Sebentar berfikir, Arimbi akhirnya mengangguk malu malu. Toh Aditya pacarnya, dan Aditya punya hak kalau hanya sekedar minta ciuman.

“Serius?”

Arimbi kembali mengangguk malu malu.

Aditya girang bukan kepalang. Dengan dada dag dig dug, perlahan Aditya mulai mendekat mendekat dan semakin mendekat. “Mas Adieeeeet…!” Tinggal sesenti lagi Aditya berhasil mencium Arimbi untuk yang pertama kali, tapi tiba-tiba ada gangguan datang.

Kamita. Adik perempuan Aditya yang centil binti tengil itu datang di saat yang sama sekali tidak tepat. Bukanya merasa bersalah, Kamita malah dengan songongnya menyela duduk di tengah tengah Aditya dan Arimbi. “Nggak boleh mesum di rumah.” Seloroh Kamita sok serius.

“Anak kecil tau apa sih?” Runtuk Aditya sebal. Sementara Arimbi, dia hanya bersemu malu karena kepergok hampir berciuman dengan Aditya.

“Yeee… Kamita dah gede keles. Udah mens.”

“Ya bodo!” Dengan kesal Aditya mendorong dorong paksa mengusir kamita pergi. “Minggat sono ih! Gangguin orang lagi indehoi aja.”

“Mas Adit tu yang minggat.” Kamita perlahan beranjak berdiri. “Orang Kamita mo manggil Mbak Arim, Di panggil Mama. Weeeek.” Dan kemudian meraih lengan Arimbi. “Ayo Mbak… Di tunggu Mama dapur.”

Dengan terpaksa Arimbi akhirnya menuruti Kamita dan meninggalkan Aditya yang cemberut merengut tergagalkan ciuman perdananya. “Bentar ya Dit.”

“Hadeeeewh…” Aditya melengguh kesal sambil menggigit bantak sofa gemas.

Sesampainya di dapur, Bu Ratna langsung tersenyum senang menyambut pacar anaknya yang cantik jelita. “Ayo Rim… Bantuin Mama masak.”

“Iya Mbak… Hari ini kita masak sayur nangka campur pete.” Timpal Kamita bersemangat. “Terus entar lauknya kita goreng ayam.” Arimbi tersenyum gemes melihat tingkah lucu kadang jayus adik Aditya.

“Terserah Kamita deh.” Sahut Arimbi sambil kemudian mengangguk. mengiyakan.

“Ih… Seneng deh punya kakak kek Mbak Arim.” Girang Kamita sambil menggelayut manja di lengan Arimbi. “Cantik pinter nyenengin.”

Ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya untuk Bu Hana sang bunda tercinta. Pemaksaan yang dulu sempat di kata kejam ternyata ada manfaatnya juga. Walau belum ahli dan masih sedikit kaku, tapi paling tidak di saat seperti ini Arimbi tidak malu maluin.

Pas! Calon mertua mana coba yang tidak bahagia riang gembira mendaoat calon menantu sejelita dan secalon berbakat memasak seperti Arimbi. “Ya udah… Kamu ganti pakek kaos Kamita dulu gih.”

“Ya nggak muat kali Ma.”

“Muat lah… Kamu kan ndut.” Kamita langsung merengut kesal di kata ndut seperti itu. Biarpun kenyataan dia memang ndut, tapi Kamita paling sebal kalau di bilang seperti itu.

“Kamita tu nggak ndut Mamaaaa… Chuby.” Runtuk-nya sambil merengut dan kemudian menarik Arimbi menuju kamar-nya.

Selesai berganti dengan kaos Kamita ndut, Arimbi langsung kembali kedapur. Bertiga Ibu Anak dan -mungkin- calon mantu itu langsung sibuk dengan kegiatan dapur.

Bahagia. Senyum terkembang lepas di bibir Arimbi, terlebih lagi mendengar celoteh celoteh lucu Kamita yang manja. Sepertinya waktu mulai berhasil mengajari Arimbi bagaimana caranya mencintai Aditya. Mungkin dia sudah bisa Move on. Mungkin.

oOo
Di teras rumah Septi, Bimo Revan dan Andri sudah asik berjibaku dengan TM Alias Tomi alian Tapi Miring. Sloki demi sloki minuman keras itu di tuang dan di edarkan. “Eeeeh… Pait.” Keluh Bimo sambil bergidik setelah menenggak minuman itu. “Lagian napa sih nggak beli anggur aja kek biasanya?”

“Mumpung ada duit.”

“Tapi kan pait banget coeg!”

“Haiyah… Cemen bet sih.” Andri kembali menuangkan TM ke sloki dan kemudian memberikan-nya ke Revan.

“Lihat kakak Revan ni…” Revan langsung mengangkat gelas sloki itu dan… Hup…. langsung menuang dan menelan isinya tanpa jeda. “Aaaaah… Segaaar.”

“Sok kemuat.” Runtuk Bimo. Hanya orang lebay yang bilang Topi Miring segar. Karena apapun oplosan-nya, mau sebanyak apapun campuran-nya, rasanya tetap sama saja, pait.

Sementara ketiga sahabat itu asik menenggak sloki demi sloki minuman keras, di dalam rumah Wanda dan Septi hanya bisa ngedumel kesal. Mereka ikhlas ikhlas saja trio semprul itu mau ngapain juga, tapi kalau urusan mabok? Sumpah demi apa juga mereka aslinya tidak sepenuhnya ikhlas.

Biar begitu, tapi tetap saja Wanda dan Septi juga tidak bisa melarang. Selain karena memang dari dulu mereka kadang suka begitu, terlebih lagi sekarang juga demi Bimo. Sekali lagi apapun mereka ikhlaskan asal Bimo bahagia dan tidak merasa sendiri.

Stop! Nggak usah mikir lebih jauh!

“Ini enaknya si Bimo di apain ya?” Ujar Septi sambil melirik sebel ke arah teras.

Wanda sedikit mengerutkan alis bingung. “Maksudnya?”

“Ya Bimo kita cariin jodoh kek ato gimana kek. Biar mereka nggak terus terusan kek gitu.” Wanda sejenak berfikir. Mencarikan Bimo jodoh sepertinya itu ide yang bagus. Tapi yang jadi masalahnya siapa. “Kamu kenal ama yang namanya Anita nggak?” Lanjut Septi.

“Anita Anita Anita…” Wanda sejenak berusaha mengingat ingat nama itu. “Anita yang mana sih? Anak kelas dua itu bukan?”

“Dih… Bukan. Itu loh… Yang dulu sempet di pedekatein Bimo.”

“Oooo…” Wanda megangguk angguk ingat. “Anita yang anak SMA 2 itu?”

Septi mengangguk mengiyakan.

Wanda ingat, betapa galau dan uring uringan-nya Arimbi saat dulu Bimo pedekate dengan Anita. Setiap kali Bimo mau jalan sama Anita, Arimbi selalu berulah dan terus ngintilin persis kayak kutil. Hanya sejauh itu yang Wanda ingat. Dan setelahnya entah kenapa dan karena apa ujug ujug Bimo stop pedekatein Anita.

“Klo mo kita jodohin ama Anita caranya gimana?”

“Ya udah… Ntar kita rembukin aja ama Andri ma Revan klo Bimo dan pulang.” Sahut Wanda sambil meraih remot tivi dan memindah chanel. “Eh… Tapi beneran kamu nuntut uang belanja?”

“Ya iyalah… Enak aja aku cuma di noak naikin doang tapi nggak di nafkahin. Emang di kira memek aku memek negara apa?!”

“Tapi kan enak.”

Septi sedikit mengerutkan alis curiga. “Kok tau klo enak? Emang kamu ama Revan udah?”

“Sorry ya… Kita sih pemuda pemudi baik baik, nggak kayak situ keles.”

“Seriuuuus…”

“Iya.”

“Miyapa?”

“Mi ayam!” Sahut Wanda sebel sambil menggonta ganti chanel tivi kesel.

Di teras Bimo Andri dan Revan sudah hampir tepar mabok Topi miring. Revan yang sok kemuat malah sudah tak sanggup lagi membawa kepalanya yang terasa berat. Bocah itu hanya bisa merem sambil bersandar tembok.

“Sok kemuat tapi malah tepar duluan.” Ledek Bimo sambil menggak sloki terakhir.

“Kakak Revan mabok sodara sodara.” Sahut Revan kemudian menggelosor terlentang di lantai. Bimo dan Andri kontan menertawakan keadaan Revan yang mabok berat itu.

“Eh Bim?”

Bimo menengok ke arah Andri. “Apa cuin?”

“Kamu cinta ama Arimbi?”

Di bawah pengaruh alkohol membuat Bimo mengangguk mengiyakan tanpa malu malu lagi. Tidak ada lagi tedeng aling aling seperti biasanya. “Cinta bro… Pakek baget malah.”

“Terus kapan bisa move on?”

Sebentar Bimo menyalakan sebatang rokok dan kemudian menghisap-nya dalam dalam. “Berat bro… Berat.” Sahutnya sambil meniupkan asap rokok itu mengepul di udara.

“Kenapa kamu nggak coba nyari gebetan aja. Sapa tau dengan gitu kamu bisa move on.”

“Anita Cuin… Anita.” Cetuk Revan sambil terlentang merem.

Anita? Mendengar nama itu seketika pipi Bimo terasa ngilu. Tamparan Anita waktu itu kembali terasa. “Tapi nggak bisa bro.”

“Kenaaapa?” Dengan tertatih Revan berusaha bangun dan menyandarkan kepalanya di tembok. “Hajar aja bleh… Cemungud dong, cemungud.”

“Iya Bim… Kamu cemungud dong. Ya?”

Bimo mendengus nafas panjang. Anita. Entah apa masih punya muka Bimo kembali medekatein bocah itu. Apa masih mungkin ada harapan untuk itu. Dan yang jelas menjadikan Anita pelarian adalah salah.

“Tau ah bro… Ntar tak pikire dulu.” Sekarang Bimo masih belum kuat berfikir. Biarlah itu masalah nanti, yang jelas sekarang nikmati dulu sensasinya pozeng pala barbie sambil bermain dengan asap rokok.

Move on tidak harus buru buru.

~~~oOo~~~
Matahari sudah tenggelam di barat sana, adzan maghrib juga sudah berkumandang bersahutan. Tapi dari tadi siang sepulang sekolah sampai sekarang Bimo belum juga pulang kerumah. “Ini Bocah kemana sih?” Dumel Bu Sriati sambil bolak balik menengok ke arah luar.

“Main kali Buk.” Sahut Pak Edi dengan santainya.

“Ya main juga ada aturan-nya Pak.”

“Anak cowok ini. Nggak pulang juga nggak bakalan hamil kok.”

“Bapak ini.” Bu Sriati semakin semeremet mendengar jawaban santai dari suaminya itu. Bisa bisanya Pak Edi sesantai itu tanpa sedikitpun merasa khawatir. “Ya nggak mungkin hamil juga Pak. Lha tapi klo kenapa napa? Klo sampek ikutan narkoba? Siapa juga yang rugi coba?”

“Hehe…” Pak Edi malah merenges. “Di sini mana ada narkoba to Buuuk Buk.”

“Lha kok bilang nggak ada? Emang Bapak tau apa?”

“Ya nggak tau, tapi yang jelas nggak mungkin di sini ada narkoba. Paling buanter juga mabok Ciu. Ini kan kampung Buk… Kota kecil bukan metropolitan kek Njrakata.”

“Iya… Mabok mabokan kek Bapak dulu!”

“Hehehe…” Pak Edi kembali merenges. “Eh… Tapi perasaan akhir akhir ini Bimo jarang bareng Arimbi. Kenapa ya?”

“Tumben merhatiin?”

“Ya nggak di perhatiin juga kelihatan kali Buk.”

“Huh.” Bu Sriati mendengus kesal. “Nggak tau kenapa.”

“Mereka berantem kali.”

Bu Sriati sedikit mengangkat bahu. “Ya kali.”

Bruuuuum…

Grubyak!

Tiba tiba terdengar suara gaduh seperti ada yang jatuh di teras rumah. Reflek Bu Sriati langsung tergopoh keluar. Di halaman depan, Bimo terlihat tertatih berusaha memberdirikan motor maticnya yang rubuh. “Bimo?!”

Bimo merenges ke arah Ibunya sambil menyetandarkan motornya. “Eh Ibuk.”

“Kamu mabok ya?!”

“Hehehe…” Bimo kembali merenges cengengesan sambil berjalan sempoyongan menghampiri Ibunya yang berkacak pinggang garang di teras. “Peace Madam… Peaceeee…”

“Kamu ini!” Hampir Bu Sriati menempeleng Bimo, tapi keburu Pak Edi melarang mencegahnya.

“Jangan Buk… Nggak usah gitu.”

“Tapi kan Pak?”

Pak Edi menggeleng melarang.

“Eh ada Father…” Biarpun mabok berat, tapi Bimo tetap tidak lupa mencium tangan kedua orang tuanya. “Arigato gozaimasu!” Setelah membungkuk ala jepang, Bimo kemudian menggeloyor sempoyongan masuk di iringi tatapan ngenes Bu Sriati.

“Ok… Sekarang kamu selamet Bim. Tapi awas aja besok, tak kruwes kruwes ampe crispi kamu.”

~~~oOo~~~

Bersambung

Author: 

Related Posts

Comments are closed.