Cerita Dewasa 4 Hearts & A Fool – Part 72

Cerita Dewasa 4 Hearts & A Fool – Part 72by on.Cerita Dewasa 4 Hearts & A Fool – Part 724 Hearts & A Fool – Part 72 28 Three Become One Perjalanan ke Anyer ini benar-benar membuatku selalu teringat akan momen yang aku jalanin bersama Rangga, beberapa waktu yang lalu. Saat kami berdua saling menumpahkan perasaan dan gairah kami yang begitu menggebu-gebu. Aku bagaikan seorang remaja yang sedang jatuh cinta pada seorang pemuda. Yang […]

multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-9 (1) multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-9 (2)4 Hearts & A Fool – Part 72

28 Three Become One

Perjalanan ke Anyer ini benar-benar membuatku selalu teringat akan momen yang aku jalanin bersama Rangga, beberapa waktu yang lalu. Saat kami berdua saling menumpahkan perasaan dan gairah kami yang begitu menggebu-gebu.

Aku bagaikan seorang remaja yang sedang jatuh cinta pada seorang pemuda. Yang membuat ku menjadi lupa diri dan usia. Padahal aku sudah berkepala tiga, dan telah memiliki seorang putera, hasil pernikahanku dengan suami, yang dulu pernah aku cinta.

Namun semenjak dirinya memilih wanita lain untuk diberikan cinta dan kasih sayangnya, tanpa aku rencanakan dan semua terjadi begitu saja bagaikan air yang mengalir, aku pun akhirnya melabuhkan cinta dan harapan ku kepada seorang pria, yang sehari-harinya menjadi bawahan di kantor tempat ku bekerja.

Tapi, sejak kami berbagi segala nya di Anyer waktu itu, aku menyadari juga, bahwa apa yang telah kulakukan bersama Rangga ini, tidaklah abadi. Karena status ku yang masih menjadi seorang istri Kevin, yang sah secara hukum, walau hatiku saat ini menyangkalnya.

Aku ingin sekali bercerai dengan Kevin, karena aku sudah hilang harapan dengannya saat ini. Tepatnya sejak ia menghina ku habis-habisan di hadapan selingkuhannya itu. Tapi, aku kasihan kepada Lukas. Aku tidak mau hanya demi kebahagiaan ku semata, aku harus mengorbankan kebahagiaan Lukas. Jadi biarlah aku melepas Rangga, walau hatiku sangat sakit, apabila melihatnya bersama wanita lain. Seperti yang aku lihat saat di bis tadi, saat Rangga tidur memeluk Rani. Walau mungkin ia melakukannya tanpa sadar, tapi tetap saja pemandangan itu begitu menyakitkan hati.

Atau, saat aku mengetahui bahwa Rangga juga pernah bermain cinta dengan Cherllyne, di belakangku. Aku bahkan sempat membenci Rangga, karena aku merasa telah dipermainkannya. Tapi, segala penjelasanya itu telah membuat hatiku luluh lagi, dan memaafkannya. Aku bahkan sekarang menajdi sangat dekat dengan Cherllyne.

Dimana Cherllyne yang kembali menyadarkan aku, bahwa aku tidak bisa membiarkan Rangga terus bersama dengan ku, yang status nya masih seorang istri dari pria lain. Cherllyne menyadarkanku, bahwa demi kebahagiaan Rangga, aku harus melepaskan Rangga. Aku dan Cherllyne, bahkan sempat hmm…saling mengenal tubuh kami satu sama lain dengan lebih baik.

Aku dan Cherllyne pun sepakat, untuk memberikan sedikit bantuan kepada Rangga, dengan mencoba menyatukannya dengan seorang wanita yang kami sama-sama tau, bahwa Rangga pun sangat menyayanginya. Apalagi, saat ini wanita itu sudah terbebas dari pengganggu nya.

Namun, di pantai Anyer ini, dimana tempat ini menjadi begitu berkesan di dalam hatiku seumur hidup, aku merasakan kerinduan yang begitu besar kepada Rangga. Pria yang amat sangat aku cintai lebih dari pria manapun, kecuali Lukas, anakku.

Aku ingin sekali lagi, untuk yang terakhir kalinya, sebelum Rangga benar-benar menjadi kekasih wanita itu, aku ingin bermesraan dan bermanja-manjaan dengan Rangga, di sini, di tempat kenangan kami berdua.

Dan rupanya, Tuhan itu maha kuasa. Ia mengabulkan permohonanku dengan cepat, saat tiba-tiba Rangga menghampiri ku, yang sedang berada di tepi pantai, sedang mengenang apa saja yang kami lakukan kemarin itu.

Kalau tidak mengingat banyak rekan-rekan kantor di sekitar kami, ingin rasanya aku langsung memeluk, dan menciumin Rangga, di sini, saat ini juga. Tapi kemudian aku memiliki ide yang lebih baik lagi. Ada satu tempat yang aman untuk kami saling bermesraan lagi. Lebih tepatnya sebuah kamar. Kamar yang menjadi saksi bisu pertempuran birahi kami hampir sepanjang hari, beberapa waktu lalu itu.

Aku pun segera mengajak Rangga untuk mengulang lagi percintaan kami di kamar kenangan kami berdua itu. Aku segera masuk ke dalam kamarku, mengambil sebuah lingerie, tanpa sepengetahuan bu Vera. Lingerie itu memang sengaja aku bawa, hanya untuk berjaga-jaga, karena siapa tau kami memiliki waktu untuk bermesraan. Yang kenyataannya, memang itu yang terjadi kemudian.

Di dalam kamar kenangan kami, aku segera melepaskan seluruh pakaianku. Dan berdandan sedikit dengan halus dan terlihat natural. Aku segera memakai lingerie itu, dan berdiri di pinggir jendela, melamun dan mengenang kisah singkat kami berdua, sambil menunggu kedatangan Rangga.

Aku mendengar pintu tiba-tiba di buka dari luar. Aku yang sudah yakin itu Rangga, hanya tetap berdiri saja, sampai aku kemudian mendengar pintu di tutup dan di kunci. Lalu sebuah langkah kaki sedang berjalan mendekatiku. Jantungku berdebar-debar menantikan sentuhannya di kulitku. Dan tiba-tiba dua buah tangan, menyusup dari sela-sela kedua lenganku, memeluk lembut pinggangku, Rangga mulai memeluk ku dari belakang, dan mengecupi pundak aku.

“Lagi mikirin apaan mba? Apa ada masalah ama koh Kevin lagi?” Tanya Rangga, sambil mengecup-ngecup pundak ku, membuatku merasa sedikit kegelian, sambil berusaha melihat ke arah nya

“Ga mikirin apa-apa kok Rangga sayang. Aku…cuma bakal amat merindukan tempat ini. Merindukan kamar ini. Merindukan kamu, sayang. Aku…sekarang jadi tau rasa takut yang dia rasain waktu itu.” Jawabku. Aku kembali terkenang akan apa yang Cherllyne pernah katakan kepadaku, malam itu. Aku…jadi sedikit memahami kepedihan hatinya malam itu.

“Mba…sebenarnya ada masalah apa sih? Dia itu siapa mba?” Rangga bertanya dengan wajah yang terlihat bingung. Hmm…perlukah aku kasih tau Rangga saat ini?

“Mba kasih tau aku kalo ada masalah. Jadi mungkin aku bisa bantu apapun yang aku bisa, mba.” Ujar Rangga lagi. Dan aku hanya berusaha memberikan senyuman lembut untuknya. Maafkan aku ya sayang, aku belum bisa kasih tau kamu dulu unyuk saat ini.

“Gapapa sayang. Walau aku pasti bakalan merindukan kamu setengah mati, tapi memang ini yang aku inginkan. Demi masa depan kamu, sayang.” Aku hanya memberikan jawaban tersirat kepadanya.

“Dan maafin aku yah sayang kalo nanti aku ga bisa lagi hmm…ngelayanin kamu, kalo kamu nanti lagi pengen itu. Tapi kalo bisa, kamu nya juga JANGAN ngerayu aku yah, karena aku paling ga tahan ama rayuan gombal kamu tau. Hehehe.” Ujar ku lagi dengan nada manja, sambil bersandar di bahu Rangga. Aku ingin menikmati perasaan ini walau hanya sekejap saja. Rangga langsung memeluk erat tubuhku.

Aku kemudian berbalik badan, sehingga sekarang sedang berhadapan dengan Rangga. “Aku mao kamu tau, Ga, bahwa aku akan selalu menyayangi dan mencintai kamu. Aku akan selalu ada buat kamu, tapi…dengan cara ku sendiri nanti nya yah dalam mencintai kamu. Karena mungkin aku ga bisa menyayangi kamu langsung seperti sekarang, tapi, itu bukan berarti aku uda ga cinta lagi ama kamu ya. Inget itu ya sayang. I will always in love with you. Forever. Ujar ku. Aku rasanya jadi ingin menangis saat mengucapkan itu. Dan untuk menahan tangisanku, aku kemudian mengecup lembut bibir Rangga.

Hanya kecupan-kecupan ringan awalnya, yang lama-kemalamaan berubah menjadi lumatan-lumatan kecil, dan saling menghisap bibir satu sama lain. Hingga akhirnya kami benar-benar saling melumat bibir dengan penuh gairah birahi.

Gairah kami berdua pun mulai meningkat lagi. Kami mulai terlibat satu pergumulan yang penuh gairah. Aku bertekad ingin memberikan kepuasan maksimal, untuk yang terakhir kalinya aku bersama Rangga.

Nafas ku mulai semakin memburu, begitu pula dengan Rangga, seiring dengan semakin memuncaknya gairah kami berdua. Tangan ku kemudian melingkar di leher Rangga, sambil menekan kepala nya agar lebih merapat ke bibirku.

Lidah kami saling membelit dan saling menarik. Kami pun saling menghisap air liur kami. Aku merasa begitu bergejolak dan sangat bergairah. Aku terus melumati bibir Rangga dengan gairah yang ber-api-api. Dan tangan Rangga pun rupanya gak tinggal diam. Tangan Rangga mulai merayapi sekujur tubuh ku, mulai dari pinggang ku, lengan ku, leher ku, perut ku hingga mulai menetap di area sekitar payudara ku, dimana puting susu ku telah mengeras dan menonjol menembusi kain tipis, lingerie yang aku pakai ini.

Unghh…mmmhhhh….sshhh” Aku langsung melenguh kecil, saat jemari Rangga menggesek-gesek puting payudara ku dari luar lingerie. Aku bagaikan orang yang sedang kehausan. Aku langsung melumat dan menghisap mulut Rangga dengan kuat.

Tangan Rangga lalu melepasi dan menurunkan tali lingerie ku. Rangga lalu menurunkan lingerie ku itu hingga kepinggang, dan memperlihatkan kedua payudara ku yang terlihat menggoda dan menantang Rangga untuk menjamahnya.

Ooouuuhhhh…ssshhhh….aaahhhhhhh…gelihh sayangghhh…aahhhh Dan saat Rangga langsung mencaplok payudara ku dengan mulut nya, aku langsung mendesah panjang hingga merintih karena rasa geli yang langsung menjalari tubuhku.

Rangga mengulum dan menghisap-hisap puting payudara ku yang sudah mancung dan mengeras itu. Sementara tangan Rangga meremasi payudara ku yang satu lagi. Tangan ku reflek langsung meremasi rambut Rangga. Kadang tangan ku justru menekan kepala Rangga, seolah ingin menempelkan kepala Rangga semakin erat ke dada ku itu.

Saking gemasnya, Rangga bahkan banyak mencupangi bagian dada ku, termasuk di payudara ku. Aku sempat khawatir apabila ada yang melihat banyak tanda merah di sekitar dada ku. Terutama Kevin. Tapi entah mengapa, aku tak kuasa menolak Rangga, karena aku befitu menyayangonya. Aku pun akhirnya malah membiarkannya, bahkan seakan malah mendorong nya untuk melakukan lebih banyak lagi.

Mba gak marah saya bikin cupang banyak banget di dada mba? Tanya Rangga sambil menatap wajah ku. Bagaimana aku bisa menolak kamu sayang ku. Aku menatap wajah seorang pria yang telah memiliki seluruh hati ku ini.

Kamu boleh bikin cupang dimana aja kamu mau Ga. Karena walau secara hukum, saya masih milik orang lain, tapi di hati saya, Tuhan tau hanya kamu seorang lah pemilik tubuh dan hati ku ini Ga. Jadi kamu boleh bikin cupang dimana aja kamu suka. Dan aku ga akan malu-malu menunjukan itu ke orang-orang. Karena yang memebriku cupangan ini adalah cowo yang begitu menyayangi aku, dan aku cinta banget. Jelas ku sambil memeluk erat tubuh Rangga. Aku rela berbuat apa aja demi kamu, Ga. Dan Rangga pun semakin erat memeluk tubuh ku.

Aku kemudian segera berusaha membuka kaos yang dikenakan oleh Rangga, hingga Rangga pun bertelanjang dada sekarang. Bibir ku langsung menciumi sekujur badan Rangga. Tangan ku juga, dengan berinisiatif langsung membuka kancing celana panjang Rangga, sekalian menurunkan resletingnya.

Aku langsung menyusupkan tanganku ke dalam celana dalam Rangga, dan meremasi batang kemaluan Rangga yang sudah mulai mengeras. Aku kemudian mengocok-ngocok batang kemaluan Rangga dengan lembut, sambil terus menciumi sekujur tubuh nya.

Aku pun langsung menurunkan celana panjang Rangga, berikut dengan celana dalamnya, sehingga batang kemaluan Rangga, yang telah mengeras pun langsung meloncat keluar, saat celana dalam nya sudah turun hingga mata kaki.

Aku kemudian segera menciumi dan menjilati batang Rangga, dengan selembut mungkin, karena aku ingin Rangga benar-benar merasa puas dengan cara aku melayaninya. Semakin Rangga mendesis-desis dengan wajah penuh kenikmatan, semakin bersemangat pula aku dalam melayaninya. Tangan ku pun semakin aktif meremasi dan mengocok batang kemaluan Rangga.

Hingga akhirnya mulut ku, secara perlahan dan begitu aku hayatin, mulai menelan habis batang kemaluannya. Aku mulai mengulum batang nya, sambil menghisap-hisap kecil ujung kemaluannya.

Aku bahagia banget melihat Rangga tampaknya begitu menikmati caraku mengulum batang kemaluannya. Memberikan satu kebanggaan tersendiri untuk ku, bisa memberikan kepuasan maksimal untuk nya.

Tubuh dan kepala Rangga semakin tidak bisa diam, menikmati kuluman ku di batang kemaluannya itu. Namun saat aku sedang mengulum sambil tersu mengocok batang kemaluannya, Rangga tiba-tiba langsung mendorong badan ku, hingga batang kemaluannya akhirnya terlepas dari mulutku.

Aku sangat heran sambil melihat ke arah nya, apa kuluman ku tidak memuaskannya? Ato apa aku melukai batang kemaluannya tanpa sengaja? Aku benar-benar bingung Rangga tiba-tiba mendorong pelan badan ku seperti tadi, hingga membuat ku terpaksa melepaskan batang kemaluannya, dari dalam mulutku.

Kenapa sayang? Kena gigi aku kah? Ga enak yah? Tanya ku sangat kuatir mengecewakan Rangga.

Bukan gitu Liana ku yang cantik…haahhh…haahh…haahhh Nafasku bagaikan tercekat, saat mendengar bagaimana Rangga barusan memanggilku. Liana ku yang cantik?? Hihihi…rasanya kok aku seneng banget gini yah. Membuatku menjadi terus menatap Rangga yang sedang ngos-ngosan.

Haahhh…gilaaa…kebalik mba ku sayang justru. Kuluman mba tuh en…. Aku langsung meletakan jemari ku di bibir nya, untuk menghentikan Rangga berbicara sejenak.

Tolong ulangin lagi sayang, apa yang kamu mau bilang tadi. Tapi aku mau kamu manggil aku dengan panggilan yang pertama tadi, jangan pake mba lagi. Ujar ku merasa sangat haru dan bahagia.

Iya Liana ku yang cantik. Justru kuluman mulut kamu itu yang bikin junior aku serasa lumer di mulut seksi kamu. Enak banget Li, haduuhh, ampe lemes kaki aku tuh. Liana ku yang cantik bener-bener uda jago banget maenin si junior nih. Tadi tuh uda ampir dikit lagi meledak si junior ini. Makanya aku buru-buru keluarin deh dari mulut kamu. Ujar Rangga saat menjelaskan kepada ku alasannya.

Dikeluarin di mulut aku juga gapapa kan? Aku suka kok kalo kamu keluarin di mulut aku juga. Kenapa kamu ga keluarin aja yang? Tanya ku lagi sambil memeluk tubuh nya yang telanjang. Rangga terlihat sangat seksi di mataku saat ini.

Aku mau nya tuh meledaknya di mulut kamu yang satu lagi Liana ku yang cantik. Bukan mulut yang ini. Ditambah empotan vegi kamu. Pasti bener-bener maknyus deh. Hehehe Jawab Rangga sambil membelai rambutku. Ukhhh…rasanya hatiku ini ingin meloncat keluar deh, saking bahagianya mendengar ucapan Rangga itu.

Dasar…genit kamu yang Ujar ku sambil memencet pelan hidungnya. Rasa-rasanya aku menjadi semakin manja deh, saat sedang bersama Rangga seperti ini. Tapi…I like it. Hehehe.

Kalo gitu ayo sini…biar aku bikin kamu keluar yang banyak banget di dalam rahim aku, sayang. Aku pengen mengandung anak kamu, yang. Jadi, walau nanti aku ga bisa milikin kamu lagi, setidaknya aku punya warisan kamu yang bisa aku milikin Ujarku sambil menarik tubuh Rangga, naik ke atas tempat tidur. Aku benar-benar minimal, memiliki satu tanda kenangan, akan kebersamaan ku dengan Rangga. Agar aku tidak akan pernah melupakan itu. Aku tidak mau melupakannya.

Hmm?? Liana serius? Mao mengandung anak aku? Emang kamu uda lepas spiral kamu, Liana, sayang? Tanya Rangga, terdengar terkejut mendengar ucapan ku tadi.

He-em..serius banget sayang. Iya, aku uda lepas kemarin. Entah gimana, aku punya firasat kita akan punya waktu untuk bisa ML lagi. Dan aku emang benar-benar ingin mengandung anak kamu. Biar setidaknya ada Rangga junior yang nemenin aku ampe aku tua nanti kalo aku bisa mengandung benih kamu, yang. Jawab ku kemudian. Rangga pun menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak bisa berbicara lagi. Hehehe.

Sebelum naik ke tempat tidur, aku menurunkan dulu lingerieku, hingga aku pun sekarang sudah bertelanjang bulat di hadapan Rangga. Aku lihat, Rangga begitu terpesona menatap tubuh telanjang ku ini. Hihihi. Aku malu sih, tapi aku lebih senang dan bangga, di usia ku seperti ini, masih bisa membuat Rangga terpana. Walau Kevin tidak lagi terpana, aku sudah tidak perduli lagi, karena saat ini Rangga lah yang lebih penting bagi ku.

Ayo sini, kamu tiduran yang. Aku mao bikin kamu puas banget ML ama aku. Ujar ku sambil menarik tangan Rangga, dan meminta Rangga untuk rebahan di tempat tidur. Aku kemudian menaikin tubuh Rangga, sambil melumat lagi bibirnya. Sementara tangan ku meraih batang kemaluannya, dan menggesek-gesekan ke bibir vaginaku, yang telah cukup basah.

Blesss! Ooooohhhhh…yaaannnggghhh…haaahhhhhh Aku langsung memekik cukup keras, saat aku mulai menurunkan pantatku, dan menelan habis batang kemaluan Rangga, di dalam liang kemaluanku, yang terus berkedut-kedut meremasi batang kemaluan Rangga.

Aku pun mulai menggoyang-goyangkan pantat dan pinggulku, dengan bergerak maju-mundur, dan terkadang juga dengan gerakan berputar, seperti hendak memelintir dan meremasi batang kemaluan Rangga itu.

Rangga kemudian membalikan tubuh ku, hingga aku sekarang terlentang di tempat tidur. Rangga pun segera bangun dan menindih tubuhku. Batang kemaluan Rangga di gesek-gesekan di bibir kemaluanku, membuat aku meras geli.

Aaaahhhhhh….aaahhhhhh….aaahhhhhh…geliihhh yaangg…aaahhh Aku langsung merintih-rintih kecil, saat Rangga melesakan batang kemaluannya yang keras bagaikan sebuat batang pohon yang kokoh. Rangga langsung menggoyang tubuhku, memompa isi kemaluanku dengan batang kemaluannya yang terasa mentok dan begitu nikmat.

Ohhh…kamuu…cantikk bangett Lianaa sayangghh. Desis Rangga memuji ku, saat aku sedang merintih menahan rasa nikmat yang menjalar dari pangkal paha ku. Aku langsung meremasi rambut Rangga, saat ia mengayuh tubuhku, sambil memeluk ku.

Seiring waktu, rintihan demi rintihan ku pun semakin keras. Aku seakan tidak perduli lagi akan terdengar keluar atau tidak. Karena rasa geli di pangkal paha ku ini, rasanya seakan tidak tertahankan apabila aku tidak merintih-rintih.

Beberapa lama Rangga terus mengayuh tubuhku, dalam posisi missionary seperti ini, Rangga seperti nya ingin mengganti posisi lagi. Saat tangan Rangga menarik tubuhku, hingga aku terduduk di atas pahanya, dengan kemaluan kami yang masih saling menyatu.

Aku pun mulai menaik turunkan tubuhku, berusaha mengocok batang kemaluan Rangga, sementara bibir Rangga mengulum payudaraku. Oooohhhh… aaaaahhhh.. .Sayanngg… aaahhh.. .aakkuuhhh… gakk kuaattt yangg… geliihh bangett. Racau ku, saat aku semakin cepat menaik turunkan tubuh ku. Batang kemaluan Rangga terasa sangat mentok sekali di dalam kemaluanku.

Goyangan ku pun menjadi semakin heboh, saat aku merasakan getaran-getaran kecil seperti hendak orgasme. Membuat gerakan dan goyangan ku pun menjadi semakin cepat, dan tidak beraturan.

Seiring desakan birahi yang semakin memuncak, rintihan ku pun seolah menjadi tanpa henti dan tanpa jeda. Aku tidak tahan untuk tidak merintih dengan kuat, dengan rasa geli yang nikmat yang menyebar di seluruh tubuhku, setiap kali aku melesakan batang kemaluan Rangga ke dalam liang vagina ku.

Dan Rangga pun masih asik mengulum payudaraku, terus berpindah-pindah dari payudara yang kiri, ke yang kanan, dan sebaliknya. Menambah lagi banyak cupangan di sekitar payudara ku. Sementara tangannya pun tak henti-hentinya meremasi payudaraku yang sedang tidak dikulum oleh mulutnya. Semakin menambah cepat gairah ku.

Ooooohhhh….oohhhhhh….aaaaahhhhhhhf…akuhhh.. .keluaaaaaarrr…AAAHHHHHH Tubuhku langsung mengejang kaku, dan melengkung ke belakang, disertai pantat ku yang langsung berkejat-kejat menyemburkan cairan orgasme ku, menyirami batang kemaluan Rangga, hingga sedikit merembes keluar dan sedikit membasahi seprai tempat tidur ini.

Tubuhku yang terasa lemas langsung bersandar ke tubuh Rangga, hingga Rangga pun akhirnya kembali terlentang, dan tubuhku menindih tubuh Rangga. Nafasku memburu hingga membuatku tersengal-sengal kelelahan.

Enak ga Liana sayangku? Bisik Rangga di telinga ku, sambil membelai lembut rambutku. Ini lah yang aku suka banget dari Rangga. Dia begitu perhatian walau hanya dengan sentuhan-sentuhan ringan, dan kata-kata manisnya, setiap kali kami bercinta.

Aku sedikit mengangkat kepalaku, dan menatap wajahnya dengan sayu, karena masih sedikit merasakan getaran-getaran nikmat orgasme ku tadi. Enak banget sayang. Jawabku sambil tersenyum lemah.

Rangga pun tersenyum sambil membelai helai demi helai rambut yang menutupi wajah ku. Kamu tuh emang cantik banget yah Liana sayangku. Cantik banget. Ujar Rangga membuat wajahku langsung merona merah. Aku seneng banget mendengar ucapannya, tapi aku juga merasakan getaran malu. Aku langsung merebahkan kepalaku di dadanya.

Uda siap ronde ke 2 mba? Tanya Rangga, membuatku tergelak manja.

Aku selalu siap buat kamu, sayang, kapanpun kamu mau. Semuanya yang ada di aku, cintaku, kasih sayangku, kehormatanku, aku percayakan semuanya ke kamu. Jawabku sambil menatap wajahnya dengan sebuah ketulusan dari dalam hatiku ini. Yang ternyata membuat Rangga sedikit berkaca-kaca matanya, sambil menggigit bibir bawahnya.

Kamu tau Liana? Kamu lah wanita pertama yang menyayangi ku segitu dalemnya, sesuatu yang bikin aku bahagia banget. Seandainya kamu belum menikah, uda pasti aku langsung ngelamar kamu deh. I love you so much, and thank you for all the love and care that you gave me. It means everything to me. Jawab Rangga sambil memeluk erat tubuhku, yang juga langsung kupeluk erat tubuhnya.

Aku mulai lagi yah Liana sayang. Bisiknya di telingku. Yang aku jawab dengan anggukan kecil sambil tersenyum lembut kepadanya.

Pantat Rangga kemudian mulai menyodok-nyodok pelan ke atas, mengocok batang kemaluannya, yang masih berdiam di dalam vaginaku tadi. Aku pun merespon nya dengan ikut menaik turunkan pantat ku, menyambut batang kemaluan Rangga, yang mulai mengaduk-aduk isi liang vaginaku. Otot-otot vagina ku pun berdenyut-denyut, meremasi batang kemaluan Rangga.

Suara rintihan ku dan desisan Rangga yang sedang menikmati pijatan-pijatan otot vagina ku, saling bersahut-sahutan. Gerakan Rangga tiba-tiba bergerak cepat mengocok vaginaku, membuat rasa geli yang menjalar ke seluruh tubuhku langsung menggila rasanya.

Ooohhh….oohhhhh…mmmfff…aaaahhhh…aaaahhhh Aku hanya bisa terus merintih dan merintih keras, saat Rangga mempercepat kocokan batang kemaluannya. Aku juga sebisa mungkin mengimbangi gerakannya, dengan semakin cepat pula gerakan naik-turun pantat ku. Dan di bawah ku, mulut Rangga tidak bosen-bosennya terus mengulum dan menghisap-hisap kedua payudaraku yang menggantung dengan indahnya.

Saat tubuhku akhirnya ambruk di atas tubuh Rangga sambil ngos-ngosan, karena ga tahan lagi dengan rasa geli di pangkal paha ku, Rangga pun menghentikan gerakan nya. Dia membelai lembut rambutku. Rangga kemudian meminta ku untuk turun dari atas tubuhnya. Dia kemudian bangun, dan memintaku untuk tengkurap, lalu mengangkat pantat ku ke atas. Aku pun langsung memahami, bahwa Rangga ingin berganti posisi dengan posisi doggy style. Aku pun segera bangun dan menunggingkan pantatku.

Tangan Rangga memegang pinggulku saat satu tangannya lagi mengarahkan batang kemaluannya agar pas di bibir kemaluan ku. Aaaaahhhhhhh…sshhhh….aaaahhhhhh Aku langsung mendesis panjang lagi, saat batang kemaluan Rangga mulai melesak masuk ke dalam vagina ku hingga terasa mentok di mulut rahim ku.

TRIIIINNGGG! TRIIINNGGG! TRIIINNGGG! Tiba-tiba bunyi ponselku mengejutkan ku dan Rangga. Sejenak kami berdua menghentikan gerakan kami. Tapi aku langsung menoleh ke arah Rangga, Biarin aja dulu, sayang. Kamu terusin dulu aja ampe kamu keluarin sperma kamu di dalam rahim aku, yang. Awas ya, jangan brenti pokoknya. Ujar ku memintanya untuk meneruskan gerakannya menyodoki vaginaku.

Rangga pun hanya tersenyum penuh arti, dan mulai menyodoki lagi isi vaginaku. Aku pun hanya mendiamkan saja bunyi ponselku yang terus berdering. Aku pun mulai merintih lagi seiring kocokan yang dilakukan Rangga di kemaluanku. Kedua payudaraku yang menggantung, langsung bergerak liar mengikuti gerakan sodokan yang dilakukan Rangga, dan Rangga pun segera menangkap kedua payudaraku sambil meremasinya.

Aaaaahhhhh….saayaanngghhh…geliihhh bangettt…aaaahhhhh Racau ku. Badanku pun bahkan sering menggigil saking ga tahan dengan rasa geli yang aku rasakan ini. Tanganku yang sedang menopang tubuhku, meremasi seprai tempat tidur, untuk membantuku menahan rasa geli ini.

Selama beberapa lama kami bercinta penuh gairah dalam posisi anjing kawin ini, Rangga kemudian menghentikan gerakannya. Aku pun langsung ambruk ke tempat tidur saking lemasnya. Rangga mencabut batang kemaluannya keluar dari dalam vaginaku. Kemudian Rangga membalikan tubuhku hingga terlentang lagi. Rangga segera berbaring di belakang ku. Satu kaki ku di angkat dan ditopang dengan tangan Rangga. Rangga kemudian mengarahkan batang kemaluannya menuju lubang vaginaku yang sudah menganga dan basah kuyup itu dari belakang ku.

Blesss! Ooohhhhh..sayangghhh….aahhhh Rangga pun langsung mulai mengocok dengan cepat batang kemaluannya, mengaduk-aduk kemaluanku dengan batang nya yang keras seperti batang pohon itu.

TRIIIINNGGG! TRIIINNGGG! TRIIINNGGG! Ponselku kembali berdering-dering menandakan ada seseorang yang menelepon ku. Aku tidak tau siapa yang meneleponku. Mungkin salah satu orang kantor kami. Tapi aku tidak menghiraukannya, karena aku ingin melayani suami ku ini hingga dia mendapatkan sebuah kepuasan total dari pelayananku tanpa adanya gangguan yang bisa mengalihkan perhatiannya dan mengurangi moodnya.

Angkat aja Liana sayang, kali aja orang kantor yang telepon. Takutnya penting lagi. Ujar Rangga di belakang ku. Tapi aku tidak ingin mengangkatnya. Aku ingin suamiku ini meneruskan nya dulu sampai ia selesai.

Aku hanya menggeleng pelan, sambil menahan geli. Biarin ajahh yangh…tar ajah kaloh kamu udah selesaii aahh. Jawabku dengan nada manja.

Kocokan batang kemaluan Rangga dari posisi ini, terasa lebih nyaman dan lebih terasa di dalam vagina ku, walaupun kaki ku sedikit lebih pegal dibanding posisi lainnya, karena harus terangkat sebelah kaki seperti ini.

Tidak lama dengan posisi ini, Rangga langsung bangun, dan menaiki tubuhku. Kedua kaki ku di angkat dan diletakan di pundaknya. Dan setelah batang kemaluannya kembali melesak masuk ke liang vaginaku, Rangga langsung mengocok dengan gerakan yang cepat. Rasanya batang kemaluan Rangga melesak sangat dalam dalam posisi ini. Dan rasanya geli banget. Rintihan keras ku pun seolah tidak pernah berhenti, setiap kali batang Rangga melesak masuk.

Liana…sayangg…aku…mao keluaarrr Desis Rangga semakin cepat memompa vagina ku ini. Aku pun segera berusaha menggerakan otot-otot vagina ku, melumati batang kemaluan Rangga, sambil menggoyangkan pinggulnya mengikuti gerakan Rangga.

Dan akhirnya badan Rangga langsung mengejang kaku, dengan pinggul yang di tekan sedalam mungkin, agar batang kemaluannya melesak sedalam-dalamnya di liang rahim ku. Batang kemaluan Rangga berdenyut-denyut menyemprotkan cairan benih-benih nya hingga ke rahim ku. Aku pun juga mendapatkan orgasme ku lagi, saat semburan demi semburan sperma Rangga menyemprot di dalam vaginaku.

Kami berdua saling mengejang kaku dalam posisi ini, selama beberapa lama. Hingga dengan perlahan tubuh Rangga menindih tubuhku, dan mengecup bibirku, sebelum akhirnya Rangga bergerak ke samping, dan rebahan di samping tubuhku yang sudah terasa lemas sekali.

Cairan sperma Rangga, yang sudah bercampur dengan cairanku, langsung meluap keluar dari dalam vaginaku yang merekah lebar, setelah di sodoki terus oleh batang Rangga, hingga membentuk genangan kecil di sekitar pantatku. Nafas kami berdua sama-sama ngos-ngosan, akibat pertempuran birahi kami yang sangat bergairah.

Aku kemudian menggeser tubuhku, dan merebahkan kepalaku di dada Rangga. Dan Rangga pun segera melingkarkan tangannya memeluk tubuhku. Tak perlu sebuah kata-kata untuk mengungkap kan kebahagiaan kami saat ini. Cukup dengan sebuah pelukan erat yang hangat, sudah sangat menggambarkan kasih sayang kami berdua.

Oh iya…aku mao nanya ama kamu nih, Liana sayangku. Ujar Rangga tiba-tiba. Aku pun segera menoleh ke arah nya. Mao nanya apa Rangga sayang? Tanyaku sambil tersenyum lembut.

Kemaren malem, aku dikirimin foto kamu ama Cherllyne lagi bugil gitu. Kamu foto dimana tuh yang? Hehehe…gilaaa…aku ampe horny banget liat kamu ama Cherllyne telanjang gitu, tau. Malemnya ampe ga bisa tidur. Ujar Rangga mengejutkanku. Aku lupa kemaren malam itu, setelah aku dan Cherllyne hmm…sedikit bersenang-senang, Cherllyne memang mengajakku untuk berfoto telanjang, untuk dikirimkan ke Rangga, katanya. Aku langsung memereah wajahku karena malu. Dan aku pun langsung menyembunyikan wajahku di ketiak Rangga.

Eh? Kok malah malu sih? Hayoo…kamu kok bisa foto bugil bareng Cherllyne gitu sih? Hayoo…Liana cantik abis ngapain yoo ama Cherllyne? Nakal nih sekarang yah Ujar Rangga terus menggodaku.

Ihhhh…apaan sih. Aku malu tau ah…oya fotonya kamu apus tuh ya. Jawabku masih sambil menyembunyikan wajahku yang malu.

Ihh kenapa di apus? Artistik banget kok, aku suka banget. Ga bakal aku apus lah…hehehe. Jawab Rangga sambil menggoda ku.

Tuh kann..iihhh…tar keliatan orang laen lagi kalo ada temen kamu yang minjem HP kamu tar. Jawabku, terus menyembunyikan wajahku di ketiaknya.

TRIIIINNGGG! TRIIINNGGG! TRIIINNGGG! Ponselku kembali berdering-dering. Tangan Rangga kali ini berusaha menggapai ponselku, dan memberikannya langsung kepadaku tanpa melihat siapa yang meneleponku itu.

Aku melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselku. Cherllyne.

Aku lalu menjawab panggilan telepon Cherllyne. Halo… Sapa ku menjawab teleponnya.

Udah kelar bu? Pertanyaan nya mengejutkan ku. Apa Cherllyne mengetahui apa yang kulakukan bersama Rangga?

Hmm…kelar apanya Cher? Tanya ku mencoba mendapatkan kepastian.

Uda bisa berdiri blum? Kalo uda bisa jalan, buruan bukain pintunya. Aku di depan nih dari tadi. Jawab Cherllyne dengan nada datar. yang kembali mengejutkan ku. Rupanya Cherllyne daritadi menunggu di depan pintu. Jadi apakah dia mendengar semua rintihanku saat sedang bercinta dengan Rangga?

Siapa yang telepon Lia-yang? Tanya Rangga setelah melihatku meletakan lagi ponselku di meja di samping tempat tidur.

Eh? Kamu manggil aku apa, yang? Hihihi. Tanyaku ingin mendengar lagi panggilan sayang Rangga kepadaku.

Lia-yang…hehehe…kependekan dari Liana sayang Jawab Rangga sambil tersenyum lebar.

Hehehehe…mmmuuuaaahhh…aku suka banget. Jawabku sambil mengecup lembut dan lama bibirnya.

Kemudian, setelah aku mengumpulkan cukup tenaga, aku mencoba untuk bangun dari tempat tidur dan berdiri, dengan niat untuk membuka kan pintu untuk Cherllyne. Eh? Kamu mau kemana yang? Tanya Rangga melihat ku sedang berjalan dengan tubuhku yang telanjang bulat, hanya di tutupi dengan lilitan handuk, ke arah pintu.

Mao kasih kejutan kecil buat kamu, Rangga sayang. Jawabku sambil memberikan kerlingan mata. Membuat Rangga terlihat kebingungan.

Aku melihat dulu di sebuah kaca kecil di pintu masuk, untuk melihat siapa yang ada di luar kamar. Aku melihat Cherllyne sedang berdiri dengan wajah cemberut. Hihihi. Maaf yah Cher. Aku pun langsung membuka pintunya, sambil tersenyum ke arahnya yang lagi cemberut.

Huh, kalo aku yang maen ama Rangga, mba Liana ampe nangis-nangis. Eh sekarang malah dia duluan yang nyari-nyari kesempatan di belakang aku. Ujar Cherllyne sewot, sambil mengungkit aku yang dulu menangis saat mengetahui Cherllyne berhubungan intim dengan Rangga. Aku pun hanya tersenyum simpul mendengar ucapan sewotnya itu. Uda ah, jangan mewek. Mao masuk ga? Jawabku sambil tersenyum.

Enak aja jangan mewek! Huh! Aku mao marah pokoknya ama mba. Gak fair tau. Kita kan uda sepakat waktu itu. Huh. Nyebelin banget. Ujar Cherllyne yang langsung masuk, sedikit menabrak tubuhku pelan, membuatku tertawa geli melihanya ngambek seperti ini.

RANGGAA! Gw mao marah ama lu berdua! Ujar Cherllyne cukup keras tiba-tiba, mengejutkan Rangga, yang langsung melonjak bangun dari tempat tidur, dengan tubuh bertelanjang bulat, dan wajah yang kebingungan.

Aku rasanya mau tertawa melihat Rangga terkejutnya ampe lompat seperti itu. Aku langsung menutup mulutku untuk menahan tawa ku. Namun rupanya Cherllyne pun merasakan hal yang sama dengan ku. Dari yang tadi masuk berwajah ketus dan galak, langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi Rangga saat kaget.

Hwahahahaha…Ranggaa!…lu lucu banget sih kalo kaget gitu…hahahaha Cherllyne sampai memegangi perutnya saat tertawa keras. Aku pun berusaha menahan tawaku agar tidak terlalu keras, sambil menutup mulutku.

Woy…gila luhhh…bikin kaget gw aja! Sableng! Gw kira gw lagi digerebek satpol PP Ujar Rangga yang terlihat lemas, saking kagetnya tadi. Batang kemaluannya yang tadi masih keras dan tegang, langsung jadi layu, setelah dikejutkan oleh Cherllyne tadi.

Ohh…jadi aku dikerjain nih ceritanya. Hmm…enak aja, ga sopan. Musti kasih hukuman nih. Ujar Rangga yang langsung menghampiri Cherllyne dengan cepat, dan memeluknya dari belakang lalu mengelitiki pinggang Cherllyne, hingga membaut Cherllyne berteriak kegelian.

HHAHAHAHA…RANGGA! GELI GA…HAHAHAHA…IHHH…RESE LUH….HAHAHAHA Tawa Cherllyne pun semakin besar saat Cherllyne tidak bisa bergerak karena di peluk erat oleh Rangga. Aku pun langsung tertawa keras melihat Cherllyne sedang dikelitikin habis-habisan oleh Rangga.

Eh…kok ketawa? Sekarang giliran kamu loh Lia-yang jail Ujar Rangga tiba-tiba langsung menghampiriku, dan memelukku dari belakang, hingga handuk yang melilit tubuhku langsung terlepas jatuh, membuatku kembali bertelanjang bulat. Sementara Cherllyne terlihat tergeletak di lantai sambil ngos-ngosan tapi masih tertawa kecil. Aku yang tau hendak dikelitikin berusaha melepaskan diri dari pelukan Rangga.

Mao kabur? Enak aja. Uda siap? Ujar Rangga yang kemudian langsung mengelitikin pinggangku juga, seperti tadi Rangga mengelitiki Cherllyne. AHAHAHAHA..RANGGAA! UDAHHH….AHAAHAHAHAHA…RANGGAAAA! HAHAHAHA Aku langsung tertawa kegelian banget, saat tangan Rangga mengelitiki pinggangku.

HAHAHAHA…AMPUNN SAYANGG….AHAHAHAHA Aku memohon ampun dengan harapan Rangga menghentikan kelitikannya di pinggangku. Aku sudah ga tahan ama geli di pinggangku itu. Geli banget.

Untungnya Rangga melepaskan kelitikannya di pinggangku. Membuat nafasku ngos-ngosan saking lelahnya tertawa. Rangga lalu langsung mengangkat tubuhku, dan menggendongku. Rangga membawaku dan meletakan tubuhku dengan lembut di tempat tidur.

Dan setelah meletakanku, Rangga kemudian juga menghampiri Cherllyne, yang masih tergeletak sambil memegangi pinggangnya. Rangga pun mengangkat dan menggendong tubuh Cherllyne, hingga meletakan tubuhnya di samping tubuhku.

Kok kamu bisa tau Cher, aku lagi disini ama Liana? Tanya Rangga, yang kemudian duduk di samping tubuhku, sambil mengelus kulit tubuhku yang bertelanjang bulat. Aku sendiri entah kenapa, tidak merasa risih bertelanjang bulat di hadapan Cherllyne. Mungkin karena kami pernah melakukan itu kemaren malam. Entahlah. Malah aku merasa nyaman dengan kondisi kami saat ini. Aku pun mengelus-elus punggung Rangga.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.