Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 22

Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 22by on.Cerita Dewasa Once Upon A Time In Someplace – Part 22Once Upon A Time In Someplace – Part 22 Chapter XXII : Doctor Shameless Gavin Side’s Story : The Doctor Sore itu, di kamar dimana aku dirawat. “Ternyata perjalanan hidupmu sangat menarik Lang …, ” ujarku menanggapi cerita Elang. “Tidak semuanya menarik, Vin. Namanya juga hidup ! , pasti ada suka dukanya…, Aku hanya mencoba […]

tumblr_mjjp3zrS6X1rl5fsho3_1280 tumblr_mjjp3zrS6X1rl5fsho4_1280Once Upon A Time In Someplace – Part 22

Chapter XXII : Doctor Shameless

Gavin Side’s Story : The Doctor

Sore itu, di kamar dimana aku dirawat.

“Ternyata perjalanan hidupmu sangat menarik Lang …, ” ujarku menanggapi cerita Elang.

“Tidak semuanya menarik, Vin. Namanya juga hidup ! , pasti ada suka dukanya…, Aku hanya mencoba untuk menikmatinya,” kata Elang dengan mata menerawang jauh, entah kemana.

Seperti kemarin, karena asyiknya cerita Elang, tanpa kami sadari waktu sudah beranjak sore. Dan selama dua hari ini terhitung sejak aku masuk rumah sakit akibat kejadian kecelakaan mobil yang hampir saja merenggut nyawaku satu-satunya, Elang menceritakan pengalamannya, dan selama itu pula belum juga selesai semuanya, entah berapa banyak cerita ataupun catatan hidup yang di alami Elang, namun aku yakin kesemuanya itu banyak memberikan pengalaman yang sangat berharga untuk dia.

Sungguh! Aku sangat beruntung bisa berkenalan sekaligus akhirnya dalam tanda kutip mempunyai saudara seperti dia, dan semakin lama, aku makin juga mengenal pribadi dan sifat Elang dari ceritanya.

Saat Elang hendak melanjutkan ceritanya, muncul dua orang suster yang akan melakukan pemeriksaan rutin seperti biasanya. Dan setelah semuanya selesai dilakukan, kedua suster itu segera meninggalkan ruang rawatku.

Dan selamaproses pemeriksaan tadi, Elang meminta ijin untuk sekedar membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, setelah selesai dan mengganti pakaian, dia berkata akan keluar karena ada sedikit urusan.

Namun dia tidak juga beranjak keluar ruangan, beberapa saat dia masih tetap ditempat, hanya beberapa kali dia melihat jam tangannya. Melihat hal itu aku bertanya padanya “Kenapa Lang ? apa ada sesuatu.?, Kenapa belum berangkat? ”

“Sebentar lagi, Vin” katanya, tanpa menyebut alasannya.

“Lang, aku dapat menduga kenapa kamu menunda kepergianmu. Kamu khawatir meninggalkanku sendirian. Aku tidak perluterus-terusan dijaga, tampaknya mereka juga tidak tahu dimana keberadaanku. Kalau perlu sesuatu aku bisa panggil suster. Biasanya sebentar lagi Mas Bram atau teman-teman yang lain juga akan datang menjenguk” Aku mencoba membuat Elang tidak khawatir akan keadaanku.”

“Tapi aku sudah berjanji pada Ayah, Ibu dan Mas Bram untuk menjagamu. Kalau aku pergi meninggalkanmu tanpa ada yang menjaga, bagaimana pertanggung jawabanku pada mereka.”

“Tidak apa-apa, nanti aku yang akan bertanggung jawab pada mereka. Kamu juga punya urusan sendiri, jadi selesaikanlah urusanmu. Masalah disini percayakanlah padaku. Apa kamu tidak percaya padaku ? ”

Setelah mendengar hal itu, tampaknya dia merasa sedikit tenang. Sesaat kemudian dia menatapku. Setelah melihatku tersenyum dan mengacungkan jempol padanya, maka diapun keluar dari kamarku.

Tapi, belum genap satu menit dia kembali lagi. “Ada apa Lang ? Kok sudah kembali, ada yang ketinggalan ? ”

“Tidak ada apa-apa Vin. Hanya ingin tanya. Apa kamu perlu sesuatu, atau pesan apa ? ”

Aku diam sejenak, saat itu aku teringat akan sepeda motor kesayanganku, sudah hampir tiga minggu dia tidak diperhatikan. Mengingat hal itu aku berkata kepada Elang “Lang kamu benar-benar mau menolongku ? ” Setelah Elang menganggukan kepalanya, aku melanjutkan ucapanku “Tolong ambilkan motorku, pakailah untuk sementara. Daripada tidak ada yang memakai, itu kalau kamu mau” Aku kemudian menyebutkan tempat dimana dia bisa menemukan motorku.

Setelah Elang pergi, aku menjadi merasa bosan juga bengong sendirian di ruangan ini. Mau melihat televisi, tidak ada acara yang menarik. Mau membaca buku dan majalah, semuanya sudah saya baca. Dari pada bengong sendirian dikamar, timbul niatku untuk berjalan-jalan disekitar melihat suasana diluar kamar sambil menghirup udara segar. Yang dua minggu lebih tidak kurasakan.

Sudah dua hari ini aku merasa tidak ada masalah dengan kedua kakiku. Aku berjalan kearah pintu. Aku berhenti didepan pintu karena datangnya seseorang yang masuk kedalam ruangan. “Eh Vin !!! Mau kemana ? ” Tanya sesosok wanita yang mengenakan seragam dokter itu.

Aku tersenyum, kemudian berkata “Tidak kemana-mana Mbak, cuma mau jalan-jalan sebentar diluar.”

“Kakimu itu baru saja sembuh, jangan jauh-jauh dulu. Berjalan-jalan didalam kamar saja ” Kata dia sambil membantuku berjalan menuju ranjang. Tangannya memeluk pinggangku hingga posisi tubuhnya merapat kearahku. Payudaranya yang besar menempel erat dibagian kiri tubuhku. Setelah sampai ditepi ranjang, Mbak Lula membantuku naik.

Saat Mbak Lula menghadap kerahku. Mataku mengamati tubuh yang ada didepanku ini lebih lekat lagi. Dengan rambut disanggul ke belakang, Mbak Lula terlihat sangat cantik dan seksi. Kulitnya putih bersih. Meski tubuhnya terlihat chubby, tapi karena tinggi tubuhnya yang keturunan arab itu, maka membuat dia terlihat montok dan berisi.

Dia mengenakan blouse lengan panjang yang ketat dari bahan kaos berwarna merah, dengan seragam putih khas dokter yang tidak dikancingkan dibagian luar. Pakaian yang dikenakannya itu mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok yang berwarna hitam, membuat sepasang kakinya yang putih mulus makin memancarkan keseksiannya. Yang paling mencolok dan menarik darinya adalah dadanya yang begitu menonjol ke depan, membulat tegak.

Akibat melihat dada Mbak Lula yang montok dan berpikir yang aneh-aneh, membuat penisku yang tadinya hanya sedikit bangun kini bertambah tegang dan membuatnya tercetak jelas pada seragam pasienku.

Mbak Lula sepertinya melihat perubahan pada penisku, Hal itu menimbulkan senyum dan pertanyaan pada Mbak Lula “Kamu itu sedang berpikir apa ? Kok sampai tegang begitu. Tampaknya kamu benar-benar sudah sehat, sudah bisa berpikir kearah sana,” kata Mbak Lula sambil tersenyum.

Aku kemudian duduk ditepi ranjang, sementara Mbak Lula duduk dikursi yang ada didepanku. “Mbak, ini kan sudah sore. kok belum pulang ?” Aku bertanya untuk mencoba mengalihkan perhatianku dari dadanya.

“Masih ada acara, tapi ditunda nanti jam tujuh. Mau pulang malas dan capek, lagi pula dirumah sedang tidak ada orang. Suami sedang ada tugas, dan si kembar berada dirumah eyangnya” Jawab Mbak Lula sambil menyandarkan badannya kebelakang. Lagi-lagi mataku tidak berkedip saat melihatnya. Tubuh montoknya makin terlihat menggiurkan saat itu. Bukan main indahnya tubuh dokter yang satu ini. Perut Mbak Lula yang masih langsing dan blouse ketatnya seakan menekan payudaranya untuk keluar.

Walau mataku tertuju kearah dadanya, tapi pikiranku berpikir tentang suatu hal. Aku teringat perkataan yang diucapkan Mbak Lula beberapa hari yang lalu. Entah dia sadar atau tidak saat mengucapkannya, tapi aku masih ingat. Dia mengatakan setelah melahirkan, suaminya jarang mengajak berhubungan. Saat itu aku sempat berpikir dalam hati ‘Kok ada ya, seorang lelaki yang tidak mau menyentuh wanita secantik dan semontok dia’.

Teringat itu aku berpikir ; 1. Mbak Lula sudah lama tidak disentuh suaminya, 2. Menunggu rapat mengapa tidak diruangannya ? dia memang sering menengokku, tapi saat suasana seperti ini ? 3. Dia membantuku dengan memeluk erat, seakan ingin menyentuhkan dadanya dengan sengaja.

Oleh fakta-fakta tersebut, maka aku berpikir dan mencoba mengambil kesimpulan ‘ Apakah mungkin saat ini dia sedang butuh sentuhan dan perhatian seorang lelaki. Hingga sikap, penampilan dan tindakannya seakan-akan memancingku. Memikirkan hal itu, hati dan pikiranku menjadi tegang.

Aku sadar dari pikiranku, saat mendengar kursi bergeser. Mbak Lula bangkit dan menuju pintu. Kupikir Mbak Lula akan keluar dari ruangan. Tapi dugaanku salah, setelah melihat keadaan diluar dia segera menutup pintu dan menguncinya.

Kemudian dia menuju ranjang kecil yang disediakan untuk keluarga pasien yang menjaga, “Mbak numpang istirahat disini ya Vin. Kalau diruangan Dokter nanti ada yang mengganggu,” kata Mbak Lula. Dia kemudian melepas seragam dokternya dan berbaring santai dengan enaknya, tidak mempedulikan bahwa tindakannya itu membuatku bertambah pening. Aku jadi bertambah bingung dengan apa yang dilakukan Mbak Lula.

“Mbak mungkin tidak terganggu disini, tapi ada yang merasa terganggu,” kataku.

“Eh, jadi kamu merasa terganggu ? ” kata Mbak Lula menoleh kearahku.

“Tentu bukan Mbak, kalau aku malah senang ada teman ngobrol, ” kataku, memotong ucapannya.

“Elang ? , tidak mungkin dia ”

“Mbak kok yakin bukan Elang ? ”

“Mbak tadi ketemu dia waktu mau keluar, selain itu dia juga titip buat jagain kamu. Bram juga pasti tidak mungkin, ” Ujar Mbak Lula dengan yakinnya.

Melihatku heran dengan ucapannya. Mbak Lula bangkit dan menjelaskan maksudnya. “Mbak ketemu Elang, saat sedang berbincang dengan Bram. Mereka berdua pergi berbarengan. Maka itu Mbak yakin bukan mereka berdua yang kamu maksud, Apa fans-fans mu itu ya ? ”

“Ha..ha.. Mbak bisa saja, memangnya saya artis. Ada fans nya ”

“Mbak sebenarnya juga heran. Biasanya artis yang punya banyak fans. Eh kamu !, bukan artis malah punya banyak fans. Hebatnya lagi artis-artis lah yang jadi fans mu. Sudah jadi rahasia umum. Semenjak kamu dirawat disini beberapa artis tenar bolak-balik kesini. ”

“Sudah Mbak tidak usah dibahas. Aku jadi tidak enak. Lagi pula bukan mereka ” kataku sambil senyam-senyum. Membuat Mbak Lula menjadi heran.

“Kamu ini suka bikin orang heran. Yang tadi belum dijawab, sekarang bilang tidak enak. Tidak enak sama siapa ? ”

“Sama Mbak, ga enak membicarakan wanita didepan wanita. Apa lagi wanita secantik dan semontok Mbak. ” ucapku dengan nada memuji.

“Kamu pintar merayu ya Vin, entah berapa wanita yang telah kena rayuanmu. Terus yang kamu bilang tadi ada yang terganggu, karena Mbak disini siapa? ”

“He..he..he.. , kalau itu sih bukan aku Mbak. Tapi itu … ” tanpa menyebutkan nama, hanya mataku yang mengarah ke bagian bawah tubuhku.

Mbak Lula mengikuti arah pandanganku, dan “Huh… dasar !!! kirain apa. Ternyata juniormu yang terganggu ya ? Memang dengan cara apa Mbak menganggu dia ? ” Tanya dia, dengan muka menggoda.

“Mbak berpura-pura atau memang tidak sadar sih. Mbak itu cantik, seksi dan sangat menarik bagi laki-laki. Apalagi melihat penampilan Mbak saat ini. Hanya lelaki yang tidak normal, yang tidak tergoda, ” kataku memberi alasan dengan menyanjungnya.

“Memang Mbak masih menarik ya ‘ Vin ? Mbak sendiri merasa sekarang gemuk, jadi tidak menarik lagi.”

“Bukan gemuk Mbak, tapi semok. Apa lagi bagian itu Mbak, wooooow !!! Aku juga mau kalau diberi ” kataku menunjuk bagian dadanya.

“Eh, jadi dari tadi kamu lihatin dada Mbak ya ?”

“Iya Mbak, memandangnya aja bikin junior tegang. Apa lagi kalau … ”

“Kalau apa ? ”

“Eee..eee, kalau boleh nenen . hehehe … ” ucapku. Terlanjur basah pikirku.

“Punya Mbak ini sudah kendor, jadi tidak menarik lagi. Bisa-bisanya kamu bilang masih menarik dan membangkitkan junior. Yang dirumah saja, tidak bangun juniornya waktu melihatnya.”

“Menurutku masih sangat menarik Mbak, aneh kalau ada yang bilang tidak menarik.”

“Kamu pandai menyanjung dan menyenangkan hati wanita. Mungkin hal ini yang menyebabkan kamu banyak disukai wanita. Dan ada satu rahasia lagi yang ingin Mbak ketahui, sehingga banyak wanita bertekuk lutut dihadapanmu. ”

“Maksudnya Mbak ? ” tanyaku.

“Mbak sudah dengar tentang dirimu. Mbak juga wanita, jadi mengerti tentang perasaan dan keinginan mereka. Jujur saja, Mbak merasakan perasaan tertarik padamu semenjak pertama kita bertemu. Padangan matamu lain dengan pandangan mata lelaki yang biasa Mbak temui. Kamu punya sex apeal dan sisi romantis yang sama besar. Hal itu membuat wanita merasa diinginkan, dihargai dan dicintai. ”

“So … ? ”

“Kita sama-sama mengerti apa yang kita mau. Kamu pasti lebih paham apa yang Mbak maksud. Kecuali kalau memang kamu tidak tertarik kepada Mbak ? ” kata Mbak Lula. Dia bangkit dari ranjang itu, kemudian melangkah kearahku.

“Sebelumnya Mbak akan bilang padamu. Mbak ini manusia biasa yang masih punya hasrat dan nafsu. Tapi karena suatu hal, Mbak tidak mendapatkan hal itu. Untuk beberapa waktu Mbak masih bisa menahan hasrat dan nafsu yang datang. Tapi makin lama ditekan makin sering juga keinginan itu muncul. Apalagi semenjak mengenalmu, keinginan itu semakin kuat. Yang Mbak ingin tekankan padamu adalah : Kamu jangan berpikir, Mbak wanita murahan yang gampang bercinta dengan sembarang lelaki. Kamu adalah lelaki pertama dan terakhir yang menyentuh Mbak. Selain suami Mbak.”

Aku benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakannya. Kupandang wajah Mbak Lula, yang kini hanya berjarak sejengkal dari wajahku. Kutatap matanya dengan tajam, ingin kujenguk hatinya untuk mengetahui isinya. Apakah benar yang dikatakannya, dia menginginkan aku. Tampaknya yang dikatakannya benar. Aku melihat pandangan itu seperti tatap mata wanita-wanita yang kukenal selama ini. Tatapan mata wanita yang kesepian.

Kami berpandangan beberapa lama, kemudian aku beranikan diri mendekatkan bibirku ke bibir Mbak Lula. Mbak Lula menyambut bibirku dengan penuh nafsu, tangannya memelukku dan direbahkannya badanku. Dia kemudian menyusulku naik keatas ranjang dan menindihku, sementara kedua tanganku melingkar di pinggang Mbak Lula. Kami kembali berciuman penuh nafsu, seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu. Kami saling bertukar ciuman, saling berebutan memainkan lidah.

Dibimbingnya tanganku untuk meremas payudaranya yang besar. Kusentuh dan kuremas dengan pelan dari luar blousenya, sementara tangan kiriku meremas pantatnya yang seksi.

Setelah kami saling berciuman dengan panasnya sampai susah bernafas, Mbak Lula melepaskan ciumannya. “Kamu tahu Vin, hal ini yang telah lama Mbak inginkan. Sejak pertama kali kita bertemu. Saat itu Mbak belum yakin akan dirimu, dan kamu kurang responnya.(baca chapter XVII) Tapi mungkin inilah saatnya.”

Bertumpu pada lututnya, Mbak Lula bangkit dan kemudian mengulung blousenya keatas. Tanpa melepas blouse dari badan Mbak Lula membuka kait bra nya yang berada dibagian depan. Kini didepanku tampak tubuh mulus Mbak Lula, dengan dua buah bola daging besar yang mengantung indah didadanya. Membuatku tanpa sadar menelan ludah berulang kali. “Kamu siap Vin? Mbak tahu kamu baru sehat. Tapi sudah lama Mbak menanti untuk hal ini.”

“Untuk hal seperti ini aku selalu siap Mbak. Tapi apa Mbak yakin akan melakukannya sekarang dan disini? ”

“Kita manfaatkan saja waktu yang ada Vin, walau hanya sesaat.”

Aku langsung menyetujui permintaannya, jika tidak sekarang mungkin Mbak Lula akan membatalkan semuanya. Now or Never !!!.

Tanpa menunggu lama dua payudaranya yang besar itu menjadi sasaranku, kuhisap putingnya bergantian, tangannya pun langsung meraih kepalaku dan menekan kedadanya dan dari mulutnya keluar suara mendesis-desis bagai ular kepanasan “Esstt.. Ssstt.. Sedot yang kuat Vin” Desah Mbak Lula semakin tenggelam dalam nafsu birahinya. “Yaahh.. Begitu isep.. Kamu suka kan.. buah dada Mbak.. Ooohh” rintih Mbak Lula dengan binal.

Aku tidak menjawab karena mulutku sedang sibuk menghisap, menyedot layaknya bayi yang seharian belum menetek pada ibunya. Kedua tanganku tidak tinggal diam. Tangan kiri meremas pantat besarnya, sementara tangan kananku mengelus-elus paha mulusnya yang masih terbungkus rok ketatnya. Mungkin Mbak Lula Paham tanganku sulit menjangkau miliknya karena rok nya, maka tanpa diminta dia menarik roknya keatas. Perlahan tanganku naik keatas dan sampailah di pangkal pahanya. Dan astaga !!! … tanganku langsung menyentuh daging berbulu dipangkal pahanya. Ternyata Mbak Lula sudah tidak memakai celana dalam, rupanya dia memang sudah merencanakan semua ini.

Mungkin karena capek Mbak Lula melepas mulutku yang masih menempel didadanya. Kini Mbak Lula berbaring dengan kaki mengangkang. Kudekati tubuh montok yang telah pasrah itu. Tanganku mengusap-usap vaginanya yang sedikit berbulu. Dengan kedua tanganku kusibakkan bibir vaginanya. Kulihat belahan vaginanya yang memerah mengkilat dan bagian dalamnya ada yang berdenyut-denyut. Kuciumi dengan lembut, bau wanginya membuat sensari yang aneh. Tak pernah ada bau seperti ini yang pernah kukenal. Dengan hidung kugesek-gesekkan belahan vagina Mbak Lula sambil menikmati aromanya. Erangannya dan gelinjang tubuhnya terlihat seperti pemandangan yang indah sekaligus menggairahkan. Kedua tangannya meremas-remas sendiri payudaranya.

“Aakhhk.. Eekh.. Nikmat sekali sayang. Terus sayang..” Rintih Mbak Lula.

Kujulurkan lidahku, kujilat sedikit vaginanya, ada rasa asin. Lalu dari bawah sampai ke atas kujulurkan lidahku, menjilati belahan vaginanya. Begitu seterusnya naik turun sambil melihat reaksinya. “Akkhh.. Aachh.. Aakkhh..” Mbak Lula terus merintih nikmat, tangannya mencari tanganku, meremas-remas jariku lalu membawanya ke buah dadanya. Sepertinya dia ingin yang meremas payudaranya adalah tanganku. Begitu kulakukan terus, kedua tanganku meremas-remas payudaranya, mulutku menjilati dan menghisap-hisap vaginanya.

“Teruuuuussss…..mmmmmmhhhmmm…. teruuuss….” Mbak Lula menggumam. Setelah berapa lama, dan setelah beberapa sedotan tiba2 paha Mbak Lula membekap kepalaku erat di antara selangkanganku, dan Crrroooooottt……… keluar cairan hangat dari vagina Mbak Lula. Ternyata Mbak Lula sudah mencapai orgasmenya yang pertama. “AaaaaaaaaaAAAAAAAAAAAaaahhhhhhh…….hhhhhhh hhhh ……..” Mbak Lula tampak gemetar menahan orgasmenya. Setelah menghela nafas panjang Mbak Lula bangkit, kemudian mencium mesra bibirku. Melihat mukanya tampak berbinar aku jadi merasa senang, karena mampu membuat Mbak Lula puas. “Bagaimana Mbak dengan pelayananku ? Mbak puas atau ..”

“Ouuuwhhh iyaaaah…. sudah lama Mbak tidak merasakan Orgasme seperti ini, bahkan penismu belum masuk ke vagina Mbak” Mbak Lula kembali mencium bibirku, tangannya yang lembut mengelus-elus pipiku. AKu merasakan rasa sayang dari belaiannya.

Mbak Lula kembali menciumiku. Sungguh sulit dipercaya Mbak Lula terus-terusan menggodaku dengan body seksinya. Sambil menciumiku, Mbak Lula menggeliat-geliat dan menggesek-gesekan tubuhnya ke tubuhku. Hal itu semakin memanaskan tubuh kami, wajahnya yang sensual semakin menambah nafsuku kepadanya. Geliatan Mbak Lula semakin menjadi, pelan dan halus namun tahu bagaimana cara menaikkan birahi. Hingga sampailah kepala Mbak Lula di depan celanaku. “Boleh Mbak buka Vin ?”

“Terserah Mbak saja, saat ini milik Mbak” Mbak Lula membuka celanaku secara pelan, aku mengangkat pantatku untuk memudahkannya. Sampai dilutut celanaku berhenti. Mbak Lula kemudian menatap penisku “Besar sekali Vin … Mbak sudah membayangkannya, tapi tidak mengira sebesar ini. Mbak suka ini…” Katanya sambil memegang penisku. Untuk beberapa lama dia mengelus-elusnya. Kemudian Mbak Lula bangun dan menunggangiku lagi.

“Langsung saja ya ‘ Vin, Takut ada orang datang kalau lama-lama.”

Aku pikir benar juga yang dibilang Mbak Lula. Mbak Lula berjongkok diatas pinggangku, berupaya untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Namun sudah beberapa detik sepertinya dia kesulitan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Vagina Mbak Lula sepertinya masih sempit, aku tak mengerti. Mungkin karena sudah lama tidak pernah dimasuki penis, tapi harusnya dengan beberapa anak yang sudah lewat sana seharusnya bisa dengan mudah ditembus.

Apa karena liang vaginanya yang terlalu kecil dan penisku yang kebesaran, atau memang keduanya. Setelah berusaha cukup keras. Ahkirnya dengan perlahan penisku bisa menembus liang vagina Mbak Lula. “AAAAAAaaaakkkkkhhhh….” Mbak Lula berusaha menahan jeritannya agar tidak terdengar sampai luar dengan menggigit bibirnya.

Setelah diam sesaat, menikmati penuhnya penisku mengisi vaginanya, Mbak Lula mulai memompa penisku dengan berirama. Matanya mulai merem melek, nafasnya tidak beraturan. Payudaranya yang besar dan kenyal berayun-ayun seiring dengan goyangannya. Sesekali dia melenguh dan menghela nafas panjang. Sa’at merasa lelah Mbak Lula berhenti bergoyang dan memelukku, atau duduk diam sambil membusungkan payudaranya yang besar. Tangannya membimbing tanganku untuk meremas payudaranya dan memainkan putingnya. Sesekali kumainkan putingnya dengan lidahku. Sungguh senang rasanya dapat melihat wanita seperti Mbak Lula sedang menikmati bercinta denganku.

Tiba-tiba goyangan Mbak Lula semakin kencang. “Oooh Viiin … Yeeeah … aaaaaaaaakh …” Kedua kaki Mbak Lula menjepit erat pinggangku dan tubuhnya ambruk kearahku. Mbak Lula menyerang bibirku dengan ciuman yang penuh nafsu. Rupanya Mbak Lula orgasme kedua kalinya.

Nafsuku semakin menggila melihat Mbak Lula demikian menikmati orgasmenya. Kubalikkan tubuh Mbak Lula hingga posisinya telentang. “Sebentar Vin… hhhh… Istirahat sebentar hhhh…” Ujar Mbak Lula.

“Nanggung Mbak, keburu ada orang.” Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menusukan penisku kedalam vaginanya. Tidak tanggung-tanggung aku langsung menggenjotnya dengan kecepatan tinggi dan konstan, Mbak Lula semakin menceracau tidak karuan. Sesekali aku mencumbu bibirnya, menjilati putingnya, menciumi lehernya, menjilati kupingnya. Diperlakukan seperti itu Mbak Lula mengimbangi dengan goyangan tubuh yang tidak kalah ganasnya.

Merasa kalau dalam posisi konvesional aku akan lama mencapai puncak, maka kutarik tubuh Mbak Lula dan kubalik badannya sampai posisi menungging hadapanku. Tanpa menunggu lama aku langsung masukkan penisku ke dalam vaginanya dari belakang. Ku remas dua buah pantat seksinya. Rasanya dengan posisi ini aku akan cepat keluar. Kugenjot tubuhnya dengan cepat dan kuat “Mbaaak…. aku mau keluarrrr….”

“Iyyyaaa Viiinnnnn…. keluarin ajaaaa, Mbaaak jugaaa mau keluar lagi…” genjotanku kulanjutkan. Mbak Lula sepertinya sudah kelelahan dan menyerah. Akhirnya tubuhnya ambruk ke kasur, dengan posisi menindih tubuh Mbak Lula tanganku melingkar ke depan meraih kedua payudaranya. Tidak ketinggalan kuciumi tengkuk dan leher belakangnya. Mbak Lula merespon dengan lengguhannya.

Hingga akhirnya, ledakan itu datang juga “Mbaaakhhh…..AAAaaaaaaahhhhhhh……” Kutembakkan semua cairan spermaku ke dalam liang vagina Mbak Lula. “Crrroooooottt…..crrrrrrtttttttt crrrrrrtttttt….” aku bisa merasakan denyutan vagina Mbak Lula menyambut datangnya spermaku.

“Enaaak Vinnn”

“Nikmat sekali Mbak …”

“Bukan, bukan itu maksud Mbak. Mbak tidak bertanya padamu, Mbak mau bilang ke kamu. Bercinta denganmu nikmat banget. Mbak beruntung mengenalmu, setelah lama puasa mbak mendapatkan apa yang Mbak impikan” Posisiku masih menindih Mbak Lula dari belakang dengan penis masih terhujam di dalam, akhirnya aku bergulir kesamping. Kuciumi pundak Mbak Lula, kubelai dengan lembut punggungnya dan rambutnya yang telah lepas sanggul.

Kami masih diam mengatur nafas. Saat terdengar suara orang berbicara didepan pintu, dan handle pintu ditarik. Tampaknya mereka ingin masuk kedalam. Kami berdua berpandangan, dan serentak bangkit. Tanpa bersuara kami bergegas membetulkan pakaian kami. Aku yang hanya melepas celana dengan cepat selesai. Mbak Lula yang tampaknya sudah mengantisipasi hal ini dengan cepat memasang branya, menurunkan blousenya dan juga rok ketatnya. Yang semuanya memang tidak dilepas.

Kemudian dia turun mengambil seragam Dokternya dan menuju kamar mandi. Sementara tangannya memberi kode memintaku untuk membuka pintu. Sementara suara-suara diluar makin ramai. Aku bergegas menuju pintu dan setelah melihat siapa yang diluar, aku segera membuka pintunya. Didepanku berdiri tiga orang wanita. Saat melihatku membuka pintu, dua diantara mereka serentak bertanya “Viiin… kamu tidak apa-apa ????? ” Dan salah satunya langsung memeluk tubuhku.

“Tidak apa-apa Mbak. Kapan datang, sama siapa ?” tanyaku sambil berusaha melepas pelukan Mbak Tika. Kalau tidak ada orang lain tidak masalah. Tapi ada Mbak Ina dan seorang lagi didepanku.

“Kamu tidak kenapa-kenapa kan Vin ? Tadi Mbak panggil-panggil kamu tidak dijawab, Mbak takut terjadi sesuatu sama kamu.” kata Mbak Tika sambil melepas pelukannya.

“Tadi sedang diperiksa Mbak. Oh ya, pertanyaanku belum dijawab. Kok bisa bareng Mbak Ina” ujarku sambil menyapa Mbak Ina dan temannya.

Sejenak Mbak Tika berpandangan dengan Mbak Ina. Seolah bingung siapa yang mau menjawab. “Masuk dulu Mbak, kita berbicara didalam saja. Tidak enak sama pengunjung yang lain” aku mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk. Saat kami masuk, Mbak Lula keluar dari kamar mandi. Mereka menatap Mbak Lula, kemudian beralih kearahku. Entah apa yang ada dibenak mereka melihat Mbak Lula didalam, walau tadi aku memberi alasan sedang diperiksa.

“Selamat sore semua” sapa Mbak Lula santai dan dengan senyum dibibirnya. Tidak ada kesan gugup atau salah tingkah pada dirinya. Aku yang tadinya khawatir menjadi sedikit lega melihat ketenangan Mbak Lula.

“Selamat sore Dok…” mereka menjawab walau dengan muka penuh rasa penasaran. Suasana menjadi hening dan kaku untuk sesaat. “Ayo Mbak duduk, biar enak bicaranya” kataku mencoba mencairkan suasana. Melihat roman mukanya Mbak tika, sepertinya dia masih penasaran. Tapi melihat Mbak Lula masih ada ditempat, dia tampaknya merasa tidak enak hati mau bertanya padaku.

Mbak Tika menaruh buah dan roti yang dibawanya. Setelah itu duduk disampingku. Sebelum dia berkata, aku mendahuluinya berbicara, “Mimpi apa aku semalam dikunjungi tiga wanita cantik” Mbak Tika, Mbak Ina dan Mbak Lula tersenyum mencibir. Seolah berkata ,, dasar playboy, ada wanita cantik langsung keluar gombalnya ,,. Aku tidak mempedulikan cibiran tiga wanita didepanku, “Sebelum Mbak bercerita. Aku punya satu pertanyaan, siapa Mbak cantik yang satu ini” Tanyaku kepada mereka berdua.

“Oh ya, kenalkan Vin, ini Mbak Rani. Teman Mbak Ina tapi juga saudara Mbak” kata Mbak Tika. Dia mengulurkan tangannya, “Rani” katanya. Aku menyambut uluran tangannya “Gavin” sambil memandang wanita didepanku. Seorang wanita berumur sebaya dengan Mbak Ina dan Mbak Tika. Tinggi sekitar 160cm, berat proposional, berwajah cantik dan anggun, hidung mancung, bibir kecil merah merekah. Dan blazer merah ketatnya menampilkan lekuk tubuhnya yang sempurna.

“Aduuuh…” aku berteriak saat tangan Mbak Tika mencubit pinggangku. Aku segera melepaskan tangan Mbak Rani. “Kenapa sih Mbak ? Sakit tahu ” kataku sambil meringis.

“Tangan dan matamu ” gerutu Mbak Tika. Sementara yang lain hanya tertawa kecil.

“Bilang aja Mbak cemburu. Tenang saja Mbak, bagiku kalian semua cantik. Hehehe…” Mbak Tika bertambah manyun mendengarnya.

“Sudah ah Mbak becandanya, kita mulai bicara yang serius. Tadi Mbak Tika belum jawab, kapan dan sama siapa Mbak Datang. Terus sudah tiga Minggu aku disini Mbak kok baru datang ? Mbak Dita mana ? Yang terakhir kenapa Mbak bisa datang bersama Mbak Ina dan Mbak Rani ?

Author: 

Related Posts

Comments are closed.