Cerita Panas Jalan Kehidupanku – Part 2

Cerita Panas Jalan Kehidupanku – Part 2by on.Cerita Panas Jalan Kehidupanku – Part 2Jalan Kehidupanku – Part 2 BAB 02 ======= Berhubung aku tidak menguasai bahasa Indonesia, dan sebenarnya aku ingin menulis cerita ini menggunakan bahasa yang aku kuasai, yaitu bahasa Banjar. Tetapi aku yakin di antara pembaca yang budiman, kemungkinan cuman bisa mengerti 50% aja dengan bahasa tersebut. Jadi dari pada pembaca bingung, karena bahasa Banjar belum […]

tumblr_nzs60nCG8o1uulx4so7_1280 tumblr_nzs60nCG8o1uulx4so8_540Jalan Kehidupanku – Part 2

BAB 02
=======
Berhubung aku tidak menguasai bahasa Indonesia, dan sebenarnya aku ingin menulis cerita ini menggunakan bahasa yang aku kuasai, yaitu bahasa Banjar. Tetapi aku yakin di antara pembaca yang budiman, kemungkinan cuman bisa mengerti 50% aja dengan bahasa tersebut.
Jadi dari pada pembaca bingung, karena bahasa Banjar belum ada di Guugli Translit atau Kamus Bahasa Dunia. Jadi aku putuskan lebih baik aku yang berusaha belajar bahasa dan mencari kata yang mudah di pahami oleh para pembaca.
Oke yuk lanjut……..
~~~~~~~~~~~~~~~~~

Malam ini aku duduk santai di depan teras kamarku untuk melepaskan lelah dan melemas otot dan syaraf karena setelah hampir seharian bekerja. Oh iya, aku memang tinggal di rumahnya keluarga Pak Jaja, tetapi bukan di rumah utama, melain di rumah bekas kost-kost’an. Dulu beliau juga menerima supir yang mau kost, tapi sekarang udah tidak lagi. Rumah kostnya cuman ada 4 pintu, itu pun langsung kamar.
Dan aku mau sedikit ngejelasin, sebenarnya aku bukan sopir angkot yang bebas, harus curi-curi waktu dan kesempatan, maklum ane belum punya SIM
Dan kadang-kadang juga aku narik ojek dan pastinya juga make motor pinjaman punyanya Pak Jaja. Ya motor metic punya si Rina. Itu pun juga aku sering nanya jalan sama si penumpang. Heee…

Sambil duduk istirahat pake sarung dan baju kaos daleman warna hitam dan di temani teh manis serta rokok putih mariburu mintul, dan sambil menikmati hisapan demi hisapan rokokku. Tiba-tiba saja hadir sebuah gambaran kejadian yang akan terjadi di masa akan datang di gumpalan asap rokok yang aku hembuskan, dan gambaran tersebut hadir berkali-kali di setiap hebusan asap rokokku.
Akhirnya untuk meyakinkan gambaran tersebut aku pun segera masuk kedalam kamar dan duduk bersila diatas kasur dan memulai meditasi. Aku memejamkan mata dan menutup segala panca indra juga menarik nafas dalam-dalam dan menahannya. Aku pun mulai menyatukan segala rasa dan karsa yang ada didalam kehidupan. Sebenarnya jikalau aku sudah mampu menguasai dengan sempurna, tidak perlu aku melakukan itu, cukup mengejapkan mata saja sudah bisa. Tapi karena berhubung aku tidak mempunyai guru jadi pengalamanlah yang jadi guruku satu-satunya.
Setelah semua rasa dan karsa menyatu, aku melihat dengan jelas gambaran kajadian yang akan terjadi dimasa depan mulai hari esok, tetapi gambaran itu cuman menampakan kejadian selama 5 hari. Tapi itu pun sudah cukup bagiku untuk melindungi dan menolong orang-orang yang perlu di tolong. Sebenarnya aku tidak bisa merubah apa pun yang akan terjadi karena itu semua sudah di tentukan oleh Sang Penentu. Tetapi aku bisa merubah nasib orang-orang yang tidak bersalah, dan aku yakin Sang Maha Penentu tidak akan menyalahkanku, karena ilmu yang aku miliki adalah pemberiannya. Setelah semuanya jelas aku pun berhenti bermeditasi dan kembali ke masa sekarang. Seluruh badanku basah oleh keringat, ya maklum aku belum menguasinya dan bahkan baru beberapa kali aku melakukannya. Aku pun kemudian kembali ke teras setelah mengelap keringatku dengan handuk, takut ada yang liat dan menyangka yang tidak-tidak, maksudnya menyangka aku abis echm echm. Iya kalau benar, tapi kalau gak benarkan jadi gak lucu.

Aku pun kembali menyulut rokok kesukaanku dan menghirup sisa teh manis, untung aja gak ada semutnya. Hiii… Hiiii…..

—o0o—
Pagi harinya aku bangun pagi-pagi mempersiapkan diri untuk berusaha menolong orang yang akan mendapat musibah hari ini tapi cuman orang yang patut di tolong.

Sambil duduk di teras dan tidak lupa menikmati teh manis dan rokok, hari ini aku make kemeja hem warna hitam dan celana hitam agak longar, karena celanaku ini bukan celana pasaran tetapi pesanan di tukang jahit. Aku memang suka warna hitam dan hijau, jadi semua pakaianku berwarna itu.
Aku duduk menunggu Pak Jaja beserta istrinya Bu Halimah yang akan pergi ke RS Jiwa untuk menengok anaknya yaitu Rina. Walau pun mereka tidak memberitahu kepadaku tetapi aku sudah mengetahuinya karena aku sudah melihat tadi malam. Dan aku pun juga emang berniat ikut menjenguk Rina sekalian ingin tahu orangnya, ya walau pun aku sudah sering lihat foto-fotonya selagi sehat.

Setelah cukup lama aku menunggu, tapi tidak sambil nyanyi lagunya Ridho R.
Akhirnya ku lihat Pak Jaja serta istrinya keluar rumah dan siap-siap pergi, Bu Halimah mengunci pintu sedangkan Pak Jaja memanasin mesin mobil.
Aku pun menghampi mereka dan langsung berkata.
“mau pergi menengok Rina ya Pak?”sapaku.

Mereka tertegun mendengar pertanyaanku dengan wajah menunjukan kebingungan.
Setelah tertegun sejenak mereka berkata.
“I iya Sham!”jawab mereka hampir barengan. Dan masih di landa kebingungan, karena aku tau maksud tujuan mereka. Tetapi mereka pun tidak menanyakan dari mana aku tau.

“Iya Sham sudah hampir sebulan kami tidak menengok Rina.”kata Bu Halimah menjelaskan.

Aku pun memberanikan diri mengajukan ingin ikut.
“Pak, Bu saya boleh ikut gak menengok Rina?”tanyaku.

Sebentar mereka saling pandang seakan-akan bertanya dan menimbang, akhirnya Pak Jaja yang menjawab.
“Boleh Sham silahkan aja.”kata Pak Jaja dengan senyum ramah.

Kami pun masuk ke mobil dan aku duduk di depan di samping Pak Jaja yang nyetir, sebenarnya aku ingin menawarkan agar aku aja yang nyetir, tetapi aku gak mau ada masalah nantinya karena aku gak punya SIM. Walau pun sebenar aku bisa mengatasi itu semua dengan menggunakan ilmuku. Tetapi aku tidak ingin terlalu mengandalkannya, kecuali dalam keadaan terpaksa. Sedangkan Bu Halimah duduk di kursi belakang. Mobil pun berangkat ke arah RSJ, di dalam mobil aku bertanya awal mula kejadian yang menimpa Rina dan mengakibatkan Rina jadi mengalami gangguan jiwa. Ya walau aku bisa aja menggunakan ilmuku untuk melihat kejadian itu, tetapi seperti yang aku bilang tadi aku tidak mau sembarangan menggunakan itu.
Mereka pun menceritan bergantian tentang kejadian itu.
Seperti biasanya Rina pergi ke sekolah naik motor maticnya, waktu itu umur Rina 17th kelas 2 SMA. Setelah bel berbunyi tanda pulang, dia pun langsung menuju dimana motornya di parkir, tetapi ketika dia mau menyalakan motornya ternyata tidak mau nyala. Dia mencoba ngecek bensin dan daya aki masih ada, tetapi sudah di coba beberapa kali tetap tidak mau menyala.
Akhirnya dia memutuskan untuk mendorong motornya pulang dan akan mampir ke bengkel yang akan di laluinya.
Tetapi mungkin itu semua sudah kehendak takdir, rupanya ada 5 orang pemuda yang mengintai Rina dari tempat tersembunyi yang tidak jauh dari tempat parkir.
Setelah cukup sunyi, mereka langsung menyergap Rina dan di seret ke dalam gudang yang tepat di sampin tempat parkir. Pemuda-pemuda itu langsung menelanjangi Rina, mulutnya di sumpal dengan kaos kali salah satu dari pemuda itu, Rina mencoba berontak dan berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya dia cuman seorang perempuan dan dia cuman sendirian sedangkan mereka berlima. Rina hanya bisa melotot dengan hawa amarah yang tidak bisa untuk melampiaskan.
Nasib Rina memang masih beruntung dan mujur, di saat gawat dan genting sebelum kehormatannya di renggut, pintu gudang di dobrak orang, ternyata yang mendobrak itu adalah Pak Eko suami Ibu penjaga kantin sekaligus penjaga sekolah. Yang kebetulan mau mengunci pintu-pintu sekolah dan gerbang dan kebetulan lewat di depan gudang dan mendengar suara ribut yang mencurigakan. Sehingga aksi pemuda-pemuda itu gagal, mereka langsung kabur sedangkan Rina langsung di tolong oleh Pak Eko dan tubuhnya di tutupi dengan bajunya, kemudian Pak Eko memanggil istrinya untuk menenangkan Rina.
Akhirnya pemuda-pemuda itu di keluarkan dari sekolah, sedangkan Rina sejak kejadian itu tidak sekolah lagi dan dia selalu mengurung diri di kamar, dia selalu bengong dan kadang-kadang teriak-teriak dan menangis. Orang tuanya pun memanggil Psikiater, dokter spesialis yang memiliki
spesialisasi dalam diagnosis dan penanganan gangguan emosional kejiwaan. Dan akhirnya dokter tersebut menyarankan agar Rina sebaiknya di rawat di RSJ aja. Sejak saat itu lah Rina di rawat di RSJ sampe sekarang dan sudah 3th tetapi belum ada perubahan. Cuman apabila Rina ngamuk dan teriak-teriak para perawat akan menyuntikan obat penenang.

Akhirnya kami pun sampai di RSJ tanpa ada halangan di jalan.
Kami pun langsung masuk dan menunju ruangan dimana Rina di rawat. Setelah sampai di ruangan, aku melihat seorang gadis yang sebenarnya sangat cantik, wajahnya sedikit panjang alis hitam tebal mata indah, hidung cukup mancung bibir tipis sensual, dagu lancip di perindah oleh belahannya, serta di hiasi lesung pipi. Tetapi pandangan matanya kosong seperti orang melamun. Dia memakai baju pasien warna biru langit.Bahkan dia tidak bisa mengenali orang tuanya, Bu Halimah pun langsung memeluk anak semata wayangnya yang tidak memberi respon sedikit pun. Sedangkan Pak Jaja hanya bisa menghela nafas panjang dengan wajah kesedihan. Aku hanya bisa diam dan memandang. Tetapi aku diam bukan sekedar diam, melainkan aku mencoba masuk kedalam fikiran dan hati gadis cantik itu menggunakan kekuatanku. Karena aku yakin, dia tidak akan bisa sembuh ditempat itu.
Setelah cukup memakan waktu, aku bisa mengetahu penyebabnya. Rina memang depresi dan fikirannnya kosong akibat ketakutan yang berlebihan, sedangkan hatinya tidak bisa lagi mengendalikan fikiran. Di tambah lagi ada semacam kekuatan ghaib yang seperti memenjarakan sukmanya Rina. Tetapi aku diam saja tidak mau langsung memberitahukan hal tersebut kepada keluarga Pak Jaja. Aku menunggu waktu yang tepat. Sambil menunggu mereka aku melihat-liha sekeliling dan menemukan benda yang aneh dan aku bisa memastikan benda tersebut ada hubungannya dengan Rina. Ya benda itu……!

Author: 

Related Posts

Comments are closed.