Cerita Panas Rendezvous Tanpa Judul – Part 64

Cerita Panas Rendezvous Tanpa Judul – Part 64by on.Cerita Panas Rendezvous Tanpa Judul – Part 64Rendezvous Tanpa Judul – Part 64 —————- Previks Minor Angin laut segera terasa.. menerpa wajahku dari arah depan.. selaras laju kendaraan yang kukendarai.. Cahaya bulan peyang masih setia menyiram lanskap kelam malam itu.. aroma asinnya seketika menyerbu indra pencercap.. bibir dan lidahku. Hadeww.. bangsat juga si Naja. Mau ke mana aku mencari masing-masing sebungkus rokok..? […]

tumblr_nim1d3GVEB1tp6jmho5_500 tumblr_nim1d3GVEB1tp6jmho6_500Rendezvous Tanpa Judul – Part 64

—————-

Previks Minor

Angin laut segera terasa.. menerpa wajahku dari arah depan.. selaras laju kendaraan yang kukendarai..
Cahaya bulan peyang masih setia menyiram lanskap kelam malam itu.. aroma asinnya seketika menyerbu indra pencercap.. bibir dan lidahku.

Hadeww.. bangsat juga si Naja. Mau ke mana aku mencari masing-masing sebungkus rokok..?
Ke kota katanya.. !? Busett. 24 kilometer pulang-pergi.. !? Gila, apa.. !?
Sori aja, yaa..! Gerutuku dalam hati. Ya jelaslah aku ogah.

So.. super nyantai kulajukan saja vespa modif si Naja.. sedikit mengulur waktu.. melepas gondokku.
Aku yang dipaksa pamitan.. meski cuma sebentaran.. jadi berpikir-pikir dan menganalisis.. teringat senyum yang lebar di bibir si Naja.. lalu.. Yuk Tari yang menyertainya mengantar ke teras rumah-villanya ketika aku pamitan akan beli rokok tadi.. atau si Naja yang ga lepas memperhatikan gundukan jumbo di dada Yuk Tari.

Keluar melintasi jalan di tepian pantai.. masih menyisakan beberapa pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih.. entah di atas motor atau mobil.. yang sesekali bergoyang di sudut jalan yang sepi dan gelap..

Aha..! Ga perlu jadi jenius untuk sekedar menerka apa yang terjadi di dalam mobil goyang tersebut, kan..? Hehe..

Ga terlalu jauh aku meluncur di sepanjang jalan beraspal di tepian pantai.. menikmati desau angin menampari pucuk-pucuk cemara.. yang berjajar rapi di kiri-kanan jalan.. romantis, sih.
Tapi.. jika bersama seseorang spesial.. beugh.

Setelah mendapatkan masing-masing sebungkus rokokku dan kretek si Naja.. yang kubeli di gerobak pedagang kakilima yang masih buka.. dekat simpang tiga.. gerbang masuk pantai.. aku kembali ke pantai searah rumah Yuk Tari.. ga perlu keliling-keliling lebih jauh.. atau ke kota seperti usulan konyol si Naja..

Selintas pikir.. apa aku kembali nongkrong di tepi pantai.. menikmati malam terang dan desau angin laut lagi.. sembari ngudut, ya..?
Tapi.. apa enaknya sendirian gitu..? pikirku senewen sendiri.

Hehe.. rupanya otak mesumku lebih menyarankan agar aku mengintip aktivitas pasangan unik yang sedang dilanda asmara.. melihat dan menyaksikan dengan mata dan kepalaku.. apa yang terjadi selanjutnya antara pasangan unik itu.

So.. ga pikir panjang-panjang lagi.. kuputuskan untuk segera kembali ke rumah-villa Yuk Tari.
Menebak-tebak.. menduga-duga.. lantas merancang-rancang angan dalam imajinasi mesumku sendiri.. mengenai apa yang sedang dilakukan sejoli unik tersebut. Hehe..

Perlahan kudorong vespa modifan si Naja memasuki halaman rumah-villa Yuk Tari.
Dari luar gerbang villa.. mesin vespa modif si Naja kumatikan.. kulihat teras villa itu telah kosong.. menandakan bahwa sepasang sejoli itu telah memasuki ruang dalam rumah.

Busett.. pintunya ga dikunci..!? Dasar .. dumelku dalam hati.. menyumpahi sepasang mahluk yang tengah didera asmara.. kog malah jadinya ga konsen dan berhati-hati pada lingkungan, sih.

Perlahan kututup rapat daun pintu yang tadinya menyisakan lebar beberapa inchi itu.. aku pun masuk ke dalam rumah villa.
Ga kayak maling loh.. aku ga pake mengendap-endap masuk ke rumah-villa besar itu.

Baru kusadari.. bahwa rumah-villa Yuk Tari ini bentuknya seperti huruf L terbalik.
Jika dilihat dari depan atau masuk dari pintu depan.. kita ga akan dapat melihat tikungan serta koridor dan sebuah tangga kecil menuju ke lantai atas.. yang terdapat 2 kamar lagi.. dengan satu kamar yang terletak di ujung kaki.. tepat menghadap ke arah pantai.. dan samudra.

Nah.. antara kamar-kamar di lantai bawah dengan kamar di lantai atas terpisahkan oleh taman kecil dan kolam ikan yang cukup lebar.. sekitar 2 x 4 meter-anlah.

Sedangkan di lantai bawah sana terdapat 5 buah kamar. 3 kamar terletak berderet di tubuh huruf L.
Sedangkan 2 kamar lagi terletak di kaki huruf L terbalik. Salahsatunya menghadap ke arah samudra.

Tampak 2 kamar di lantar atas dari seberang taman kecil kelihatan gelap.. karena lampunya dimatikan.
Oh iya.. mereka kan sedang pergi ke kota.. Bengkulu Pikirku saat itu.. teringat apa yang tadi Yuk Tari sampaikan.

Aku lalu mulai memeriksai kamar-kamar yang ada di lantai bawah rumah-villa Yuk Tari..
Kamar tamu di depan jelas kosong.. lengang.
Lantas beralih ke 2 kamar di sebelah-sebelahnya.. juga kosong.
Tidak kutemukan keberadaan kedua sejoli unik itu. Mereka ga ada di sana.

Eh.. kan masih ada satu bagian lagi yang belum kulihat.. dua kamar di ujung rumah villa yang menyerupai huruf L terbalik dengan jendelanya menghadap ke arah pantai dan samudra.

Apa mungkin itu kamarnya Yuk Tari..? .. Atau ntar malah kamar pembantu, ya..? Analisisku berlanjut.

Ga mau buru-buru.. namun sedikit bernafsu.. aku lantas melangkah menuju ke arah 2 kamar yang berada di ujung dalam lekukan huruf L tersebut.. di mana kulihat salahsatu pintu kamar paling ujung itu sedikit terbuka.. dan meskipun agak remang terlihat dari posisiku saat itu.. ada cahaya lampu yang menyala.

Aku bergerak perlahan-lahan.. menaiki tangga kecil di belakang ruang serupa gudang kecil yang menuju kamar di lantai atas sudut rumah villa itu.

Perlahan aku menaiki tangga itu. Pada undakan anak tangga keenam.. di mana aku sedikit bisa mengintip dari kisi-kisi ventilasi udara.. aku mulai menangkap ada bunyi musik dan suara-suara..
Yah.. itu suara tawa kegelian Yuk Tari.

Menghentikan di anak tangga.. dengan seksama kudengarkan sumber bunyi musik yang lembut dan suara cekikik itu.. pintu tertutup.. sehingga musik itu hanya lamat kudengar dari posisiku ketika itu.

Hehe.. kira-kira taulah apa yang menyebabkan Yuk Tari cekikikan..?
Dan di sela timpaan bunyi alunan musik lembut.. kudengar lagi suara lelaki mendengus berat..
Iya.. ga salah lagi.. itu pasti suara cempreng si Naja yang sudah berubah kayak mobil pecah mesin.

Waah.. ketinggalan ronde.. nih.. batinku heboh.. dan mulai horni sendiri.. membayangkan si Naja sedang menggumuli dan ngancitin Yuk Tari. Hehe..

Dan kali ini senyumku kembali tersungging.. sebab baru beberapa langkah menuju kamar itu.. aku melihat sesuatu yang tadi dikenakan si Naja dan Yuk Tari.. tergeletak begitu saja di depan pintu.. yang ternyata juga ga benar-benar bisa terkatup rapat..

Dua pasang sandal.. pria dan wanita. Haha..

Beberapa langkah setelah itu aku pun melihat celana dalam berwarna krem.. yang tadinya mungkin juga dipakai Yuk Tari.. hihi..
Soalnya.. ukuran pinggang celana dalam tersebut lumayan gede untuk ukuran 3 gadis yang bertamu dan menginap di rumah villa itu.

Celana dalam itu dalam posisi terselip di lantai.. jadi seperti pengganjal antara daun pintu dengan kosennya.

Wahh.. Jangan-jangan si Naja sudah mulai melantak Yuk Tari nih..!? Gumamku lagi dalam hati.. kian tak sabar.

Hati-hati.. agar tak menimbulkan bunyi mencurigakan hingga akan menghentikan aktivitas di dalam kamar itu.. aku menuruni anak tangga.. bergerak ke halaman samping yang menghadap pantai.. di mana terletak jendela kaca cukup besar..

Berbekal cahaya benderang bulan peyang hampir purnama.. yang kini tegak lurus di atas ubun-ubun.. aku berusaha mencari celah yang mengeluarkan bias cahaya lampu dari dalam kamar tersebut.. sebab untuk mengintip dari kisi-kisi ventilasi udara terlalu tinggi letaknya.. tentu saja repot dan menyulitkan.

So.. akhirnya berhasil juga aku menemukan sebuah celah yang membias cahaya lampu dari dalam kamar..
Ketika kuintip dari celah gorden yang sedikit terbuka di ujungnya itu.. aku masih tak dapat melihat apa-apa..

Damn.. mana bisa aku membuat atau mendorong gorden itu lebih lebar lagi.. agar aku dapat melihat apa yang ada dalam kamar itu..!
Mengintip apa yang mereka lakukan di dalam sana.

Namun.. iblis mesum ternyata memang sedang berbaik hati.. dengan sukacitanya ia membantu niat mesumku.. caranya.. mengirimkan bala bantuannya.. berupa hembusan angin laut nan kencang melalui kisi-kisi ventilasi.. dus.. mengakibatkan gorden di dalam kamar tersebut berkibaran beberapakali tertembung hempasannya..

Dan.. dari beberapakali hembusan.. menciptakan dan membukakan celah pada kain gorden yang tak tertutup rapat di sisi-sisi jendela bagian dalam kamar itu.

Yess..! teriakku senang.. dalam hati.. akhirnya.. hehe.

Hati-hati.. dengan perlahan aku mulai mengintip aksi kedua sejoli dari sisi kaca jendela.. di ujung sisi dinding jendela sebelah kanan..

Apa yang kulihat di dalam kamar sana..
Jiahaha..! Beneran deh.. pemandangan yang kusaksikan memang bisa bikin heboh.. kalo ketahuan warga.. alias orang-orang kampung sana.

Aku benar-benar langsung terkonak-konak ketika aku berhasil melihat ke dalam kamar itu..!?

Ketika itu Yuk Tari memang belum bertelanjang bulat..
Ia saat itu sedang berdiri di sisi Naja.. perlahan Yuk Tari menanggalkan dasternya.. setelah itu.. dengan sama perlahannya ia menanggalkan beha.. menampakkan seluruh ketelanjangan tubuhnya yang sudah non celana dalam. Hihi..

Hehe.. berarti benar deh.. celana dalam yang mengganjal di pintu kamar itu memang milik Yuk Tari..

Agak tertutup cahaya lampu.. kulihat Yuk Tari mendekap tubuh si Naja yang masih bersimpuh.. menatap setiap gerakan dirinya.. dibenamkannya wajah Naja ke perutnya.

Si Naja membalas dekapan si janda bahenol kekasihnya dengan sama hangatnya.. bahkan tangannya seolah ga sengaja mencengkeram bokong.. belahan pantat si janda super montok.

Dikecupnya perut telanjang sang janda super montok kekasihnya itu.. dibelainya pangkal paha bagian belakang dan menyentuh menikmati hangatnya daging montok di sana.

Dengan sabar kedua tangannya membelai sekujur paha telanjang sang pacar.. memaksanya mendesah dan mendekap semakin erat.

Nahh.. karena SiKonTol PanJang.. alias Sitiasu Kondisi Toleransi Pantauan dan Jangkauan pendengaranku ga mampu terlalu clear memonitor suara-suara erotis yang mereka ciptakan..

Maka.. dialog-dialog di bawah ini dan seterusnya.. adalah murni interpretasi seadanya.. sekedarnya.. dari jangkauan visualku membaca gerak bibir dan bahasa tubuh kedua insan yang sedang diamuk birahi di ruang kamar itu..!

Yuk Tari yang bugil.. alias telanjang bulat.. telah bergerak untuk terlentang di atas kasur.
Sedangkan Si Naja masih mengenakan kolornya.. namun nampaknya kolor bermerek buaya yang dikenakannya itu seolah ga mampu lagi menampung isinya yang telah melar.. bahkan bonggolan helmnya telah melewati karet kolor.. mengintip.. tegang.

Sementara itu.. Yuk Tari mulai berposisi sedikit mengangkang.. pahanya yang besar gempal memperlihatkan belahan cipetnya yang merah kecoklatan.

Yuk Tari tidak berusaha menutupi tubuhnya.. malah dengan lagak kuda Nil betina.. membiarkan mata si Naja itu melotot.. melahap tubuh bugilnya yang kuning mengkilap bak pualam.. masih mulus dan terawat rupanya. Asyemm..

Ia pun sepertinya dengan sengaja.. pelan-pelan merentangkan kedua tungkai gempal pahanya di hadapan kambing mudanya.. si Naja.

Dengan lagak segenitnya Ia membuka-menutup kedua batang pahanya.. seperti mengipasi hasrat sang kambing jantan untuk segera menandaknya..

Waduhh.. Sialan..!
Dengan posisi seperti begitu aku jadi ga dapat melihat wajah si Naja..
karena posisi badannya yang berperawakan tinggi kekar hitam itu membelakangi posisi intaiku.

Si Naja tengah asyik menciumi buah dada Yuk Tari yang putih dan super montok itu..
Well.. jelas saja aku berdebar-debar menyaksikan semua pemandangan sedemikian erotisnya..

Ga bisa kupungkiri.. bagaimanapun juga si prajurit segera merespon reaktif.. akibat mendapat Surat Perintah Mbalelo dari mata yang mengirim sinyal mesum ke otakku .. meskipun sebenarnya Yuk Tari bertubuh super montok dan tinggi besar.. profil seperti perempuan India.. namun berkulit putih bersih.. tetapi wajah bertampang oriental itu bukanlah seleraku.

Apa yang kulihat saat ini membuktikan.. kalau tebakanku atas selera si Naja pada Yuk Tari, tidak keliru..
Yuk Tari benar-benar mulus.. meskipun perutnya agak gendutan maklum sih, udah punya 2 putri.. dan pinggangnya lebar.. tetapi bulu kemaluan, alias jembutnya.. amit-amit.. lebat banget..

Beugh. Sebaran bulu-bulu kemaluan di selangkangannya itu bahkan sampai menutupi cipetnya.. hingga mencapai pusarnya.. belum lagi yang di ketiaknya.. wuahh.. rimbun juga ternyata.

Ayayay.. betul-betul selera si Naja..!? Dan bener-bener bukan seleraku. Haha..

Si Naja itu dengan telaten menciumi buah dada Yuk Tari serta meremas-remasnya dengan kalem sekali..

Dari posisiku.. kulihat lidahnya menjulur-julur menjilati puting susu Yuk Tari dan terus bergerak ke bawah sampai ke pusar Yuk Tari..

Di antara bunyi deburan ombak yang menembusi telingaku.. samar kudengar erangan Yuk Tari..
Ya.. pastinya.. Ia merasa keenakan dengan rangsangan yang diberikan oleh si Naja.. kambing muda temanku itu.

Sepertinya Yuk Tari sudah ga mampu menahan dirinya lagi..
Jaa.. enak.. Jaa..hhh.. mmm.. hingga Ia mendesiskan erangan nikmatnya.. lepas.

Agak lega mungkin.. dirinya.. mengakui rasa nikmat. Terlihat Yuk Tari semakin rileks.
Dijatuhkannya dirinya ke tempat tidur.. dengan kedua tungkai kaki menjuntai di tepian tempat tidur besarnya Ia terpaksa bergerak beringsut.. mundur-mundur hingga ke tengah ranjang.. respons akibat deraan nikmat yang diberikan si Naja pada salahsatu pusat kenikmatan di tubuh perempuannya.

Hehe.. dalam hati harus kuakui dan kukagumi ketelatenan si Naja itu..
Ia benar-benar kalem .. karenanya.. semua gerakan yang dia lakukan serba tenang itu.. pastilah dengan intens memancing.. dan membuat Yuk Tari jadi makin bernafsu.

Ketika ciuman si Naja mencapai bagian selangkangan Yuk Tari.. kudengar Yuk Tari merintih agak keras..
rupanya si Naja mulai menjilati cipet Yuk Tari yang sudah merekah penuh dengan cairan.
Jilatannya itu.. sungguh membuat aku terkagum-kagum.. sumpah deh.

Jiahaha.. boleh juga kambing muda satu ini.. tenang dan santai banget dia.. ga sedikitpun terlihat buru-buru..

Setelah itu Naja mengangkat kedua kaki Yuk Tari tinggi-tinggi.. sehingga kemaluan Yuk Tari meski ga lama terlihat olehku yang rada tembem.. jadi terangkat ke atas.. kemudian si Naja mengambil bantal.. lalu mengganjalnya di bawah pantat Yuk Tari.

Dengan posisi seperti itu kembali ia menjilati belahan cipet Yuk Tari.. sampai ke lubang dubur Yuk Tari..!
Yuk Tari kulihat hanya bisa menggerak-gerakkan pantatnya saja.. rupanya ia benar-benar kegelian oleh service yang diberikan oleh si Naja itu.

Mendadak.. terlihat Yuk Tari berusaha untuk bangkit..
Si Naja pun lantas mencondongkan tubuh bagian atasnya.. mendekati Yuk Tari.. yang kemudian seperti membisikkan sesuatu ke telinga si kambing muda.

Beberapa jenak si Naja mendengar.. memperhatikan apa yang dibisikkan Yuk Tari.. kali ini posisi wajahnya jadi agak menyamping.. dapat kulihat Ia lantas tersenyum.. setelah itu Ia mulai memelorotkan pakaian terakhirnya.. kolor bermerek buaya..! Haha..

Posisi Yuk Tari kini setengah bersandar.. Ia lantas menyeret wajah Naja terbenam di gundukan bukit yang dihiasi lebatnya bulu pepohonan.. seolah mengharapkan daerah pangkal pahanya untuk kembali dikecup.. dirambah rimbanya.

Naja tidak menyia-nyiakan undangan ini. Dia mulai melanjutkan aksinya..
Sambil tetap bersimpuh.. direnggangkannya kedua paha, mengangkang.

Tubuhnya bergerak.. masuk ke dalam kangkangan paha sang pacar.. si janda super montok.. memudahkan dirinya untuk mulai melakukan pembantaian.

Lidahnya mulai menjelajahi sekujur paha kiri bagian dalam.. mulai dari lutut naik ke atas.. menyentuh pangkal paha.. berbalik turun.. berulang-ulang.

Tangan kanannya memegang lutut agar tetap mengangkang lebar.
Tangan kirinya mulai buas, meremas paha kanan.. sesekali menggaruknya.

Oughhh.. Yuk Tari tersentak.. setiapkali lidah itu menghampiri pangkal pahanya.

Berkali-kali Ia tersentak dan melenguh.. didera nikmat.
Sedangkan si Naja kulihat berdisiplin.. Ia hanya menjarah area di luar liang kewanitaan Yuk Tari.

Aku yakin.. kian lama deraan nikmat semakin pasti akan membakar diri Yuk Tari..
Benar saja.. aku lantas melihat Yuk Tari seperti menguatkan diri.. mencengkeram rambut si Naja dengan kedua tangannya.. lalu dengan gemas Ia membenamkan wajah si kambing muda itu agar menyentuh daerah kewanitaannya lebih dalam.. lebih intens.

Kepala si kambing muda temanku itu ditahannya.. untuk tidak lagi pergi ke mana-mana.. seolah berkata.. cukup sudah kau merantau.. hehe..

Hehe.. jelas saja si Naja menyambutnya dengan serangan berat.. lidahnya mulai membajak bibir kemaluan sang kekasih.. menjilat dan menghisapinya dengan rakus.

Arghh.. Naja.. Pekik nikmat nan gemas terlontar dari mulutnya.

Enak..? Apa sakit Yukk..? Naja mendadak menghentikan serangannya dengan wajah khawatir dan bibir berlepotan.

Ohhh.. ngga.. ngga sakit. Enak kog.. terusin Jaa..hhh.. Imbau Yuk Tari cepat.. tak ingin nikmat itu terputus tiba-tiba.

Naja kembali menyerang dengan lidah kasarnya.. membajak sisi dalam bibir kewanitaan Yuk Tari.. membuat pinggul janda montok itu meronta menerima deraan nikmat.

Beberapa menit berselang.. akhirnya Yuk Tari terpaksa mulai membiarkan.. tubuhnya menggelinjang setiap didera kenikmatan ragawi pada tubuhnya.. yang lama merindukan belaian lelaki.

Ohhh.. sayang.. oughhh.. Rintih dan erangnya kian ramai.. berceloteh.. meluapkan segala rasa nikmat.

Sedikit-demi sedikit Yuk Tari menyadari.. semakin ia merespon, reaksi deraan nikmatnya semakin berlipat.

Nafas Yuk Tari sudah terengah-engah ga karuan.. pinggulnya sudah bergejolak tak terkendali.. dan dengan cepat birahinya menjelang puncak pendakian.

Naja dengan sigap mengimbanginya dengan mulai menjulurkan lidahnya dalam-dalam ke liang kewanitaan si janda bahenol kekasihnya.. menitinya menuju sebuah titik yang diharapkan sang kekasih.

Shhh.. shhh.. shhh.. Yuk Tari mengeluh tak kuat menahan siksa birahi..

Setiap lidah kasar itu menyeruak rongga kewanitaannya.. kekasaran lidah itu menimbulkan efek ganda yang tak terhanankan.

Naja terpaksa mulai menahan kelojotan pinggul Yuk Tari yang semakin kuat tak terkendali.
Sepertinya si Naja telah hapal tanda itu.. sang pacar jandanya mulai menjelang tiba di puncak ekstase.
Segera diangkatnya kedua paha sang pacar.. ke atas bahunya.. membuat pinggul itu terangkat ke atas dengan tubuh Yuk Tari selonjor di pembaringan.

Punggungnya tertekuk.. bertumpu dengan sikunya yang beberapakali harus terjajar rubuh ke keempukan kasur.. kini hanya atas pinggulnya yang masih menumpu di kasur.
Berat badannya menumpang di bahu si Naja. Yuk Tari mencari-cari pegangan di atas.. di kiri.. di kanan kepalanya.. tubuhnya. Tak tertemu.

Naja menarik nafas dalam-dalam.. sepertinya Ia mulai menyiapkan diri.. untuk melakukan pembantaian..!
Lidahnya mencari klit.. dihajarnya seperti orang menjilat es krim.. dengan jilatan panjang dan bertenaga, berulang-ulang

Aghhh..! Tubuh Yuk Tari menggelepar-gelepar dihajar nikmat yang menderanya.
Namun pinggulnya sulit menggelepar.. Ia hanya mampu mengejang kuat.. pahanya hanya mampu dijepitkan kuat-kuat pada leher si Naja.

Nggggggg.. hhhhh..! Yuk Tari meledak.. saat Naja semakin cepat menjilati klitnya.
Seluruh tubuhnya mengejang keras.. dihajar puncak kenikmatan.. ekstasenya.

Tangan Yuk Tari mencengkeram keras sprai yang mampu ia cengkram.. menahan ledakan yang merasuki seluruh tubuhnya.. pahanya menjepit dahsyat leher si Naja.

Dengan lihai, Naja semakin buas melakukan pembantaian .. lidahnya dicucukkan sedalam-dalamnya ke liang kewanitaan sang janda montok.. perlahan tetapi kuat menekan dinding-dinding kewanitaan sang kekasih.

Lidahnya merasakan betapa panasnya liang itu.. walaupun dibanjiri cairan kewanitaan yang sedari tadi sudah luber ke mana-mana.

Yuk Tari sepertinya sudah di awang-awang.. sebab Ia sudah ga menyadari.. tubuhnya kelojotan ke sisi kiri.. bak pegulat yang hendak membanting musuhnya dengan jepitan di leher.. mengejang kuat.

Dapat kulihat.. meski dari samping saja.. Si Naja laksana seorang gladiator menyaksikan tewasnya sang lawan..
Tetapi sekarang ini adalah kepuasan seorang laki-laki.. yang telah menuntun dan memberikan puncak nikmat pada wanita yang ia kasihi.. yang ia cintai.. yang tertakluk di ujung lidahnya. Hehe..

Dengan perlahan namun penuh tenaga lidah itu terus mengayuhkan birahi si wanita agar tetap di puncak nikmatnya.

Entah berapa lama berselang.. tubuh Yuk Tari melemas dan lunglai tak berdaya, tersengal-sengal.
Ohhh Naja, enak sekali sayang.. hhh sudah.. sudah.. Makasih sayang..
Yuk Tari ga menahan luapan kebahagiaannya .. dinyatakannya kepuasannya secara terbuka dan mesra pada si kambing muda kekasihnya itu.

Iya Yuk.. balas Naja sembari beringsut.. menurunkan kedua paha gempal telanjang itu dari bahunya.. membuat si janda montok kekasihnya itu terlonjor lemas di atas pembaringan.. terlentang lemas di tepi tempat tidur.
Pelan si Naja bergerak.. naik ke atas tempat tidur.. duduk bersimpuh di sisi Yuk Tari.

Naja.. mmphhh.. Yuk Tari mengecup bibirnya dengan penuh kasih-sayang.. seolah Ia berterimakasih karena telah dituntun sekian lama merasakan deraan nikmat.. yang mungkin saja udah lama pula ga Ia dapatkan.

Setelah sekian lama dalam keheningan.. Yuk Tari berhasil meredakan nafasnya..
Jaa.. tadi Ayuk sudah puas sekali.. enak.. banget. Ayuk ga nyangka deh.. Kog kamu makin pintar, ya..?

Itulah salahsatu trik memuaskan cunning.. atawa nyiumin cipet perempuan..
Emang sih.. kalo dengerin cerita doang paling gampang.. cuma cium dan jilat.. katanya.. sih..
Nahh.. pas ketiban praktiknya yang rada berat.. ya ga..? Haha..

Author: 

Related Posts

Comments are closed.